sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Jalur kereta api yang menghubungkan Situbondo hingga Jember kini tinggal cerita masa lalu.
Jalur legendaris yang membentang dari Panarukan, Kabupaten Situbondo, melewati Bondowoso hingga berakhir di Kalisat, Jember, itu sudah lama tidak lagi dilalui rangkaian kereta.
Bagi masyarakat Situbondo dan Bondowoso, jalur ini dulunya merupakan simbol kemajuan dan kebanggaan.
Kereta api menjadi moda transportasi utama yang menghubungkan wilayah tapal kuda dengan daerah lain di Jawa Timur, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Namun kini, kejayaan itu telah pudar. Jalur kereta api Panarukan–Kalisat resmi nonaktif dan perlahan dilupakan.
Bangunan stasiun yang tersisa, terutama di Kecamatan Panarukan, tampak tak terawat dan memprihatinkan.
Tembok-temboknya usang, cat terkelupas, dan bagian bangunan terlihat rapuh dimakan usia.
Tak hanya itu, sisa-sisa rel kereta pun nyaris tak terlihat. Di beberapa titik, jalur yang dulu menjadi lintasan kereta kini telah berubah fungsi.
Sebagian tertutup permukiman warga, sebagian lain menyatu dengan jalan dan lahan kosong tanpa penanda bahwa di sana pernah melintas kereta api.
Padahal, jalur ini memiliki sejarah panjang. Kereta api Panarukan–Kalisat terakhir kali beroperasi pada 2004 silam.
Artinya, sudah sekitar 22 tahun jalur tersebut mati suri tanpa aktivitas transportasi perkeretaapian.
Beberapa kali, harapan sempat muncul. Isu reaktivasi jalur kereta Situbondo–Jember kerap berembus, bahkan disebut-sebut telah masuk tahap kajian.
Wacana tersebut mencuat seiring kebutuhan konektivitas wilayah dan pengembangan transportasi massal ramah lingkungan.
Namun hingga kini, rencana itu belum pernah benar-benar terealisasi. Jalur rel tetap sunyi, dan stasiun-stasiun tua terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
Page 2
Meski demikian, kenangan masa aktif jalur kereta tersebut masih hidup di ingatan warga.
Di media sosial, masih banyak beredar foto-foto lawas yang memperlihatkan kereta api melintas di jalur Situbondo–Bondowoso–Jember.
Dalam gambar-gambar itu, terlihat penumpang duduk berdesakan dengan wajah antusias, menikmati perjalanan kereta yang membelah hamparan sawah dan pedesaan.
Pemandangan hijau persawahan, suara roda besi di atas rel, serta aktivitas naik turun penumpang di stasiun-stasiun kecil menjadi potret nostalgia yang kini hanya bisa dikenang.
Bagi sebagian warga, jalur kereta api Panarukan–Kalisat bukan sekadar sarana transportasi, melainkan bagian dari sejarah daerah.
Sebuah jejak peradaban yang pernah menghubungkan manusia, barang, dan harapan—namun kini perlahan terkubur waktu.
Apakah jalur ini akan kembali hidup, atau tetap menjadi cerita masa lalu, waktu yang akan menjawab.
Yang pasti, hingga hari ini, rel kereta Situbondo–Jember masih tinggal kenangan. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Jalur kereta api yang menghubungkan Situbondo hingga Jember kini tinggal cerita masa lalu.
Jalur legendaris yang membentang dari Panarukan, Kabupaten Situbondo, melewati Bondowoso hingga berakhir di Kalisat, Jember, itu sudah lama tidak lagi dilalui rangkaian kereta.
Bagi masyarakat Situbondo dan Bondowoso, jalur ini dulunya merupakan simbol kemajuan dan kebanggaan.
Kereta api menjadi moda transportasi utama yang menghubungkan wilayah tapal kuda dengan daerah lain di Jawa Timur, sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.
Namun kini, kejayaan itu telah pudar. Jalur kereta api Panarukan–Kalisat resmi nonaktif dan perlahan dilupakan.
Bangunan stasiun yang tersisa, terutama di Kecamatan Panarukan, tampak tak terawat dan memprihatinkan.
Tembok-temboknya usang, cat terkelupas, dan bagian bangunan terlihat rapuh dimakan usia.
Tak hanya itu, sisa-sisa rel kereta pun nyaris tak terlihat. Di beberapa titik, jalur yang dulu menjadi lintasan kereta kini telah berubah fungsi.
Sebagian tertutup permukiman warga, sebagian lain menyatu dengan jalan dan lahan kosong tanpa penanda bahwa di sana pernah melintas kereta api.
Padahal, jalur ini memiliki sejarah panjang. Kereta api Panarukan–Kalisat terakhir kali beroperasi pada 2004 silam.
Artinya, sudah sekitar 22 tahun jalur tersebut mati suri tanpa aktivitas transportasi perkeretaapian.
Beberapa kali, harapan sempat muncul. Isu reaktivasi jalur kereta Situbondo–Jember kerap berembus, bahkan disebut-sebut telah masuk tahap kajian.
Wacana tersebut mencuat seiring kebutuhan konektivitas wilayah dan pengembangan transportasi massal ramah lingkungan.
Namun hingga kini, rencana itu belum pernah benar-benar terealisasi. Jalur rel tetap sunyi, dan stasiun-stasiun tua terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang.








