Dikira Gempa Bumi, Warga Berlarian Selamatkan Diri

0
290
KORBAN IPAL: Cikrak memeragakan saat dirinya terjatuh dari tempat tidur.

Imbas pemasangan tiang pancang proyek pembangunan IPAL Terpadu di Dusun Tratas, Desa Kedungringin, Kecamatan Muncar, masih menyisakan trauma mendalam bagi warga setempat.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

LOKASI proyek IPAL Terpadu itu merupakan kawasan padat penduduk. Bayangkan saja, satu RT terdiri atas 60 kepala keluarga (KK). Itu tidak sebanding dengan luas wilayah yang terbilang cukup kecil. Akibatnya, mayoritas warga setempat tidak mempunyai halaman yang cukup luas.

Dengan kondisi seperti itu, permukiman warga itu layak dianggap sebagai kawasan padat seperti halnya kota. Warga pesisir itu pun cukup kompak. Kekompakan terlihat saat melakukan protes pembangunan IPAL Terpadu yang dibangun di kawasan tersebut.

Hingga kemarin, warga masih membicarakan guncangan seperti gempa yang menghebohkan itu. Sampai saat ini musibah tersebut masih menyisakan keresahan. Lebih dari itu, warga mengaku sangat trauma atas insiden tersebut. Seperti yang diungkapkan Naning Mardiana, salah seorang warga Tratas kepada koran ini kemarin.

Begitu mengingat kejadian Kamis malam (18/10) itu, Naning tak kuasa menahan tangis. Getaran keras mesin pemasang tiang pancang itu menyebabkan rumahnya seakan hendak rontok. ‘’Getarannya kuat sekali. Bukan hanya saya saja yang keluar, semua orang juga keluar rumah,” ungkap ibu beranak satu itu.

Pikirannya pun langsung tertuju ke pembangunan proyek IPAL persis di dekat musala itu. Di mata warga, sudah seharian pemasangan tiang pancang itu berjalan Menurut mereka, warga banyak dirugikan dengan pembangunan IPAL tersebut.

Tak seberapa lama, warga pun ramai-ramai melabrak pelaksana pembangunan IPAL Terpadu yang menghabiskan anggaran Rp 10 miliar tersebut. “Warga minta pe masangan tiang pancang itu dihentikan,’’ ucap perempuan yang sedang hamil tersebut. Beruntung, saat kejadian, bapaknya yang se dang jatuh sakit tidak ada di rumah.

Jika waktu itu ada di rumah, bukan tidak mungkin bapaknya yang bernama Sujono itu akan tambah parah. ‘’Kalau bapak saya pas ada di rumah, nggak tahu gimana jadinya,’’ kata Naning sambil menyebut bahwa bapaknya sedang menjalani perawatan di rumah sakit di Malang.

Dia juga menjelaskan, ibu kandungnya juga menjadi korban guncangan tersebut. Sebab, sehari pasca insiden tiang pancang itu, ibunya terpaksa menjalani perawatan lan taran kaget. ‘’Ibu saya langsung check up di rumah sakit Al-Huda, Kecamatan Gambiran,’’ terangnya.

Keluarganya benar-benar trauma atas kejadian tersebut. Dia berharap petaka itu tidak terulang lagi. Karena itu, Naning dan warga lain berharap pembangunan proyek tersebut dihentikan. ‘’Gimana nggak trauma, Mas, kejadiannya seperti itu. Saya nggak mau rumah saya roboh. Ini rumah saya paling banyak retak daripada rumah lain,’’ ungkap Naning.

Cikrak, warga lain mengatakan, musibah itu berlangsung cepat. Gara-gara kejadianitu, Cikrak mengalami memar di tangan dan kaki. Sebab, dia terjatuh dari tempat ti durnya saat menyelamatkan diri. ‘’Saya memang kagetan. Saya langsung lari sambil ter kencing-kencing,” aku perempuan be rusia 50 tahun itu.

Warga lain, Katiyem menuturkan, proyek tersebut membuat warga sangat resah. Betapa tidak, proyek itu kerap dikerjakan pada malam hari. ‘’Menurunkan barang-barangnya waktu orang tidur. Suaranya keras sekali. Semalaman saya nggak bisa tidur,’’ kata ibu berusia 65 tahun itu.

Sementara itu, ketika wartawan koran ini datang ke lokasi, warga kompak menun jukkan dinding rumahnya yang retak, ter masuk ketua RT setempat, Nur Kholis. ‘’Setelah saya cek, rumah saya juga banyak yang retak,’’ ungkap Nur Kholis. (radar)

Loading...

There were no listings found.