Keliling Kampung sambil Baca Istighfar dan Azan

0
437
TARUNG: Puncak acara bersih kampung dimeriahkan atraksi pencak silat.

Warga Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Banyuwangi punya tradisi menarik. Setiap hari raya Idul Adha, mereka menggelar kegiatan bersih kampung yang unik.

DUA pesilat dari perguruan yang berbeda tampak sedang bertarung di arena. Kerumunan penonton tampak asyik menyaksikan duel para pendekar tersebut.

Di antara pesilat itu, ada yang membawa senjata tajam (sajam) jenis celurit yang mengkilat. Dengan iringan gamelan, keduanya tampak saling menyerang. Meski pertarungan itu hanya sebuah atraksi untuk hiburan, kedua pesilat tampak bertarung seperti duel sesungguhnya.

Mereka juga mengeluarkan jurusjurus andalannya untuk mengalahkan lawan. Jeritan dan teriakan penonton, sering kali terdengar setiap pesilat yang membawa sajam mencoba menyerang lawannya. Dalam pertarungan itu, pesilat yang membawa sajam selalu kalah dan senjatanya bisa direbut.

Selanjutnya, pertarungan dilanjutkan dengan duel tangan kosong Saat bertarung dengan tangan kosong ini, sering kali para pesilat menunjukkan adegan lucu seperti menggoda lawan dengan menari. “Ayo balas,” teriak penonton saat pesilat menggoda lawannya dengan memegang dagu.

Itulah atraksi pencak silat yang di gelar warga Dusun Mondoluko, Desa Ta mansuruh, Kecamatan Glagah. Acara itu, merupakan puncak ritual dari bersih kampung yang rutin digelar setiap tanggal 10 Zulhijah atau hari raya Idul Adha. “Ini sudah menjadi tradisi yang berlangsungsecara turun temurun di kampung ini,” cetus Asran, 68, sesepuh kampung Dusun Mondoluko.

Pencak silat yang menjadi rangkaian dalam ritual bersih kampung itu merupakan simbol rasa kegembiraan warga. Dalam atraksi ini, para pesilat dari berbagai per guruan dan aliran di Kabupaten Banyuwangi sengaja datang untuk ikut memeriahkan. “Pencak silat ini sebagai hiburannya,” katanya.

Pesilat yang turun dalam atraksi ini ternyata cukup beragam. Ada pesilat anakanak hingga orang tua yang telah berusia di atas 50 tahun. Mereka menunjukkan ke bolehan dan ketangkasannya. “Mainnya  serius, tapi tidak boleh melukai,” ujar Asran. Sebelum dilakukan atraksi pencak silat ini, warga kampung menggelar ritual khusus untuk minta keselamatan kampung.

Ritual yang digelar diawali pada 9 Zulhijah dengan melakukan Ider Bumi. Dalam tradisi Ider Bumi tersebut, warga berjalan keliling kampung sambil membaca istighfar. “Warga berjalan keliling kampung sambil baca istighfar,” ungkapnya. Bila dalam perjalanan mengelilingi kam pung itu bertemu jalan simpang tiga atau simpang empat, maka rombongan berhenti untuk membaca doa-doa yang dipimpin sesepuh kampung. “Setiap di jalan simpang tiga dan simpang empat, dilakukan azan,” terangnya.

Baca :
Warga Geger, Seorang Pemuda Ditemukan Gantung Diri di Pohon Kelengkeng, Ini Kronologinya

Usai melaksanakan keliling kampung, pada malam harinya dilanjutkan dengan ri tual membaca Lontar Yusuf. Pembacaan Lontar Yusuf itu termasuk bagian ter penting dari ritual bersih kampung. “Tadi malam (kemarin malam, Red) kita baca Lontar Yusuf, dan puncaknya hiburan atrak si pencak silat hari ini (kemarin, Red),” jelasnya.

Ritual yang dilaksanakan oleh warga Dusun Mondoluko itu sudah berlangsung turun temurun. Bahkan, tidak ada warga yang mengetahui sejak kapan tradisi ini dimulai. “Kita ini hanya melanjutkan tradisi, dan tidak berani meninggalkannya,” sebut Asran. Dengan nada serius, bapak delapan anak dengan 15 cucu ini mengisahkan, dari cerita turun-temurun di kampungnya, ritual awalnya ada penyakit pagebluk yang menyerang warga. Tidak sedikit dari warga, yang meninggal akibat penyakit misterius itu. “Pagi sakit, sore meninggal,” kisahnya.

Di tengah keresahan warga yang luar biasa, tiba-tiba ada arwah leluhur yang meminta agar warga menggelar ritual Ider Bumi dan membaca Lontar Yusuf. Anehnya, setelah ritual itu dilaksanakan, penyakit yang mematikan itu juga hilang. “Karena penyakitnya hilang, warga menggelar syukuran. Dan syukuran itu sekarang ya atraksi pencak silat ini,” cetusnya.(radar)