Makam Kiai Faqih Cemoro, Ulama dan Pejuang Banyuwangi

0
4724

BAGI sebagian warga Banyuwangi, terutama warga nahdliyin, nama KH. Abdullah Faqih atau lebih dikenal kiai Faqih Cemoro sudah tidak asing. Kiai karismatis itu termasuk ulama besar dan waliyullah. Kiai Faqih yang lahir pada tahun 1870 Masehi  dan meninggal pada tahun 1953, dikenal bukan hanya penyebar Islam, tapi juga pejuang kemerdekaan yang gigih melawan penjajah Belanda.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dengan membawa bendera hizbullah, memimpin sejumlah peperangan seperti perang Parangharjo, Kecamatan Songgon; perang Hisbullah Lemahbang, dan beberapa perang lain. Jejak kiai Faqih kini bisa dilihat di makamnya di Dusun Cemoro, Desa Balak, Kecamatan Songgon.

Kompleks makam berada di utara masjid. Di sekitar makam masih berdiri bangunan sekolah mulai pendidikan anak usia dinia (PAUD), Raudlatul Atfal (TK), dan Madrasah Ibtidaiah Miftahul Huda. Bila dilihat sepintas, bangunan sekolah itu tampak seperti bangunan lama yang pernah digunakan untuk pondok pesantren.

“Dulu santrinya Mbah Kiai Faqih  ini ribuan,” ujar Gus Umar Abdullah, 55, salah satu cucu KH. Abdullah Faqih bin Umar. Kiai Faqih ini santri urutan ke-22 dari Syaikhona Kholil Bangkalan. Saat belajar, satu angkatan dengan KH. Hasyim Asyari dan KH.Wahab Hasbullah, dua kiai besar asal  Jombang yang dikenal sebagai pendiri NU.

Kiai yang juga satu angkatan adalah KH. Munawwir, pendiri pondok pesantren Al-Munawwir Krapyak, Jogjakarta; KH. Ma’shum, pendiri pondok pesantren Lasem, Rembang; dan KH. Syamsul Arifin, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus Situbondo.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last

Baca :
Jelang Natal, Bupati Banyuwangi: Pemda Ndherek Mangayubagyo