Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Kesulitan Evakuasi Bangkai Perahu

kesulitanMUNCAR – Proses evakuasi bangkai perahu yang tenggelam akibat dihantam badai masih terus berlangsung kemarin. Namun, para nelayan masih kesulitan mengangkat sebagian perahu yang tenggelam di sekitar break water proyek Minapolitan Pelabuhan Muncar tersebut. Sampai kemarin siang, tercatat ada empat perahu yang belum berhasil di angkat ke darat, antara lain tiga slerek dan satu unit perahu gardan. Semua bangkai perahu tersebut masih belum berhasil dientas dari laut.

Meski dibantu alat berat, perahu tetap sulit ditarik. Sebaliknya, kehadiran mesin backhoe justru merusak perahu-perahu tersebut Dalam upaya evakuasi itu, sejumlah perahu slerek juga dikerahkan untuk menarik bangkai perahu yang teng ge lam. Hanya saja, langkah itu masih belum membuahkan hasil. Bangkai perahu sulit ditarik lantaran terlalu berat. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi menyebutkan, puluhan nelayan juga kesulitan menarik jaring di bangkai perahu slerek itu.

Meski begitu, semua mesin di perahu tersebut sudah berhasil diangkat. ‘’Mulai tadi pagi nggak kena-kena,’’ ungkap Junaidi, salah seorang nelayan. Dia menjelaskan, musibah itu membuat nelayan takut melaut. Mereka trauma jika sewaktu- waktu badai datang lagi. Kata Junaidi, petaka itu berlangsung sangat cepat. ‘’Saya merasakan sendiri waktu perahu tenggelam,” ujar warga Dusun Sampangan, Desa Kedungrejo, Kecamatan Mun car, itu.

Dia menceritakan, saat itu perahu slerek yang biasa di sebut perahu pemburu itu memang sengaja keluar ka wa san pelabuhan. Itu sudah men jadi kebiasaan sebelum melaut. ‘’Kalau tetap di dalam (pe labuhan, red) tidak bisa keluar ka rena air surut,” katanya. Sekitar pukul 09.00, satu perahu parkir di tengah se kitar dua kilometer dari pelabuhan. Namun, beberapa jam kemudian angin kencang mu lai datang.

‘’Waktu itu, saya de ngan sepuluh orang lain naik perahu ojekan langsung menuju perahu itu untuk segera membawanya ke pinggir,” katanya. Meski dihantam badai, awak perahu tetap berjuang keras menyelamatkan perahu itu agar tidak tenggelam dengan cara menghidupkan mesin. ‘’Meski mesin sudah dihidupkan, tetap tidak mampu. Perahu terus terseret. Kira-kira dari sini dua kilometer,” kenangnya. Selain akibat badai, jangkar  juga tidak berfungsi.

Saat badai berlangsung, jangkar tidak menancap di dasar laut. ‘’Semua perahu ini tenggelam gara-gara jangkar tidak menancap,” kata Junaidi kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Kemarin cuaca sudah normal. Kondisi itu membuat se bagian nelayan mulai berani beraktivitas di laut untuk mencari ikan. Diberitakan sebelumnya, angin kencang disertai gelombang tinggi memorak porandakan kawasan Pela bu han Muncar, Banyuwangi.

Se jumlah kapal nelayan terempas badai dari arah utara kawasan pelabuhan tersebut. Akhirnya, beberapa kapal dan perahu di pinggiran proyek Minapolitan Muncar tenggelam dan rusak parah. Tidak ada korban jiwa dalam musibah yang terjadi sekitar pukul 13.00 kemarin. Namun, akibat angin kencang dan hujan itu, para nelayan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah. Tercatat ada delapan perahu yang rusak berat akibat bencana alam tersebut. Rinciannya, empat
slerek, tiga perahu gardan, dan satu perahu ojekan. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE