Karakter dan Rias Jaranan Buto Terinspirasi Cerita Prabu Minak Jinggo

0
8847

Mbah-Darni-di-gudang-penyimpanan-perlengkapan-jaranan-buto-yang-dimiliki-sejak-tahun-1965-kemarin


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

JARANAN buto kini telah menyebar di telatah Bumi Blambangan. Hampir di setiap kecamatan kini telah ada  paguyuban jaranan buto. Bahkan, di Desa Galekan, Kecamatan Wongsorejo, ada tiga paguyuban jaranan buto.

Perkembangan jaranan buto itu tidak bisa lepas dari para pencetusnya, Darni Wiyono, 76, warga Dusun Cemetuk,  Desa/Kecamatan Cluring; Setro Asnawi  dan Usik asal Dusun Tanjungrejo, Desa Kebondalem, Kecamatan Bangorejo.

“Dulu bersama (membuat jaranan buto)  Mbah Setro. Dia sering ke sini, kita bikin kreasi dan akhirnya jadi jaranan buto hingga seperti saat ini,” kata Darni saat ditemui di rumahnya kemarin (26/8).  Jaranan buto hasil kreasinya bersama  Setro itu digagas pada 1964. Tetapi, setelah  tahun 1965 kesenian itu banyak mengalami   penambahan, terutama pada gerakan tari.

“Kalau riasnya tetap sama, cuma tariannya ada penambahan,” katanya. Kreasi jaranan menjadi jaranan buto itu  terinspirasi cerita legenda Prabu Minak  Jinggo. Hampir semua rias dan gerakan  itu berasal dari cerita raja di Kerajaan Blambangan itu.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last

Baca :
Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Rusak Puluhan Rumah di Banyuwangi