Endus Keberadaan Imigran saat Menyita Mobil Kiai Kembar

0
126

endusTerbongkarnya keberadaan puluhan imigran asal Myanmar di Pondok Pesantren Nahdlatul Qodiri, Dusun Saneposari, Desa Bururejo, Kecamatan Siliragung, berbuah penghargaan kepada anggota polsek setempat. Adalah Bripda Sugiarto yang mendapatkan reward dari Kapolres Banyuwangi AKBP Nanang Masbudi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SABTU lalu (13/4) polisi berhasil mengamankan 56 etnis Rohingya di ponpes asuhan Kiai Kembar (KH. Khoirudin dan KH. Nurudin). Puluhan imigran ilegal tersebut diciduk di berbagai tempat, mulai asrama hingga kediaman Kiai Kembar. Sembilan orang sempat melarikan diri ketika hendak dijemput polisi. Tindakan tegas polisi mengungkap people smuggling (penyelundupan manusia) mengundang perhatian masyarakat sekitar.

Mereka ingin menyaksikan upaya polisi memboyong imigran yang mencari suaka itu. Sebab, masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa ponpes tersebut di jadikan ‘’sarang’’ imigran gelap. Pa dahal, warga negara asing (WNA) tersebut sudah menginap di ponpes tersebut selama sepekan atau sejak Sabtu malam (6/4). Informasinya, para imigran tersebut da tang ke ponpes tersebut diangkut be berapa mobil. Kiai Khoirudin mengklaim bahwa imigran tersebut hanya ingin mengikuti zikir dan doa bersama yang digelar rutin di Ahad Manis.

Bahkan, kiai berambut panjang tersebut baru menyadari adanya imigran tersebut pada keesokan harinya, yakni setelah salat Duhur berjamaah Tetapi, pernyataan itu dirasa janggal. Se bab, polisi menemukan sepuluh perempuan dan sepuluh anak-anak bersembunyi di kediaman kiai tersebut. Sebelum polisi menjemput, wartawan koran ini sudah menemui Kiai Khoirudin di kediamannya. Kala itu, kiai tersebut menyebut ada sekitar 39 orang di ponpes asuhannya. Tetapi, kemudian dia mengatakan cuma hanya ada satu anak dan seorang wanita imigran yang berada di ponpes tersebut.

Singkat cerita, kiai tersebut tidak bisa mengelak setelah polisi menggeledah tempat tersebut. Sebab, beberapa perempuan berkerudung dan anak-anak, termasuk balita, di temukan di beberapa kamar di kediaman Kiai Kembar. Akhirnya, Kiai Kembar menyerahkan imigran tersebut kepada pihak berwajib. Nah, terbongkarnya kasus people smuggling (penyelundupan manusia) tampaknya tidak lepas dari peran Babinkantibmas (Bintara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) Polsek Siliargung.

Awal mula ditemukannya para imigran itu tidak lepas dari peran serta anggota Polsek Rogojampi. Kala itu, Bripda Sugiarto di minta mendampingi petugas Polsek Rogojampi dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Tinara Rogojampi yang berencana melakukan eksekusi mobil milik Kiai Kembar. Mobil tersebut disebut-sebut bermasalah dengan KSP Tinara. Bripda Sugiarto mengisahkan, dirinya da tang ke ponpes tersebut tidak sendiri melainkan bersama anggota Polsek Rogojampi dan petugas koperasi.

Rencananya, petugas dari polsek itu akan menyita sebuah mobil Nissan Terano warna hitam milik Kiai Kembar. Tiba di ponpes Jumat sore (12/4), Su giarto berusaha menemui kiai tersebut. Sebelumnya, bapak dua anak itu menanyakan lebih dulu kepada sejumlah orang yang berada di ponpes tersebut. Beberapa pertanyaan yang diajukan Sugiarto tidak mendapatkan jawaban. Beberapa orang yang ditemui suami Sutiharti itu seolah-olah tidak mau buka mulut alias membisu.

Sugiarto pun mulai curiga ada yang tidak beres terhadap orang-orang tersebut. Kecurigaan itu tidak meleset. Setelah mengorek keterangan dari sejumlah santri, akhirnya Sugiarto menemukan jawaban bahwa orang-orang itu ada lah warga Myanmar. “Saya lihat paras wajahnya memang bukan orang sini,” ungkap Sugiarto kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Tanpa menunggu lama, dia langsung melaporkan kasus tersebut kepada Kapolsek Siliaragung, AKP Bakin.

Kapolsek langsung merespons cepat dan langsung menuju lokasi. ‘’Saat itu juga, saya lapor komandan. Pak Kapolsek langsung datang,” terang polisi kelahiran 1961 itu. Walhasil, para imigran tersebut tidak bisa lolos. Sebab, petugas langsung berjaga-jaga di ponpes itu semalam suntuk. Itu bertujuan agar para imigran gelap tidak bisa melarikan diri, meskipun pada malam itu be berapa orang sudah berusaha melarikan diri.

Mengenai reward, Sugiarto mengaku sangat berterima kasih kepada Kapolres Banyuwangi, AKBP Nanang Masbudi. Dia berjanji akan bersemangat dalam menjalankan tugas. ‘’Saya sangat berterima kasih kepada Bapak Kapolres. Penghargaan ini bisa memacu saya lebih giat dalam bertugas demi ketertiban dan keamanan terutama di desa ini,” kata pria yang berdomilisi di Desa/Kecamatan Siliargung itu. (radar)

Loading...