Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Kembangkan Pepaya, Bangunan Pasar Tak Memadai

KURANG MEMADAI: Ramainya pasar Kalibaru Kulon, membuat bangunan los pasar tidak mampu menampung penjual dan pembeli.

KALIBARU – Kepala Desa Kalibaru Kulon, Kecamatan Kalibaru, Radiono, yang baru dilantik beberapa waktu lalu mulai melakukan terobosan di bidang budidaya tanaman pepaya Thailand. Sejak dua bulan lalu, dia mengajak warganya untuk melakukan penanaman pepaya Thailand dengan memanfaatkan lahan-lahan kering yang kurang produktif.

Selain lahan kurang produktif, warga juga diajak menanam pohon pepaya di tepi-tepi jalan kampung dan tanah makam. “Sekarang sudah ada sekitar 52 ribu pohon pepaya Thailand yang ditanam warga,” kata Radiono di ruang kerjanya kemarin. Radiono menuturkan, ide menanam pohon pepaya Thailand secara masal tersebut muncul sejak dua bulan lalu.

Hal ini karena melihat banyaknya peluang pasar dan  mahalnya harga buah tersebut. Membaca peluang tersebut, dia mengajak warganya untuk bekerjasama menanam pohon pepaya Thailand dengan memanfaatkan lahanlahan yang kurang produktif. “Sekarang satu warga rata-rata punya tanaman pepaya Thailand antara 100 sampai 200 pohon,” sebutnya.

Selain menanam pohon pepaya Thailand, Radiono kini juga sudah mulai membidik peluang pasar jika kelak tanaman tersebut sudah waktunya berbuah dan panen. Sebab diperkirakan tanaman pepaya tersebut bakal panen pada usia tujuh bulan. “Kita punya pasar di Surabaya, Mas. Dan kalau nanti sudah panen, bisa buat tambahan penghasilan masyarakat dan pemerintah desa,” tandasnya.

Sementara itu, selain menggarap tanaman pepaya Thailand, Pemerintah Desa Kalibaru Kulon juga berencana mengembangkan bangunan pasar desa. Sebab, pasar Desa Kalibaru Kulon yang terletak di barat perempatan Jalan Raya Provinsi di Jalan Raya Kabupaten tersebut kini sudah tak lagi mampu menampung membeludaknya penjual dan pembeli. Apalagi, Pasar Kalibaru Kulon tersebut menjadi pusat pasar sayur. Banyak warga Kota Genteng, dan Garahan, Kabupaten Jember, yang berbelanja sayur ke pasar tersebut untuk kemudian di jual lagi ke tempatnya masing-masing.

Sehingga setiap pagi, penjual dan pembeli selalu membeludak sampai tumpah ke tepitepi jalan raya. Hal ini karena luas lahan pasar tersebut hanya 1628 meter persegi. “Sedang bangunan pasarnya sudah cukup lama. Di bangun sejak 1975 dan sampai sekarang belum tersentuh perbaikan,” tandasnya.

Saat ini, lanjut Radiono, pihaknya sedang mencari terobosan untuk mencari anggaran pembangunan pasar tersebut. Sebab, satu-satunya jalan agar bisa menampung membeludaknya penjual dan pembeli adalah dengan membuat bangunan bertingkat. “Kalau dikembangkan ke samping sudah nggak bisa. Karena lahannya memang segitu. Sehingga harus ditingkat,” tandasnya. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE