Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Modal Otodidak, Petani Kopi Kalibaru Banyuwangi Berhasil Tanam Kopi Langka dan Banjir Pesanan

modal-otodidak,-petani-kopi-kalibaru-banyuwangi-berhasil-tanam-kopi-langka-dan-banjir-pesanan
Modal Otodidak, Petani Kopi Kalibaru Banyuwangi Berhasil Tanam Kopi Langka dan Banjir Pesanan

BANYUWANGI, KOMPAS.com – Seorang pria menyusuri jalanan kebun kopi yang licin di wilayah Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Jawa Timur, sambil mengenakan jas hujan untuk membentengi dirinya dari hawa dingin yang menusuk kulit.

Dia adalah Hanifullah Hasan (34), seorang petani kopi dari lereng Gunung Raung. Dari tangannya dan kerja keras timnya, kopi Arabika Yellow Caturra dan Yellow Bourbon yang tergolong varietas langka di Indonesia, dan tergolong kelas premium, dapat tumbuh subur di sana.

Kopi yang dikembangkannya pun berhasil meraih penghargaan uji cita rasa dan keluar sebagai juara kedua kopi terbaik di Indonesia pada tahun 2025.

Namun siapa sangka, aksinya yang ramai menuai pujian tersebut berawal dari coba-coba dengan modal ilmu otodidak yang dipelajari seadanya dari media sosial.

“Awalnya coba-coba seribu pohon Yellow Caturra dan Yellow Bourbon, ternyata tumbuh subur di ketinggian 900 mdpl (meter di atas permukaan laut),” kata Hanif, Kamis (5/2/2026).

Baca juga: Ngopi Tubruk sampai Kekinian di Surabaya: Soal Rasa dan Memaknai Waktu Tanpa Patok Budget

Hanif tidak punya latar belakang ilmu perkopian. Dia banyak mendalami ilmu teknik informatika di lingkup pondok dan bidang yang sama saat duduk di bangku kuliah.

Ceritanya terjun mendalami dunia kopi, bermula saat menikah pada tahun 2015 dan kembali ke kampung halamannya di Kalibaru.

“Waktu itu, banyak tawaran pekerjaan, cuma saya melihat potensi Kalibaru luar biasa tapi belum ada komoditas unggulan,” ujar Hanif.

Kopi langka jenis Arabika Yellow Caturra yang tumbuh di lereng Gunung Raung.KOMPAS.COM/Dokumentasi Pemkab Banyuwangi Kopi langka jenis Arabika Yellow Caturra yang tumbuh di lereng Gunung Raung.

Dimulai dari tahun 2016, dia mendalami pengembangan kopi robusta. Lalu, beralih ke kopi jenis arabika saat melihat sebuah peluang, di mana wilayahnya yang berada di wilayah Gunung Raung, cocok untuk ditanami kopi jenis tersebut.

Jika kopi robusta biasanya ditanam di ketinggian 400 mdpl-800 mdpl, kopi jenis arabika harus tumbuh di atas 800 mdpl. Sebab, semakin tinggi datarannya, semakin bagus hasilnya.

“Saat itu saya mulai tanam skala kecil. Waktu itu saya pikir, potensi besar sekali, jangan takut untuk memulai,” tuturnya.

Baca juga: Kopi Langka dari Banyuwangi, Harta Karun di Lereng Gunung Raung

Bersama beberapa orang di tim yang dinamai “Siprembun”, kopi Yellow Caturra dan Yellow Bourbon yang sebelumnya telah dikembangkan di Jawa Barat, untuk pertama kalinya mulai dikembangkan di Banyuwangi.

Awalnya hanya 1.000 pohon pada 2021, terus bertambah dari tahun ke tahun hingga 4.000 pohon pada 2022, dengan total luas lahan berkisar 6 hektare.

“Terus dikembangkan menjadi ribuan pohon. Produksi kopinya bagus, rasanya unik dibandingkan arabika yang lain,” kata Hanif.

Meski perawatan Arabika lebih ekstra daripada robusta, menurut dia, arabika juga memiliki keunggulan varietas dari segi pertanian, yaitu lebih tahan hama, buahnya lebih bagus daripada kopi yang lain, kopinya lebih enak, dan harga jualnya lebih tinggi.


Page 2

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

QR Code Kompas.com

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app