Dua Pekan Produksi 2,5 Ton Kompos

0
112
PANAS: Para pemulung mengais sampah yang bisa didaur ulang di TPSA Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, kemarin.

Terik mentari yang menyengat dan bau gunungan sampah, tidak menyurutkan niat para pemulung untuk menunaikan ibadah puasa. Seperti yang dilakoni para pemilah sampah di areal Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bulusan, Kecamatan Kalipuro.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-SIGIT HARIYADI, Kalipuro-

TEMBOKyang berdiri tegak di tepi jalan beraspal di Lingkungan Kampung baru, Kelurahan Bulusan, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi itu tampak cukup sedap dipandang. Dilapisi cat warna oranye kombinasi hijau muda, tembok tersebut terkesan sangat terawat. Tanaman bunga yang tumbuh di bawah tembok tersebut semakin memperkuat kesan asri lokasi tersebut.

Siapa saja yang baru pertama kali melintasi jalan tersebut, pasti tidak akan menyangka bahwa tembok yang tampak elok itu sejatinya adalah salah satu sisi pagar yang mengelilingi TPSA Bulusan. Apalagi, di sepanjang jalan tersebut juga tidak tampak sampah yang berserakan. Pemandangan sebaliknya dijumpai saat memasuki areal yang dikelilingi tembok tersebut siang kemarin (22/7).

Ratusan atau bahkan ribuan kubik sampah terlihat menggunung.Tentu saja, tumpukan sampah tersebut menyemburkan bau kurang sedap. Penderitaan bagi siapa saja yang beraktivitas di areal TPSA Bulusan tidak berhenti sampai di situ. Saat mentari bersinar terik menjelang tengah hari, suhu udara di lokasi tersebut sangat panas kemarin.

Maklum, tidak ada pohon besar tumbuh di areal TPA Bulusan. Padahal, keberadaan pohon bisa berfungsi sebagai peneduh. Di tengah situasi yang seperti itu, belasan perempuan dan tiga orang laki-laki tampak berdiri bergerombol di sekitar salah satu dari beberapa tumpukan sampah. Rupanya mereka adalah para pemulung yang biasa beroperasi di lokasi tersebut.

Selain mencari sampah plastik, sebagian pemulung tersebut juga bekerja mengayaksampah untuk dijadikan bahan baku pupuk kompos. Hadijah, 45, seorang pemu-lung yang ditemui wartawan koran ini mengatakan, pekerjaan itu sudah dilakoninya selama sepuluh tahun terakhir. “Setiap pagi sampai pukul 13.00, saya mencari sampah plastik. Setelah itu pulang untuk istirahat.

Sekitar pukul 18.00, saya kembali lagi ke sini (TPA Bulusan) untuk ngayaksampah yang digunakan untuk bahan baku pupuk kompos,” ujarnya. Menurut Hadijah, pekerjaan mengayak sampah itu dilakoni sampai sekitar pukul 22.00 setiap hari. Dalam dua pekan, rata-rata dia bisa mengumpulkan kompos sebanyak 2,5 ton.

Setiap satu ton kompos, dijual ke tangan pengepul seharga Rp 75 ribu. “Enak bekerja pada malam hari. Udaranya tidak panas,” tuturnya. Nah, pada bulan Ramadan, ini Kadijah mengaku tetap berpuasa. Hebatnya, dia tidak mengurangi intensitas bekerja. “Jadi, pagi hari saya mencari sampah plastik. Malam setelah tarawih, saya kembali untuk mengayak kompos,” jelasnya.

Hadijah menambahkan, rata-rata dalam sehari dia bisa mengumpulkan 15 kg sampah plastik. Rongsokan itu lantas dia jual seharga Rp 800 per kilogram kepada pengepul. “Ya meskipun kerjaan saya berat, alhamdulillah saya masih kuat berpuasa,” katanya. Suyani, 44, pemulung yang lain juga mengaku menjalankan ibadah puasa kemarin.

Dia mengakui, bekerja di bawah terik matahari dan bau sampah yang cukup menyengat, tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan puasa Ramadan. “Puasa Ramadan itu hukumnya wajib. Jadi selama kita mampu berpuasa, walau harus bekerja berat sekali pun yawajib berpuasa,” kata dia.

Berbeda dengan Hadijah yang bekerja sebagai pemulung dan mengayak sampah untuk pupuk kompos, pekerjaan yang dilakoni Suyani hanyalah memulung sampah plastik. Namun, dia juga mengumpulkan sampah organik, seperti limbah sisa sayuran, buah-buahan, dan lain-lain. Setelah dibersihkan, sampah organik tersebut ternyata dia gunakan untuk pakan ternak sapinya.

Suyani bersyukur, TPSA Bulusan kembali beroperasi. Sebab saat TPSA tersebut di-tutup selama 1,5 tahun, dia harus merantau ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di sana, dia membantu suaminya bekerja di tambak udang. “Baru empat bulan terakhir TPSA ini kembali beroperasi. Sebelumnya TPA ini sempat ditutup warga gara-gara banyak sampah yang berserakan akibat tidak ditangani secara serius oleh petugas,” ceritanya.

Masih menurut Suyani, peng-hasilan yang didapat dari pekerjaan sebagai pemulung cenderung pas-pasan. Dalam sekali penimbangan, rata-rata dia hanya mendapatkan uang sebesar Rp 200 ribu. “Penimbangan dilakukan setiap dua pekan,” paparnya. Suyani berharap, dia bisa mendapat berkah bulan Ramadan kali ini. “Walaupun saya bekerja di tempat kotor seperti ini. Saya tetap berpuasa. Toh pekerjaan saya ini halal,” pungkasnya. (radar)

Loading...