Gubah Musik Osing jadi Pengiring Misa Gereja

0
702

gubahTidak lama lagi, musik Osing akan semakin akrab di telinga jemaat gereja Katolik seantero Indonesia. Pasalnya, Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta kini tengah menggelar lokakarya di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah untuk menciptakan musik bernuansa khas Banyuwangi ke dalam lagu misa.

ALUNAN musik etnik Osing terdengar begitu rancak di kompleks Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Minggu siang kemarin 26/1). Indah gerak tubuh tiga penari gandrung remaja membuat puluhan yang berkumpul di sanggar tersebut kian terkesima. Ditambah lengking suara khas Gandrung Temuk, nuansa etnik semakin kental mewarnai lokasi itu.

Pisang dan ubi goreng hangat pun melengkapi nikmatnya suasana di sanggar yang terkenal dengan rumah asli Osing plus kopi khas Banyuwangi tersebut. Belakangan diketahui, di lokasi tersebut tengah digelar Lokakarya Komposisi Musik Liturgi Inkulturasi Musik Osing. Lokakarya diselenggarakan oleh Pusat Musik Liturgi (PML) Jogjakarta, dan Komisi Liturgi Keuskupan Malang.

Liturgi adalah lagu dan musik yang digunakan pada saat pelaksanaan ibadah atau misa di gereja. Lantas apa hubungannya dengan musik Banyuwangi? Di sinilah hebatnya musik khas Banyuwangi tersebut. Betapa tidak, lokakarya yang diikuti 20 peserta asal seantero Keuskupan Malang, yakni Malang Banyuwangi, Jember, dan Probolinggo), itu ternyata bertujuan menghasilkan lagu-lagu liturgis bernuansa musik Osing.

Tidak tanggung-tanggung, jika sudah jadi kelak, lagu liturgi yang memasukkan unsur-unsur musik Osing, itu akan digunakan di seluruh gereja paroki di seluruh Indonesia. Pimpinan PML Jogjakarta, Karl Edmund Prier yang hadir langsung memimpin pelaksanaan lokakarya kali ini mengatakan, kegiatan serupa sudah 56 kali dilakukan sebelumnya. Namun menurut dia, hasil lokakarya yang diselenggarakan di seantero Indonesia, mulai Nias sampai Papua, itu terasa belum lengkap tanpa diwakili unsur Banyuwangi.

“Maka kami lengkapi studi kami di tengah masyarakat Banyuwangi,” ujarnya. Dikatakan, selama lokakarya di Banyuwangi sampai Senin pekan depan (2/2), pihaknya akan belajar musik Osing. Tujuannya musik Osing, itu nantinya digunakan menjadi lagu ibadah di gereja. “Kami akan melengkapi tugas kami membuat lagu gereja khas Indonesia.

Ini sebagai bunga rampai, sehingga musik gereja semakin kaya dengan unsurunsur musik daerah, termasuk musik Osing,” kata dia. Lokakarya tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan 30 sampai 40 lagu liturgi yang diwarnai musik Osing. Dijelaskan, walaupun mengandung unsur musik Osing, lirik lagu yang dihasilkan selama lokakarya di Sanggar Genjah Artum,  itu berbahasa Indonesia dengan harapan maknanya bisa dipahami oleh seluruh umat Katolik di Indonesia.

Meski demikian, umat Katolik Banyuwangi bisa menerjemahkan lirik musik liturgi bernuansa musik khas Banyuwangi, itu ke dalam bahasa Osing. “Kalaupun liriknya diterjemahkan dalam bahasa Osing, itu tugas umat Katolik Banyuwangi,” cetus Prier. Sementara itu, salah satu penggiat musik Osing, Andang CY Mengaku kegiatan semacam lokakarya yang digelar PML Jogjakarta, itu sudah dia nantikan sejak lama.

Bak gayung bersambut, kata Andang, di satu sisi, dengan adanya lokakarya, pihaknya bisa berpacu untuk meningkatkan mutu musik Banyuwangi. Sedangkan di sisi lain, peserta lokakarya yang berasal dari sejumlah daerah di tanah air, itu bisa memperoleh pengetahuan tentang musik Banyuwangi yang sebenarnya. Termasukpengetahuan tentang prestasi musik Osing yang telah go internasional.

Menurut Andang, selama ini pengetahuan masyarakat belum mewakili kemajuan yang telah dicapai musik Osing. Saat musik Osing sudah melanglang buana ke berbagai belahan dunia, tetapi keadaan di dalam, termasuk praktisi musik Osing, itu sendiri belum tertata rapi. “Belum waktunyakita menepuk dada terkait hasil yang kita capai. Masih perlu pemantapan ke dalam.

Sebagaimana diketahui bersama, akhir-akhir ini musik Banyuwangi cenderung mengalami penurunan mutu,” jlentrehnya. Dia menambahkan, salah satu bentuk penurunan mutu musik Banyuwangi, itu adalah syair lagu yang jorok, porno, dan bahkan menjurus ke pelecehan. “Ini yang perlu kita prihatinkan. Kalau lagu-lagu (bersyair jorok, porno, dan pelecehan) tersebut didengar orang luar, alangkah rendahnya kita. Padahal apa yang sudah dicapai musik Banyuwangi sudah banyak,” papar pria yang rambutnya sudah memutih tersebut.

Karena itu, imbuh Andang pertemuan atau lokakarya seperti yang dilaksanakan di Sanggar Genjah Arum itu bisa dimanfaatkan sebagai wahana penyampaian ke dunia luar tentang musik Osing yang sebenarnya. “Musik Banyuwangi sudah dibawakan di festival di Osaka, Jepang; festival di Busan, Korea, dan lain-lain. Musik Banyuwangi juga sudah dibawakan musikus-musikus Amerika. Inilah waktunya menyampaikan musik Banyuwangi yang sebenarnya sambilterus melakukan penataan ke dalam,” pungkasnya.(radar)