Empat Bocah Terseret Arus Boom

  • Bagikan

Satu Hilang, Tiga Selamat dari Maut

BANYUWANGI- Pantai Boom, Banyuwangi makan korban sore kemarin. Empat bocah yang sedang asyik bermain air terseret arus Pantai Boom hingga ke tengah laut. Beruntung, tiga anak berhasil diselamatkan warga meski ada yang sempat pingsan.

Hingga berita ini ditulis (pukul 20.00) satu anak belum ditemukan. Upaya pencarian masih terus dilakukan terhadap anak yang bernama Dadang, 14, warga Kampung Ujung, Banyuwangi, itu. Petugas Satpol air dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih terus melakukan pencarian.

Identitas empat anak yang terseret arus itu adalah Denis Tri Bintang. 14, asal Kampung Ujung; Andang Pamungkas, 14; Dadang, 14; dan Tomi Anggara, 15, warga Kampung Mandar. Denis, Dadang dan Tomi, bisa di selamatkan. Sedangkan Dadang masih belum jelas  keberadaannya.

Denis menuturkan, pukul 15.00 dia bersama tiga temannya bermain di sekitar muara Pantai Boom, dekat lokasi penangkaran telur penyu. Saat itu salah satu temannya yang bernama Tomi mengajak mereka mandi di muara yang menuju ke laut.

Dadang, salah satu anak yang ikut dalam kelompok itu, kata Denis, sempat menolak karena ingat nasihat ayahnya yang melarang bermain di sekitar muara. Tetapi. karena diajak terus menerus, akhirnya semua temannya pun mau.

Ditambah lagi, mereka menemukan sebatang pohon tumbang yang terbawa arus di muara itu. Swlanjutnya, keempat temannya itu memeluk batang kayu tersebut sambil berenang-renang mengikuti arus. Tanpa disadari, Denis melihat mereka semakin mendekati laut.

“Kami berempat main di muara pukul 16.00. Lautnya dangkal, cuma sampai pusar, tapi tiba-tiba anginnya bertambah kencang, terus pasir yang di bawah kaki seperti masuk, lalu kita tenggelam,” terang Denis. Saat arus kencang datang, Denis merasa kayu yang mereka peluk tiba-tiba hilang.

Baca :
Bayi Laki-laki Baru Lahir Ditemukan di Gubuk Pinggir Sawah Banyuwangi

Tahu-tahu mereka terseret ke tengah dan mulai tenggelam. Ketika mulai tenggelam, Denis dan Andang berhasil berenang dan mendekat ke pantai. Namun, dua temannya, Tomi dan Dadang, masih berada di belakang mereka.

Denis menuturkan, dia melihat dua temannya masih terbawa arus. Salah seorang warga di dekat muara berusaha menolong Tomi dan Dadang. Tetapi, malangnya warga bernama Father Raji, 20, yang berusaia menolong tersebut justru ikut tenggelam setelah berhasil meminggirkan Tomi.

“Dua-duanya (Tomi dan Father) terus dibawa ke rumah sakit. Saya nggak lihat Dadang lagi setelah itu,” imbuh Denis. Selanjutnya, Denis dan Andang dibawa warga dan anggota Pola Air. Sedangkan Tomi dan Father dilarikan ke lGD RSUD Blambangan.

‘Yang satu sudah bangun, cuma kedinginan. Tetapi, yang menolong malah belum siuman, sepertinya kehabisan banyak oksigen,” terang sumali, salah seorang petugas Pol air.  Tomi yang baru saja siuman bersedia menceritakan mengenai temannya yang belum ditemukan.

Dia menceritakan, Dadang yang tidak bisa berenang itu sempat memegangi pundaknya. “Sampai terakhir dia di belakang saya. Saya bilang jangan dipegangl, tapi dia malah menggandoli. Akhimya saya lepas soalnya arusnya kencang,” jelas Tomi.

Sementara itu, beberapa petugas gabungan dari Pol air, BPBD, dan nelayan setempat masih melakukan pencarian siswa SMP 4 Banyuwangi tersebut di sekitar lokasi. Polair dan BPBD menggunakan perahu karet, sedangkan nelayan menyusuri tepi pantai menggunakan sampan.

Rupanya arus laut di malam hari yang cukup kencang dan gelapnya lokasi pencarian mempersulit mereka. “Tim SAR dari Jember baru bisa action besok pagi (hari ini), tapi kita akan terus cari sampai malam sekali- pun. Kita perhitungkan arus pantai terus mengarah ke selatan.

Baca :
Longsor Timbun Tiga Rumah di Banyuwangi, Satu Orang Meninggal Dunia

Semoga Dadang bisa ditemukan, ujar Bambang Purwanto, lurah Kampung Mandar. Kepala Satpol air Banyuwangi, AKP Bashowi Alwi menambahkan, pihaknya akan melakukan pencarian bersama warga. Dia meminta pihak keluarga Dadang tetap tenang.

Sebab, akibat kabar tersebut, orang tua Dadang langsung tidak sadarkan diri. “Kita tetap menyisir lokasi terakhir korban tenggelam. Selain itu, kami juga mengimbau agar lokasi tersebut tidak dijadikan lokasi berenang. apalagi dulu pernah menjadi lokasi tragedi Inkai,” tegasnya. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: