FTV Pertama Full BWI

0
1238

ftv“DILIHAT dari luar, Banyuwangi pu nya potensi luar biasa untuk semakin melesat,” begitu kata sutradara bertangan dingin, Dwi Ilalang. Itu pula yang menjadi salah satu pertim bangan pria berambut gondrong itu me lakukan syuting Film Television (FTV) se cara penuh di Bumi Blambangan. Jadi, jangan kaget kalau dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, Anda akan disuguhi FTV dengan view Banyuwangi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Hal yang semakin membuat kita bangga ada lah inti cerita fi lm berjudul Lari dari Kawin Lari itu diangkat dari fenomena yang kerap dilakukan warga Bumi Blambangan, yakni kawin colong. Film yang dibintangi Sabai Morscheck dan Agus Ringgo tersebut memang sa ngat kental nuansa budaya Osing. Ba yangkan, tokoh utama laki-laki, yakni Sa trio (Agus Ringgo) bekerja sebagai ahli peracik kopi.

Padahal, seperti kita ketahui bersama, akhir-akhir ini pro mo si Banyuwangi sebagai kota kopi cukup gencar di la kukan. Dwi Ilalang mengaku benar-benar terpe sona dengan keindahan Banyuwangi. Bahkan me nurutnya, lantaran Banyuwangi masih “perawan”, dirinya sangat gampang menentukan angle kamera yang bagus. “Kotanya juga bersih. Meletakkan kamera di semua titik di Banyuwangi nyaris tidak ada cela. Hasilnya bagus,” jelasnya.

Pria yang satu itu menambahkan, film yang notabene merupakan FTV “Ba nyuwangi I’m in Love Part II” itu awal nya diproyeksikan sebagai ajang “balas dendam”. Sebab, FTV berjudul Banyuwangi I’m in Love yang beberapa waktu lalu ditayangkan di salah satu stasiun televisi ternyata tidak syuting di Bumi Blambangan. “Memang awalnya saya hanya ingin balas dendam”.

Tetapi, setelah melihat view Banyuwangi, saya jadi lebih ingin mengeksplorasi kota yang indah ini,” katanya. Dwi Ilalang tidak menampik, ke putu san melakukan syuting 100 persen di Ba nyuwangi tidak luput dari peran dan dukungan beberapa pihak. “Dukungan Pemkab Banyuwangi sangat membantu kami. Peran Komunitas Watubuncul sebagai mitra juga sangat besar,” paparnya.

Dwi menambahkan, kecenderungan masyarakat saat ini lebih menggemari budaya pop. Karena itu, dia menggarap fi lm  Bertema kawin colong khas Banyuwangi dengan gaya pop; jalan cerita ringan dan diselipi komedi. “Menggarap cerita adat menjadi pop itu kadang sulit. Alhamdulillh, penggarapan FTV ini terbilang sangat lancar. Yang jelas, tanpa meninggalkan budaya Banyuwangi yang asli,” pungkasnya.

OPTIMALKAN PEMAIN LOKAL

ADA hal lain yang membuat FTV Lari dari Kawin Lari semakin kental nuansa Ba nyuwangi- nya. Tidak hanya menja dikan kawin colong sebagai da sar cerita dan menjadikan Bumi Blambangan sebagai lokasi syuting fi lm tersebut. Lebih dari itu, tidak sedikit putra-putri Banyuwangi yang dipercaya memainkan peran penting dalam fi lm tersebut. Dwi Ilalang mengatakan, da lam FTV garapannya kali ini, di rinya “hanya” membawa dua pe main utama dari Jakarta.

Selebihnya, dia memanfaatkan ta lenta lokal. “Hanya dua artis yang saya bawa dari Jakarta, yak ni Agus Ringgo dan Sabai Mor scheck. Enam pemain inti yang lain adalah warga Ba nyuwangi,” ujarnya. Dikatakan, lantaran masih baru bergelut dengan dunia per filman, para pemain lokal Ba nyuwangi itu awalnya kaku saat berakting di depan kamera “Karena masih baru, wajar kalau mereka (pemain lokal) masih kaku.

Tetapi, setelah dilatih, mereka mulai melek kamera dan sudah mulai terbiasa de ngan suasana syuting,” pa par nya. Dwi Ilalang mengaku kagum dengan semangat pemain lokal Banyuwangi dalam menjalani syu ting FTV tersebut. Dia berharap, ke depan, akan semakin banyak aktor dan aktris lokal Ba nyuwangi yang muncul. “Kami pun berharap syuting yang dijalani di Banyuwangi ini dapat menarik sineas-sineas lain untuk datang ke Banyuwangi agar Banyuwangi bisa lebih berkembang,” harapnya.

Pernyataan tidak jauh ber beda dilontarkan Dara Ikrima Pratikta, salah satu pemeran lokal da lam FTV Lari dari Kawin Lari tersebut. Meski mengaku be berapa kali menjalani syuting  video klip, ibu muda yang satu itu mengaku sempat kagok saat men jalani syuting FTV kali ini. “Agar tidak terlalu nervous, saya bikin senang saja. Misalnya dengan bermain dengan anak, makan camilan, dan lain-lain,” cetusnya seraya tersenyum.

Dara mengaku kaget dengan suasana lokasi syuting. Sebab, seluruh kru dan para pemain lain ternyata baik. “Suasana di lokasi syuting nyaman. Para pemain baik. Enaknya lagi, ma kan, minum, semua ter jamin. Bah kan, saat berkeringat pun ada yang ngelapin,” kata dia se tengah bercanda. Dara mengaku bangga bisa ber peran dalam FTV yang d iproduksi PH Moestions ter se but. “Bangga pasti. Apalagi, unsur Banyuwangi di FTV ini sa ngat kental,” tegasnya.

BERAWAL DARI KRITIK

KEPUTUSAN Dwi Ilalang melakukan syuting FTV Lari dari Kawin Lari di Banyuwangi ternyata tidak terlepas dari peran editor bahasa Jawa Pos Radar Banyuwangi, MH. Qowim. Le wat kritiknya di kolom “Ca tatan” JP RaBa, Qowim meng kritik FTV  Banyuwangi I’m in Love. Kritik itu dilatarbelakangi ke nyataan bahwa FTV yang je las-jelas menjadikan Ba nyuwangi sebagai objek utama itu ternyata tidak syuting di Bumi Blambangan.

Tanpa diduga, akhirnya kritik tersebut di baca sang sutradara, yakni Dwi Ilalang dan produser PH Moes tions, Wawan Savareno, melalui internet. Setelah membaca kritik membangun itu, Dwi Ilalang dan Wawan menyampaikan usul ke pihak SCTV agar memproduksi FTV full Banyuwangi Sayang, pihak SCTV tidak menyediakan budget yang cukup un tuk memproduksi FTV di Bumi Blam bangan.

Dwi Ilalang lantas meng hubungi Komunitas Watubuncul. Sang sutradara meminta bantuan fasilitas, seperti penginapan dan konsumsi se la ma syuting di Banyuwangi. Se telah Komunitas watubuncul me nyanggupi, Dwi Ilalang ber sama produser datang ke Ba n yuwangi lalu dipertemukan dengan Bupati Abdullah Azwar Anas. Alhamdulillah, niat baik sutradara yang pernah bekerja sama dengan Jackie Chan itu mendapat sambutan baik bupati.

Mendapat sambutan hangat Bupati Anas, Dwi Ilalang wadul ke pihak SCTV. Bak gayung bersambut, pihak SCTV malah memperkenankan Dwi Ilalang menggarap dua FTV di Banyuwangi sekaligus. Menurut Qowim, selain FTV berjudul Lari dari Kawin Lari, satu FTV lain yang syutingnya akan dilakukan di Banyuwangi adalah Banyuwangi Sunrise of Love. “Judul itu terinspirasi dari karya ketua Ko munitas Watubuncul, Samsudin Adlawi,” paparnya.

Sementara itu, setelah sukses bekerja sama dengan Dwi Ilalang dan PH Moestions, Komunitas Wa tubuncul berniat mengembangkan “sayap”. Jika selama ini “hanya” berke cimpung di bidang sastra, ko munitas yang satu ini berencana menjadi production house (PH) pertama di Bumi Blambangan. “Kami akan mela tih para calon aktris dan aktor untuk menjadi pemain film profesional.

Jadi, orangorang Banyuwangi yang ingin jadi pemain film, tidak perlu jauh-jauh ke Jakarta. Bersama Dwi Ilalang, sebentar lagi kita akan memproduksi film-film la yar lebar perjuangan heroik rakyat Banyuwangi melawan penjajah,” cetus anggota Ko munitas Watubuncul, Fatah Yasin Noor.

GENCAR PROMOSI KOTA KOPI

SEMENTARA itu, bukan Dwi Ila lang jika tidak mengubah ske nario di tengah jalan. Dalam film Lari dari Kawin Lari tersebut, sutradara yang pernah me ngorbitkan almarhum Taufi k Sa valas itu nekat mengubah ja lan cerita. Mulanya, tokoh utama laki-laki yang diperankan Agus Ringgo adalah seorang ahli otomotif yang bekerja di beng kel. Kemudian, peran Ring go diubah menjadi seorang ahli peracik kopi yang bekerja di kedai kopi.

Namun, justru dari situlah, “aro ma” Banyuwangi semakin ken tal terasa dalam Film Te levision (FTV) tersebut. “Banyuwangi memiliki cara meracik kopi yang khas dibanding daerah lain. Menurut saya, lebih baik mempromosikan kopi khas Banyuwangi ketimbang beng kel. Sebab, bengkel di mana pun ada,” kata Dwi Ila lang. Nah, lantaran ada peran ahli pe racik kopi, tentu proses syuting harus dilakukan di ke dai kopi yang benar-benar menggambarkan suasana Osing.

 Pilihan pun jatuh ke Sang gar Genjah Arum di Desa Ke miren, Kecamatan Glagah, Ban yuwangi. Niat mengadakan syuting di sanggar Genjah Arum itu langsung disampaikan Dwi Ilalang ke pada sang pemilik sanggar, yakni Setiawan “Iwan” Subekti. Lagi-lagi sambutan positif yang diterima Dwi Ilalang. Iwan bersedia sanggar yang ter diri atas beberapa rumah adat Osing itu menjadi lokasi syuting.

Iwan mengaku bersedia sanggar miliknya itu dijadikan lokasi syuting dengan beberapa per timbangan. Salah satunya, ka rena nuansa Banyuwangi da lam film tersebut sangat ken tal. Tidak hanya itu, citra Ba nyuwangi sebagai kota kopi juga akan terdongkrak dengan FTV tersebut. “Saat sutradara dan penata artistik datang dan menyatakan Sanggar Genjah Arum layak menjadi lokasi syuting, ya saya persilakan saja. Kenapa tidak? Apalagi, kini juga tengah gencar dipromosikan Banyuwangi sebagai kota kopi, yakni Kopai Osing” pungkas Iwan. (RADAR)

Loading...

Rack server merk baru DATEUP - sumber rejeki

Rack server merk baru DATEUP - sumber rejeki

Yuk gan segera order Rack Server DATEUP RACK PERTAMA DAN SATU SATU NYA DI INDONESIA Dengan desain yang sangat bagus…
08/21/2018
Surabaya

Kata kunci yang digunakan :