Merasa tak Bersalah, Sigit Minta Bebas

0
388
ANGGAP TUNTUTAN CACAT: Brigadir Sigit membacakan pleidoi di hadapan majelis hakim PN Banyuwangi
ANGGAP TUNTUTAN CACAT: Brigadir Sigit membacakan pleidoi di hadapan majelis hakim PN Banyuwangi
ANGGAP TUNTUTAN CACAT: Brigadir Sigit membacakan pleidoi di hadapan majelis hakim PN Banyuwangi

BANYUWANGI – Sigit Dwi Susanto, 28, oknum anggota polisi yang tersangkut kasus narkoba, kembali dihadirkan dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Banyuwangi kemarin. Anggota Polri berpangkat Brigadir itu diberi kesempatan membacakan pembelaan atas tuntutan jaksa (pleidoi).


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dalam pleidoi itu, Sigit bersikukuh tidak merasa bersalah. Apa yang dia lakukan semata-mata melaksanakan tugas undercover dari Direktorat Narkoba Polda Jawa Timur untuk menangkap seorang pengedar narkoba di Banyuwangi. “Saya tidak sependapat dengan tuntutan yang disampaikan jaksa penuntut umum (JPU),” tegas Sigit dalam pleidoinya.

Saat membacakan tuntutan pada Kamis (6/12) lalu, ungkap dia, jaksa menyebut apa yang dia lakukan dianggap melanggar Pasal 114 ayat 1 Undang-Undang (UU) No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika. “Saya tidak sependapat dengan ini,” ujarnya di hadapan majelis hakim yang dipimpin Elly Istianawati didampingi dua hakim anggota I Wayan Gede Rumega dan Tenny Erma Suryathi Lebih jauh Sigit mengungkapkan, apa yang di lakukan Satnarkoba Polres Banyuwangi mulai proses penangkapan hingga pemeriksaan dianggap tidak sah dan tidak profesional.

Loading...

Karena proses di satnarkoba tidak sah, maka persidangan yang di lakukan atas dirinya juga tidak sah. “Proses di reskoba cacat hukum,” tandasnya. Sigit membeber sejumlah proses yang dianggap tidak profesional. Dia mengungkapkan, penjelasan bahwa dirinya sedang melaksanakan tugas tidak ditanggapi, air kencing yang akan dites urine tidak boleh dibawa sendiri, kanitnya di Subnit Narkoba Polda Jawa Timur tidak boleh mendampingi. Terakhir, tidak ada bukti saat dirinya ditangkap. “Saya minta tes urine di labfor Polda Jawa Timur, tapi tidak pernah dikabulkan,” ungkapnya.

Lantaran dianggap cacat hukum dan tidak profesional, Sigit meminta majelis hakim membebaskan dirinya dari segala dakwaan dan tuntutan. “Bila majelis hakim memiliki kesimpulan lain, saya mohon di putus berdasar kearifan dan keadilan,” pintaya. Pembelaan senada juga disampaikan penasihat hukum Brigadir Sigit dari Bidang Hukum Polda Jawa Timur, Kompol Sugiarto dan rekan. Saat membacakan pleidoi, Sugiarto menganggap dakwaan dan tuntutan yang disampaikan JPU tidak memenuhi unsur-unsur, sehingga tidak sah secara hukum. “Terlalu memaksakan,” sebutnya.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2