Kerap Gagal, Butuh Waktu Enam Bulan Sampai Kawin

0
388


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

LAYAKNYA rumah pencinta burung berkicau, hunian yang ditempati Atim Ismail, 39, warga Desa Kelir, Kecamatan
Kalipuro ini juga tak luput dari kurungan burung yang berjajar menggantung  di langit-langit rumah. Kicauan burung pun menjadi penyambut khas bagi tamu yang berkunjung di rumahnya tak jauh dari Puskesmas Desa Kelir tersebut.

Namun, yang menarik bukanlah aktivitas di dalam rumah itu. Sekitar  dua meter di belakang rumah yang berada di lingkungan perkampungan  padat itu ada sebuah lokasi yang dikelilingi dengan dinding anyaman bambu (gedhek). Lokasi seluas 3×2  meter itu ternyata adalah sebuah tempat  pengembang biakan burung Murai Batu yang sengaja dibuat oleh Atim.

“Awalnya hanya coba-coba saja. Harga burung murai batu kan mahal,  teman- teman di sini banyak yang suka tapi tidak mampu beli. Jadi saya coba silangkan burung yang saya punya supaya bisa dijual dengan murah ke teman- teman,” ujar Atim.

Melihat kedatangan Jawa Pos Radar Banyuwangi yang tam pak berniat mengamati aktifitas  di peternakan kecil itu, Atim pun mengajak saya untuk melihat lebih dekat.  Rupanya ruangan dari pagar anyaman bambu itu adalah pelindung untuk sebuah sangkar burung murai yang ada di dalamnya.

Atim sengaja membuat bangunannya berbentuk demikian  supaya tidak ada orang yang mendekati sangkar tersebut. “Burung murai ini sensitif dengan  aktivitas manusia. Jadi supaya proses perkembangbiakan tidak terganggu, harus diberi batas seperti  ini. Jadi seolah burung ini tidak melihat ada manusia,” terang bapak dua anak itu.

Idenya memulai beternak murai, menurut  Atim, muncul setahun silam. Sebagai salah  se orang penggemar burung, dia mengaku kesulitan menemukan burung murai batu yang kualitasnya sesuai dengan harganya. Atim pun berpikir untuk mengembangbiakkan  sendiri burung yang memiliki habitat di dataran rendah itu.

Setelah memperoleh satu ekor pejantan murai batu Aceh dan seekor betina murai batu Medan, Atim lalu mulai mencoba mengawinkan kedua burung berwarna hitam coklat  itu. Prosesnya tidak mudah, karena  keduanya  berasal dari wilayah yang berbeda maka dibutuhkan waktu agar bisa saling kenal.

Selama hampir tiga bulan, kedua burung itu sangkarnya di jejerkan bersama. Keduanya juga diberi rutinitas yang nyaris bersamaan. Mulai mandi, makan sampai tidur. Jadi kata Atim, ibarat aktivitas sama tapi tempatnya berbeda. Setelah ritme aktifitasnya sama, barulah dia  membuat sebuah sangkar besar yang nantinya akan digunakan sebagai sangkar bersama.

Lalu  setelah jadi mulailah si betina dimasukkan ke dalam sangkar sampai terbiasa dengan kandang barunya. Setelah itu barulah si pejantan dimasukkan agar bisa berinteraksi dengan si betina.  “Dua burung ini karakternya berbeda. Yang pejantan murai Aceh lebih galak. Kalau yang betina lebih jinak. Awalnya waktu baru dibarengkan mereka tidak mau berdekatan, tidurnya jauh-jauhan. Tapi pas sudah terbiasa,  baru mepet terus, beda sama manusia,” kata pria berjidat lebar itu sambil tersenyum.

Setelah dirasa mulai berbaur, Atim selanjutnya  mulai mengatur sarang agar semirip mungkin  dengan habitat si burung murai. Yang  paling  penting ada sirkulasi air. Karena itu dibuat kolam kecil yang mengalir mirip sungai. Ditambah tanam-tanaman khas tepian sungai  seperti talas dan bambu air.

Atim menceritakan  setelah itu barulah dua ekor burung yang dikawinkan itu mulai menunjukkan perkembangan. Sekitar tiga bulan kemudian, si betina mulai bertelur. “Sayangnya telur pertama gagal  semua. Padahal ada sembilan butir waktu itu. Yang kedua berhasil menetas tapi mati semua  setelah menetas, barulah yang ketiga sama yang keempat ini mulai hidup,” jelasnya.

Sejak berhasil menetaskan dan merawat  hingga usia cukup besar dari anak-anak burung  murai yang dipeliharanya itu, Atim mengaku sudah mulai mengenali karakter murai batu. Dia pun berniat untuk bisa mengembangbiakkan murai batu hasil persilangannya lebih banyak.

“Untuk jenis yang ini saya belum tau dijeniskan  apa. Yang jelas pejantannya  murai batu Aceh  yang betina murai batu Medan,” terang Atim.  Jika karakter burung murai ini jika melihat makanan yang ada jumlahnya sedikit maka  dia akan memilih salah satu saja dari anaknya.  Jadi anak lainnya tidak akan diberi   akan  dan dibiarkan mati.

“Kuncinya saat mereka  mau bertelur dan menetaskan ini sebenarnya ada pada pakan. Jadi harus banyak. Mulai cacing sama krotonya, kalau sedikit anak-anaknya bisa mati,” imbuhnya. Meski belum bisa mengembangbiakkan  dalam jumlah banyak, namun dia berniat bisa terus memperbanyak jumlah burung  murai yang dikembangbiakkannya.

Selain supaya bisa memenuhi keinginan pencinta burung  yang ada di sekitar tempat tinggalnya, dia  ingin suatu hari nanti bisa melepas liarkan burung-burung berharga jutaan rupiah itu. “Harganya masih tinggi. Jadi harus ditunggu anakannya ini besar kalau mau mengembangkan lagi,” terang Atim sambil  memberi makan burungnya. (radar)

Loading...