Ibu RT yang Piawai Memotret Jejak Peradaban

0
478
Ellys Utami Purwandari Ismail Warga Banyuwangi yang Tinggal di Mesir
BERTEMPAT tinggal jauh dari Tanah Air sebenarnya tidak ada dalam angan-angan saya. Saat kecil dulu, saya sempat bercita-cita pergi ke Jepang. Kok Jepang? Iya, dulu kan zamannya film Oshin yang diputar di TVRI. Melihat Negeri Matahari Terbit yang bersalju yang jadi setting film Oshin, membuat saya yang waktu itu masih duduk di bangku SD menjadi ingin sekali berada di Jepang untuk menikmati salju. Mimpi lain adalah naik pesawat dan bisa keliling dunia.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Hhhmmm…. Mimpi yang hampir mustahil buat anak desa seperti saya. ebenarnya, saya lahir di Jember. Tetapi, sejak umur 1 tahun, ayah saya yang bekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (sekarang PT. KAI) ditugaskan di Banyuwangi. Ayah saya asli Lamongan dan ibu saya berasal dari Sampang, Madura. Saya pun tumbuh dan besar di Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Saya merasakan Banyuwangi sebagai kampung halaman. Masa TK dan SD saya selesaikan di Ketapang. Setelah itu, saya melanjutkan ke SMPN 1 Banyuwangi.

Prestasi saya yang biasa-biasa saja, semakin membuat saya merasa kurang bergaul. Begitu pula saat SMA di SMAN 1 Banyuwangi (kini SMAN 1 Glagah), rasa kurang pede itu membuat saya tidak begitu menonjol di antara teman-teman. Satu-satunya yang dikenal dari saya adalah jilbab. Karena pada saat itu, saya adalah satu dari tiga orang yang memakai jilbab di sekolah. Hingga akhirnya saya lulus SMA pada tahun 1994.

Sejak kecil, hobi saya menjahit karena ibu saya bekerja sebagai penjahit. Saat kelas 3 SD, saya sudah bisa mengoperasikan mesin jahit dan mesin obras. Ketika SMP, saya sudah bisa menjahit baju saya sendiri. Inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk kuliah di bidang tata busana. Karena itu, begitu lulus SMA, saya diterima di STKIP Singaraja jurusan tata busana. Padahal sebenarnya, saya ingin kuliah di IKIP Surabaya. Namun demikian, kuliah tetap saya jalani di Singaraja sampai semester 3. Kemudian saya memutuskan pindah kuliah ke IKIP Surabaya, karena merasa ilmu tentang tata busana saya kurang berkembang di sini. Pada saat itu pula, saya menikah sambil melanjutkan kuliah.

Memang cukup berat, tapi Alhamdulillah, akhirnya saya lulus kuliah di Universitas Negeri Surabaya (IKIP Surabaya) pada tahun 2000 lalu. Sementara itu, saya memang sudah terbiasa mandiri sejak kecil. Ketika masuk duduk di kelas 5 SD, saya sudah terbiasa pergi sendiri naik KA ke Jember. Ayah memang mendidik saya cukup keras soal kemandirian ini, tujuannya mungkin biar saya tidak tumbuh jadi anak manja.

Itu saya rasakan efeknya saat ini. Buat sebagian orang, terutama untuk seorang perempuan, tidak bekerja setelah kuliah mungkin dianggap hal yang sia-sia. Untuk apa susah-susah kuliah, tapi akhirnya hanya jadi ibu rumah tangga. Tapi tidak untuk saya. Menimba ilmu di bangku kuliah membuat saya belajar banyak hal.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last