Ingin Berikan Kado Buku Sejarah ke Pemerintah

0
314
KENANGAN: Arif menunjukkan buku sejarah Banyuwangi versi DHC 45 yang dimotori alm. Is Soetrisno.

Salah satu putra terbaik Banyuwangi, Is Soetrisno, 83, telah pergi untuk selamanya. Hingga ajal menjemput, masih ada satu keinginan mantan sekretaris daerah (sekda) Banyuwangi pada dekade 1960-an sampai 1970-an itu yang belum terwujud.

SIGIT HARIYADI, Banyuwangi

SEBAGAI seorang prajurit yang ikut berjuang mengusir penjajah dari bumi pertiwi, nasionalisme dalam diri Letkol Infanteri Is Soetrisno tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Jangankan untuk hal-hal penting, rasa cintanya pada bangsa dan negara juga dia tunjukkan pada hal-hal yang terkesan sepele sekali pun. Tidak hanya itu, kontribusinya dalam proses pembangunan di Banyuwangi juga sangat besar. Maklum, semasa hidup, Is Soetris no pernah menjabat sebagai sekda di kabupaten yang terletak di ujung timur Pulau Jawa ini.

Kini, sosok yang dikenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi itu telah tiada. Sejawat, kerabat, bahkan masyarakat umum, tidak sedikit yang merasa sangat kehilangan atas berpulangnya Purnawirawan TNI berpangkat Letkol Infanteri yang juga pernah bertugas sebagai Kepala Seksi Teritorial (Pasiter) Komando Distrik Militer (Kodim) 0825 Banyuwangi itu. Tak heran, ratusan orang rela berpanas-panasan untuk sekadar menghadiri prosesi pemakaman Is Soetrisno di Taman Makam Pahlawan (TMP) Wisma Raga Satria, Banyuwangi, Selasa siang (15/5).

Beberapa pelayat yang ikut mengantarkan jasadnya menuju peristirahatan terakhir mengaku sangat kagum terhadap pria kelahiran Jogjakarta 28 Oktober 1928 tersebut. “Saya masih ingat beliau (Is Soetrisno) pernah menegur rekan saya yang memasang bendera merah putih di posisi agak ke bawah di sepeda miliknya,” ujar Hasnan Singodimayan, seorang budayawan gaek Banyuwangi saat ditemui di selasela prosesi pemakaman.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last

Baca :
Puskesmas Yosomulyo Banyuwangi Terbakar