Makin Sepi Gara-gara CCTV

0
356

BANYUWANGI – Tak hanya langkah pemkab memulangkan PSK dari luar daerah yang membuat 14 lokalisasi di Banyuwangi menjadi sepi. Pema- sangan Closed Circuit Television (CCTV) juga membuat kompleks pelacuran semakin sepi. Sarana CCTV sudah dipasang di lokalisasi Sumberloh, Desa Benelan Kidul, Kecamatan Singojuruh, dan lokalisasi Gempol Porong (GP) di Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Menurut Kades Kaliploso, larangan atas PSK dari luar daerah membuat lokalisasi GP menurun drastis. Penghuni yang awalnya sekitar 50 orang itu langsung menyusut tinggal belasan orang saja. “Waktu itu tinggal 16 orang,” terang Kades Kaliploso, Warsito. Menurut Kades Warsito, belasan PSK yang tersisa itu diberi bekal kete- rampilan menjahit dan diberi bantuan mesin jahit.

“Saya dapat laporan, kini jumlahnya kok mulai bertambah lagi,” katanya di gedung DPRD Banyuwangi beberapa waktu lalu. Warsito mengatakan, banyaknya PSK yang balik kucing itu karena mereka merasa situasi sudah aman. “Sekarang jumlahnya naik lagi menjadi puluhan orang,” ungkapnya. Oleh karena itu, Kades Warsito bersama Muspika Cluring terus melakukan sosialisasi agar penghuni dari luar daerah segera pulang kembali.

Sementara itu, aktivitas bisnis lendir di lokalisasi Sumberloh, Desa Benelan Kidul, relatif masih tinggi. “Yang dari luar Banyuwangi banyak,” terang Tanti (nama samaran), salah satu penghuni lokalisasi Sumberloh. Mereka bukan hanya berasal dari beberapa kota di Jawa Timur, ada juga penghuni yang me- ngaku datang dari Su- matera.

“Kalau ada razia, kita langsung sembunyi,” sebut Tanti yang mengaku dari Sumatera Selatan itu. Sementara itu, beberapa PSK asal luar daerah itu diduga sudah memiliki kartu tanda penduduk (KTP) Banyuwangi. Sehingga, mereka bisa lolos saat ada razia. “Sama Bapak dibuatkan KTP,” jelas Yuyun (nama samaran), penghuni Sumberloh yang mengaku dari Jember. Meski begitu, populasi penghuni Sumberloh kali ini sudah menurun dibanding beberapa tahun lalu.

Sejumlah wisma di lokalisasi itu sudah banyak yang tutup. “Anak-anak banyak yang pulang, jadi sekarang sepi,” kata salah satu mucikari yang minta namanya tidak dikorankan. Mucikari itu mengaku ingin meninggalkan bisnis esek-esek. Tetapi, karena rumah yang dikelola itu mi- liknya sendiri, maka niat itu belum bisa diwujudkan. “Capek, sekarang sangat sepi,” ujarnya. Sementara itu, akhir-akhir ini pengunjung Sumberloh semakin menyusut. Kondisi itu membuat penghuni lokalisasi memilih angkat koper. “Sejak dipasangi CCTV jadi sepi,” kata perempuan yang biasa disapa Mami itu. (RADAR)