Intens Belajar Bahasa Using dan Promosikan Pariwisata

  • Bagikan
DUTA WISATA: Peter (kiri) dan Pingkan sesaat setelah penobatan Jebeng-Thulik Banyuwangi 2012 Sabtu lalu (13/10).

Sebagai Jebeng-Thulik Banyuwangi, Pingkan Yulanda, 20, dan Peter Bagus Permana, 17, merasa bertanggung jawab menyukseskan program pemerintah di bidang pariwisata, seni, dan budaya.

Tak heran, begitu ditahbiskan, keduanya langung all out mempromosikan pariwisatadan seni budaya Banyuwangi.

Pingkan dan Peter setelah Terpilih Jebeng-Thulik Banyuwangi 2012 Intens Belajar Bahasa Using dan Promosikan Pariwisata.

SUASANA Desa Kemiren, Kecamatan Glagah begitu semarak siang itu (18/10). Aneka kesenian, seperti angklung, barong, dan lain-lain, digelar di desa adat tersebut.

Rupanya, kala itu sedang berlangsung Festival Kemiren. Festival itu merupakan ajang aktualisasi seni dan budaya masyarakat setempat.

Di antara ratusan bahkan ribuan orang yang memadati tepi jalan Desa Kemiren, tampak beberapa pasang pemuda yang mengenakan kaus hitam berseliweran. Rupanya mereka adalah anggota Paguyuban Jebeng- Thulik (PJT) yang dinobatkan beberapa hari sebelumnya.

Tidak terkecuali Peter dan Pingkan. Festival Kemiren sebagai bentuk tanggung jawab melestarikan seni dan budaya masyarakat Banyuwangi Setelah dinobatkan sebagai jebengthulik, kami langsung sibuk sebagai panitia Fes tival Kemiren,” ujar duet Jebeng-Th ulik Banyuwangi 2012, Pingkan dan Peter.

Menurut Pingkan, langkah lain yang sudah dia lakukan untuk menggairahkan pariwisata adalah mempromosikan potensi-potensi wisata Banyuwangi kepada rekan-rekan kuliah. Bahkan, sebelum dinobatkan sebagai Jebeng Banyuwangi, hal itu sudah dia lakukan.

Dikatakan, sebelum Idul Fitri 2012, dia mengajak beberapa mahasiswa asal Surabaya berkunjung ke Pantai Plengkung. Seperti yang sudah dia prediksi, ternyata para mahasiswa sangat kagum terhadap ke indahan wisata yang dikenal dengan se butan G-Land tersebut.

Dalam waktu dekat saya akan mengajak teman-teman asal Surabaya berwisata ke Gunung Ijen,” kata gadis yang tercatat sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya tersebut. Di mata Pingkan, Banyuwangi adalah miniatur Indonesia.

Pasalnya, kabupaten yang berlokasi di ujung timur Pulau Jawa ini memiliki etnis, budaya, bahkan kondisi alam yang beragam. “Industri di Banyuwangi juga berkembang pesat. Saya yakin di masa depan perindustrian Banyuwangi bisa mengalahkan Gresik atau bahkan Surabaya.

Namun, perkembangan industri tersebut tidak boleh menggusur ke budayaan masyarakat Banyuwangi,” paparnya. Perempuan yang beralamat di Perum Mendut Regency Blok L-17, Banyuwangi, tersebut mengaku prihatin terhadap ke cenderungan generasi muda yang lebih bangga berwisata ke luar daerah dibanding ber wisata di daerahnya sendiri.

Padahal, im buh Pingkan, wisatawan mancanegara sa ngat kagum dengan keindahan alam dan budaya Banyuwangi. Sementara itu, pernyataan senada dilontarkan Peter. Sebagai bentuk tanggung jawab, Thulik Banyuwangi 2012 itu mengaku telah melakukan beberapa langkah untuk menggairahkan pariwisata.

Tahap awal, saya perkenalkan potensipo tensi wisata di Banyuwangi kepada ke luarga, lingkungan sekolah, dan teman sepermainan,” tutur remaja yang saat ini me ngenyam pendidikan di bangku kelas XI SMA Negeri 1 Giri tersebut.

Remaja asal Dusun Kopen, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, itu mengatakan, setiap orang yang tinggal di suatu daerah hendaknya mengetahui tradisi dan budaya daerahnya. Sebab, merekalah pewaris budaya tersebut. Dengan demikian, tradisi dan budaya yang hidup di tengah masyarakat akan lestari.

Di sisi lain, Peter memandang perlu optimalisasi promosi dan aksesibilitas menuju “Segitiga Berlian”, yakni Pantai Plengkung, Gunung Ijen, dan Pantai Sukamade. “Saat ini hal itu sedang dilakukan pemerintah. Saya yakin kunjungan wisatawan ke Banyuwangi akan semakin meningkat,” paparnya.

Sementara itu, ada yang unik dari sosok Je beng-Thulik Banyuwangi tersebut. Bagaimana tidak, Pingkan dan Peter ternyata saat ini sama-sama sedang intens belajar bahasa asli masyarakat Banyuwangi, yakni Bahasa Using. Sebelumnya, dalam per cakapan sehari-hari Peter dan Pingkan tidak menggunakan bahasa Using.

Saya kan kelahiran Jember. Saya baru pindah ke Banyuwangi tahun 2007. Selanjutnya, saya ku laih di Surabaya. Jadi, saya masih belum begitu fasih berbahasa Using,” pungkas Pingkan yang langsung mengundang senyum Peter. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: