Dimungkinkan Menang WO

0
462
TAK PERLU BERTANDING: Bomber Persewangi Marzuki “Boros” saat bertanding di Stadion Diponegoro.

Imbas Gresik United Tak Bisa Menggelar Pertandingan

BANYUWANGI – Batalnya pertandingan Gresik United versus Persewangi Banyuwangi dalam lanjutan Divisi Utama PSSI di Stadion Bangkalan, Sabtu (7/4) lalu, tentu saja menguntungkan Laskar Blambangan. Ketidakmampuan tuan rumah untuk menggelar pertandingan tentu saja bisa membuat tim tamu dinyatakan menang walk out alias WO.

Tiga poin dan tambahan agregat gol 3-0 menjadi keuntungan bagi skuad asuhan Yudi Suryata itu. Sekadar mengingatkan, pertandingan Gresik United melawan Persewangi sejatinya dilaksanakan Sabtu lalu. Namun, tuan rumah yang bermarkas di Bangkalan tidak bisa menggelar pertandingan itu. Penyebabnya Laskar Joko Samudro, julukan Gresik United, tidak memiliki dana lagi untuk pelaksanaan pertandingan tersebut.

Imbasnya, pertandingan pun batal digelar. Skuad Persewangi yang sudah berada di Surabaya untuk menyongsong pertandingan itu pun terpaksa balik lagi kucing ke Banyuwangi. “Kalau soal itu (WO, Red), itu urusan PSSI. Tapi kalau aturannya memang begitu,” ujar Bagong Iswahyudi, asisten pelatih Persewangi.

Bagong menuturkan, pihaknya sudah dihubungi panitia pertandingan Gresik United saat berada di Surabaya. Dan, dari pembicaraan tersebut, diketahui bila tuan rumah tidak bisa melaksanakan pertandingan. Alasannya, tim besutan Sasi Kirono itu tidak memiliki dana untuk menggelar pertandingan home-nya. Bila nanti Persewangi dinyatakan menang WO, maka posisi Laskar Blambangan akan terangkat. Memainkan 10 laga, Persewangi mengemas 17 poin dari hasil lima kali kemenangan, dua kali seri, dan tiga kali kalah.

Sementara itu, tidak digelarnya pertandingan antara Gresik United versus Persewangi juga disayangkan oleh barisan suporter Persewangi. Koordinator Laros Jenggirat Ahmad Mustain mentakan, ada banyak hikmah yang bisa diambil dari kasus tersebut. “Manajemen Persewangi perlu mengambil pelajaran dari kasus ini,” katanya.

Mustain menambahkan, bukan mustahil kondisi serupa akan menimpa Laskar Blambangan. Apalagi tanda-tanda itu mulai tampak. Di antaranya belum dibayarnya gaji pemain hampir empat bulan, kaburnya pemain, hingga pemogokan latihan. Disamping itu, sumber dana juga belum jelas hingga saat ini.

Dari kasus tersebut, bapak empat anak ini meminta agar manajemen berbenah. Di antaranya transparansi dana. Inilah yang ditunggu-tunggu masyarakat saat ini. “Uang mereka yang disumbangkan ke Persewangi juga harus dilaporkan secara lengkap dengan bukti pendukungnya,” cetusnya. (radar)