Jauh Lebih Sepi setelah Warga Lapor Bupati

0
186

jauhPenambangan pasir di Dusun Blumbang, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, sempat ditentang warga. Sebab, selain belum berizin, aktivitas penambangan itu dikhawatirkan merusak jalan yang baru diaspal. Bagaimana kondisinya kini?


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

LOKASI penambangan pasir di Dusun Blumbang, Desa Singolatren, Kecamatan Singojuruh, berada di tengah areal persawahan yang cukup pro duktif. Sebelum disulap menjadi lo kasi penambangan pasir, kawasan yang berbatasan dengan Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, itu ditanami padi oleh pemiliknya. Namun, sejak awal tahun 2013 lalu, lahan yang cukup subur tersebut be rubah fungsi. Sebuah alat berat masuk ke lokasi tersebut untuk mengeruk pasir.

Sejak itu sawah ter sebut tak pernah lagi ditanami padi. Setiap hari yang terlihat adalah alat berat mengeruk pasir. Bahkan, semakin hari lahan yang dikeruk semakin dalam dan semakin luas. Akibat pengerukan pasir itu, dump truk setiap hari masuk ke areal tersebut untuk mengangkut pasir Hal itu menyebabkan jalan berdebu dan jalan desa yang baru diaspal oleh Pemkab Banyuwangi melalui dana APBD 2012 itu mengelupas.

Kondisi itu membuat warga, terutama yang tinggal di Dusun Sukorejo, Desa Le mahbang Kulon, resah. Sebab, jalan di desanya yang baru saja diaspal juga terancam rusak. Tak ingin jalan di desanya rusak, awal Februari 2013 lalu warga beramaira mai mendatangi lokasi penambangan pasir tersebut. Warga minta para pekerja menghentikan aktivitasnya. Namun, aksi warga tersebut mendapat per lawanan dari para pekerja dan pengelola tam bang. Terjadilah ketegangan antar warga dan pekerja di lokasi penambangan.

Beruntung pihak kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) se gera datang ke lokasi dan mencairkan ketegangan tersebut. Keesokan harinya, Kepala Desa Lemahbang Kulon, waktu itu Subandio, memfasilitasi pertemuan warga dan pemilik tambang pasir untuk bermusyawarah di balai desa setempat. Sayang, musyawarah ini buntu. Keesokan harinya, giliran Camat Singojuruh, Nanik Machrufi , mengundang para pihak berdialog di pendapa Kecamatan Singojuruh.

Namun, hal ini tak membuahkan kesepakatan. “Saat itu kami memilih walkout karena yang diundang banyak dari orang-orangnya pengusaha, sementara warga hanya beberapa,” kata Hendra, pemuda setempat. Anehnya, meski tak ada kesepakatan dalam rembuk di pendapa Kecamatan Singojuruh tersebut, beberapa hari kemudian pengusaha tambang yang sebelumnya sempat berhenti beroperasi itu kembali beraktivitas. Saat itu, sebuah alat berat yang se belum nya sempat berhenti beberapa hari kembali dioperasikan. Hal itu semakin membuat warga jengkel.

Sehingga, pada 9 Maret 2013 lalu mereka melayangkan surat pengaduan kepada Bupati Banyuwangi, H. Abdullah Azwar Anas, dan meminta agar penambangan pasir tersebut segera dihentikan. Sayang, surat itu belum ada tindak lanjutnya. Sehingga, pada Senin (8/04) warga kembali melayangkan surat kepada bupati. “Senin kemarin akhirnya ada tim dari Dinas Pertambangan yang turun ke lokasi,” kata Hendra. Sayang, hasil tinjau lapang yang dilakukan Di nas Pertambangan Banyuwangi itu belum diketahui hasilnya. Yang jelas, sejak kemarin alat berat tersebut masih ada di lokasi. Hanya saja, alat berat tersebut tak beroperasi sebagaimana beberapa hari sebelumnya. Suasana di lokasi penambangan juga sepi. (radar)

Loading...