Berita Terkini Seputar Banyuwangi

Masih Nekat Konvoi

masihMESKI sudah dilarang, tapi aksi konvoi tetap mewarnai pengumuman hasil ujian nasional (unas) di Banyuwangi kemarin (24/4). Sebelum resmi diumumkan, puluhan siswa sudah melakukan konvoi keliling kota Banyuwangi. Aksi konvoi siswa di jalanan itu mulai terjadi sekitar pukul 10.30. Sementara itu, Dinas Pen didikan (Dispendik) Banyuwangi melalui sekolah baru mengumumkan hasil unas pada pukul 13.30. Tidak hanya berkonvoi, para pelajar juga meluapkan kegembiraannya melalui aksi co rat-coret seragam.

Saat melakukan konvoi, mereka mengenakan seragam yang sudah penuh coretan spidol dan cat semprot. Namun demikian, konvoi tahun ini tidak sebanyak tahun lalu. Setelah berkumpul,mereka langsung berkonvoi untuk merayakan kelulusan. Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, konvoi kelulusan kali ini lebih banyak dilakukan pelajar sekolah swasta. Be berapa sekolah negeri justru ter lihat sepi dan tidak terlihat penumpukan siswa.

Hanya ada beberapa pelajar sekolah ne geri yang masih melakukan aksi corat-coret baju. Sementara itu, beberapa jam sebelum pe ngumuman, di beberapa sekolah besar terlihat sepi. Hanya ada beberapa siswa yang datang memakai busana muslim. Kepala Dispendik Banyuwangi, Sulihtiyono, me lalui Plt Kabid Pendidikan Menengah Suratno me ngungkapkan, sebagian besar sekolah tidak mengumumkan secara langsung kepada siswa.

Ber dasar kesepakatan, pengumuman kelulusan di lakukan melalui online di web sekolah masing-masing. Pihak sekolah tidak mendatangkan siswa ke sekolah untuk menerima pengumuman ke lulusan kemarin. Sekolah yang tidak mengumumkan melalui online, memilih menyampaikan pengumuman melalui orang tua siswa. Sebagian kecil sekolah lain, kata Suratno, menyampaikan pengumuman kelulusan secara langsung dalam acara pelepasan siswa.

Dalam acara itu, siswa diminta datang tidak memakai se ragam sekolah. “Cara ini hanya dilakukan beberapa sekolah, dan tidak banyak. Semua sekolah itu berlokasi di luar kawasan kota,” kata Suratno. Pengumuman secara online dipilih sebagian be sar sekolah karena lebih praktis dan tidak perlu menghadirkan siswa ke sekolah. Dengan teknis ter sebut, siswa tidak punya peluang berkumpul un tuk merayakan kelulusan dengan cara konvoi dan corat-coret seragam.

“Kalau masih ada yang corat-coret, kita akan lakukan evaluasi demi perbai kan tahun depan,” katanya. Saat pengumuman disampaikan, beberapa petugas kepolisian stand by di beberapa sekolah. Tidak hanya di sekolah, petugas juga stand by di beberapa lokasi yang sering dijadikan tempat bergerombol para siswa. Di sekitar GOR Tawang Alun, misalnya, beberapa personel polisi siaga sejak pagi. Praktis, lingkungan GOR Tawang Alun sepi dari aktivitas siswa yang merayakan kelulusan.

Sementara itu, SMAN 2 Genteng tak bisa membendung para siswa menggelar aksi corat-coret seragam di lingkungan sekolah. Kepala SMAN 2 Genteng, Moch Rifai mengatakan, setelah dinyatakan lulus, pihaknya tidak bisa melarang para siswa. ‘’Tidak bisa dilarang. Corat-coret itu memang kita fasilitasi,” ungkapnya. Menurut dia, corat-coret seragam tidak merugikan orang lain. Sebab, seragam yang di bubuhi tanda tangan dan cat semprot itu milik yang bersangkutan.

‘’Jadi, senyampang tidak merugikan orang lain, kenapa harus dilarang,” paparnya. Jika dilarang, kata dia, para siswa tersebut justru akan bertindak macam-macam di luar sekolah, misalnya berkonvoi di jalan raya. Tentu itu akan menimbulkan gangguan ketertiban umum. ‘’Anak-anak boleh corat-coret baju, tapi mereka tidak boleh konvoi,’’ tegasnya. Selain itu, para siswa dilarang bertindak konyol selama di sekolah, misalnya mencorat-coret tembok sekolah.

Bagi orang lain, tindakan corat-coret itu disayangkan. Tapi bagi siswa, corat-coret seragam itu sangat berarti karena mereka telah dinyatakan lulus dan itu sangat bersejarah,” paparnya. Karena itu, Rifai tidak canggung ikut tanda tangan di seragam para siswa. Sementara itu, suasana SMAN I Genteng tampak sepi dan nyaris tidak ada siswa yang menyambut kelulusan. ‘’Di sini biasa saja, gak ada yang corat-coret, apalagi ko nvoi,” jelas kepala SMAN I Genteng, Mujib.

Mujib menambahkan, kultur semacam itu sudah terbangun sejak lama. Bahkan, mayoritassiswa tidak mendatangi sekolah saat pengumuman berlangsung. ‘’Para siswa sudah banyak yang berada di luar daerah untuk meneruskan pen didikan selanjutnya,” terangnya. Dia memperkirakan, kehadiran siswa saat pengumuman paling banter hanya 25 siswa. Para siswa memang sudah yakin mereka bakal lulus. ‘’Kelulusan siswa disambut biasa saja, gak berlebihan,” pungkasnya. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE