Mencermati Minimnya Animo Penonton

0
358

SEJAK putaran kedua Divisi Utama versi PSSI Djohar Arifin digulirkan sebulan lalu, animo penonton untuk menyaksikan pertandingan Persewangi di Stadion Diponegoro amat minim. Dari tiga kali laga home yang digelar Laskar Blambangan (sekali laga Copa Indonesia melawan Persipro, dua kali laga Divisi Utama versus PSBI Blitar dan Madiun Putra), penonton yang datang hanya berjumlah ratusan.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Bandingkan dengan laga-laga Persewangi pada putaran pertama Divisi Utama lalu. Penonton yang datang pasti penuh sesak. Tak kurang dari 5.000 hingga 10.000 penonton berdesakaan memadati stadion terbesar di Bumi Blambangan tersebut. Menyikapi menurunnya jumlah penonton yang datang ke stadion, panitia pelaksana sebetulnya sudah me-nyiapkan langkah untuk kembali menggaet para suporter.

Salah satunya dengan memberi potongan harga bagi kalangan pelajar. Jika sebelumnya para penonton dikenai tiket masuk Rp 20 ribu, namun khusus kalangan pelajar, panitia memberi potongan hingga Rp 10 ribu. Nyatanya, meski ketentuan itu sudah diberlakukan saat Persewangi menjamu PSBI Blitar pekan lalu, tetap saja penonton yang datang superminim.

Pertanyaannya, mengapa penonton tidak “segila” saat putaran pertama lalu? Saat itu, panitia pelaksana benar-benar menikmati keuntungan luar biasa. Jika saja penonton yang datang ke stadion berjumlah 5000 orang, dengan harga tiket Rp 20 ribu, maka akan terkumpul dana sebesar Rp 100 juta per pertandingan. Belum lagi penonton yang duduk di kursi VIP yang harganya mencapai Rp 50 ribu. Tentu, perolehan dana tiket yang begitu besar yang diraih pada putaran pertama membuat siapapun berbesar hati.

Loading...

Membayangkan meraup keuntungan Rp 100 juta hanya dalam sekali pertandingan (Persewangi menjadi tuan rumah sebanyak empat kali), tentu saja pecinta Persewangi akan memiliki anggapan bahwa dengan perolehan tiket sebesar itu, maka Persewangi sudah bisa “dihidupi”. Faktanya, pengurus Persewangi tetap saja teriak-teriak tidak memiliki cukup dana untuk membayar pemain.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2