Mendukung Upaya Pemain Persewangi Menuntut Hak

0
131

MESKI masih ada dua pertandingan yang harus dilakoni Persewangi ke Indonesia Timur, tapi kompetisi Divisi Utama PSSI sejatinya sudah berakhir bagi tim berjuluk Laskar Blambangan tersebut. Hampir tidak ada kemungkinan bagi pemain Persewangi bertandang di markas Persbul Buol dan Persemalra Langgur. Krisis finansial hampir pasti memaksa Victor da Silva dkk tidak melanjutkan sisa kompetisi.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Di dua laga terakhir kompetisi level dua tersebut, Persewangi bisa dipastikan walk out. Meski kompetisi Divisi Utama sudah berakhir, tapi masih ada satu PR bagi pengurus dan manajemen Persewangi, yakni urusan gaji dan kontrak terhadap seluruh pemain Persewangi belum selesai. Jangankan memenuhi hak-hak pemain asing, pemain lokal saja belum dibayar. Siapa pun tahu, belum urusan hak pemain itu belum selesai tidak lain gara-gara sumber dana bagi tim kebanggaan Laros- mania tersebut minim.

Distopnya aliran dana dari APBD Banyuwangi bagi Persewangi yang sudah bermain di liga profesional membuat manajemen Laskar Blambangan kelimpungan. Sulitnya mendapat sokongan dana dari para donatur dan sponsor membuat pemain menjadi korban. Gaji yang seharusnya mereka terima tiap bulan ternyata tidak bisa dipenuhi manajemen. Bahkan, kontrak yang sejatinya dibayar di awal, justru hingga kompetisi berakhir belum dipenuhi. Padahal, dapur keluarga para pemain Persewangi harus tetap mengepul.

Rata-rata mereka sudah memiliki anak dan istri. Tak ayal, hal itu membuat pemain mulai berontak. Sejak putaran kedua Divisi Utama lalu, pemain sudah melakukan perlawanan terhadap manajemen. Salah satunya, tidak mengikuti latihan rutin. Saat akan menghadapi pertandingan resmi pun, para pemain memilih jual mahal. Intinya, jika tidak ada uang, maka tidak ada permainan. Bahkan, para pemain sempat tertahan di salah satu hotel di Blitar akibat manajemen belum membayar sewa hotel.

Kini puncak kekecewaan para pemain ditunjukkan dengan meminta hearing kepada DPRD. Harapannya, dengar pendapat di dewan itu membuat semua pihak mengetahui kondisi tubuh Persewangi sebenarnya. Tentu saja, pertemuan tersebut bertujuan mengetahui kejelasan nasib para pemain, apakah gaji dan kontrak mereka akan dibayar ataukah tidak. Daripada langsung menempuh jalur hukum, para pe- main masih memilih upaya mediasi terlebih dahulu. Itu dilakukan karena pada dasarnya para pemain tidak ingin menjerumuskan pengurus ke dalam penjara. (radar)

Loading...