Didemo Warga, Aktivitas Pabrik Gas Berhenti

0
205
Pabrik pengkelan gas tertutup rapat tanpa terlihat aktivitas di Dusun Possumur, Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi.

WONGSOREJO – Suasana pabrik perbengkelan gas tampak sepi di Dusun Possumur, Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, pagi kemarin (27/5). Setelah sehari sebelumnya di demo warga sekitar, pagar pabrik tersebut tampak tertutup rapat kemarin.

Hasil pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi kemarin, segel warna merah yang dipasang oleh Satpol PP tampak terpampang di tembok pabrik pagi kemarin. Sedangkan di dalam pabrik perbengkelan gas itu terlihat lengang. Sama sekali tidak terlihat kegiatan sejak aksi demo warga yang berlangsung jumat siang lalu (265).

Lokasi pabrik yang berada di daerah permukiman padat penduduk itu memang berimpitan dengan rumah warga. Karena itu, warga sekitar menolak segala bentuk aktivitas pabrik yang proses pembangunannya sudah mencapai 70 persen tersebut.

Hingga kemarin, warga lingkungan Dusun Possumur, Desa Hendak, mengaku bisa bernapas lega. Karena kegiatan yang ada di dalam pabrik sekarang sepi total. Suasana Desa Bengkak juga sudah kondusif hingga siang kemarin. Warga tampak menjalani aktivitas seperti biasanya.

Salah satu warga, Kunawi, 55, mengatakan, bahwa pabrik tidak melakukan aktivitas lagi. “Sejak kemarin siang, setelah didemo warga, pabrik sepi dan tidak terdengar suara mesin lagi,” ujar lelaki yang tinggal di RT 01, RW 01, Dusun Possumur, Desa Bengkak, Kecamatan Wongsorejo tersebut.

Sementara itu, PT. Garuda Berlian Kencana yang bergerak di bidang pupuk organik juga tampak tidak melakukan kegiatan. Pintu gerbang pabrik tampak terkunci rapat dengan gembok besi.

Sebelumnya, sempat berlangsung mediasi di kantor Desa Bengkak antara Forpimka, warga desa, serta Perwakilan PT Garuda Berlian Kencana. “Masih belum ada berkas dan laporan dari pabrik terkait demo warga yang terjadi di Desa Bengkak kemarin itu. Suasana masih aman terkendali untuk sekarang ini,” papar petugas Polsek Wongsorejo, Aiptu Arif Abdul R kemarin (27/5).

Seperti diberitakan sebelumnya, warga Dusun Possumur mendatangi pabrik perbengkelan gas di desa setempat. Mereka memprotes keberadaan pabrik tersebut  karena menimbulkan suara bising.

Warga juga menggalang tanda tangan penolakan beroperasinya pabrik yang berlokasi di sebelah barat jalan raya tersebut.  Bukan hanya menolak pabrik perbengkelan gas, warga juga menyoal limbah pabrik pupuk organik yang dikelola PT. Garuda Berlian Kencana.

Loading...

Dua pabrik tersebut (pupuk organik dan gas elpiji) berada di satu lokasi dengan owner yang sama. Selama di lokasi, warga minta aktivitas di sekitar pabrik dihentikan. Aksi warga kemarin membuat kalang-kabut pekerja pabrik.

Melihat kedatangan warga, sejumlah pekerja langsung ngacir meninggalkan pabrik. Bahkan, salah seorang pekerja kabur dengan cara memanjat tembok. Mesin eksavator yang sedang beroperasi juga berhenti.

Warga baru berhenti melakukan aksi penolakan setelah rombongan pejabat Forpimka Wongsorejo datang. Perwakilan warga akhirnya diajak dialog di kantor Kepala Desa Bengkak. Dalam dialog itu juga dihadiri perwakilan dari PT Garuda Berlian Kencana, Kurniadi. Dari pihak warga diwakili Mufid Arfan, 32.

Kades Bengkak Lutfi Efendi juga datang. Tak ketinggalan Camat Wongsorejo Sulistyawati, Kapolsek Iptu Kusmin, dan Kasatpol PP Banyuwangi Edi Supriyono juiga hadir di tengah-tengah warga.

“Sebenarnya sudah lama warga menolak didirikannya pabrik tersebut. Terhitung mulai tahun 2014 lalu. Penolakan tidak mendapatkan respons  aparat berwenang. Baru dua minggu lalu pabrik ini disegel karena tidak ada izin SIUP, HO, dan amdal, dan IMBI,” ujar Mufid Arfan, perwakilan warga.

Menurut Mufid, penutupan tersebut dilakukan Satpol PP setelah sebelumnya warga mengirirnkan surat permohonan penghentian segala aktivitas di area pabrik. Warga mengecam dan memboikot berdirinya pabrik karena menganggu lingkungan.

“Aktivitas yang dilakukan oleh PT. Garuda Berlian Kencana yang bergerak di bidang pupuk organik yang telah menimbulkan polusi suara (bising), udara, air, serta limbah berupa cairan yang berbau tidak sedap,” ungkap Mufid.

Pernyataan Mufid dibenarkan warga lainnya. Sujono yang dekat pabrik mengungkapkan, kehadiran pabrik perbengkelan gas dan pupuk organik benar-benar menganggu. “Pabrik tersebut harus ditutup karena menganggu warga,” pinta Sujono dibenarkan warga lainnya.

Di tengah aksi penolakan saat itu, Kasatpol PP Edi Supriyono sempat memenangkan warga. Pejabat berkumis tebal itu meminta warga tidak anarkis. “Tenang, jangan melakukan perusakan. Pabrik sudah kami beri segel karena tidak memiliki izin pendirian bangunan,” ujarnya.

Camat Sulistyawati juga merespons aksi warga. Pihaknya akan mengambil jalan tengah terkait aksi penolakan pabrik tersebut. Camat juga meminta warga tidak bikin keributan. Warga pun mendengarkan apa yang diperintahkan Camat.

Tak seberapa lama, Kapolsek Iptu Kusmin datang. Mediasi pun dilakukan antara kedua belah pihak. Kusmin mengajak perwakilan warga serta memanggil perwakilan pekerja PT. Garuda Berlian Kencana.

Sugianto selaku penanggung jawab Garuda Berlian Kencana tidak bisa hadir dan diwakilkan Kurniadi, 55. Mediasi berjalan dengan tertib dan lancar. “Kami hanya bekerja melakukan perintah kerja. Jadi kami tidak tahu untuk izin dan lainnya itu,” kata Kurniadi.

Setelah sama-sama bisa menerima, mediasi pun berakhir. Kapolsek Iptu Kusmin meminta warga tidak berkumpul di depan pabrik agar tidak menyebabkan kerusuhan. “Mediasi sudah selesai. Sekarang silakan pulang ke rumah masing-masing,” pinta mantan Kaurbinops Satnarkoba Polres Banyuwangi itu.

Kasatpol PP Edi Supriyono menambahkan, pabrik tersebut memang belum mengantongi izin dari kantor perizinan. Karena itu pabrik disegel berdasarkan Perda No.14 Tahun 2011 tentang retribu izin tertentu. “Sekarang tidak boleh melakukan aktivitas apapun di dalam pabrik,” tegasnya. (radar)

loading...