Mufti Anam Terpilih Sebagai Ketua Hipmi Jatim 2017-2020

0
318
Mufti Anam (kanan) Terpilih Sebagai Ketua Hipmi Jatim 2017-2020

PENGUSAHA muda asal Banyuwangi Mufti Aimah Nurul Anam terpilih menjadi ketua umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur periode 2017-2020. Mufti terpilih dalam Musyawarah Daerah (Musda) yang dihadiri banyak tokoh pengusaha dan jajaran pemerintahan di Surabaya, Rabu dini hari (11/12).


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Mufti Anam menghabiskan masa kecil hingga remajanya di Banyuwangi. Setelah terpilih sebagai ketua HIPMI Jatim, dia bertekad menumbuhkan semangat kewirausahaan. Fokus utamanya adalah  daerah pinggiran sehingga semangat berbisnis tidak hanya dimiliki anak-anak muda di perkotaan.

”Selama ini anak-anak muda yang punya mindset wirausaha didominasi kalangan perkotaan. Agar ekonomi merata, spirit kewirausahaan itu harus diperluas ke berbagai daerah yang jauh dari metropolitan,” ujar pengusaha muda yang juga seorang dokter itu.
Seperti di kabupaten Banyuwangi dan Situbondo, perlu didorong pengembangan kewirausahaan. HIPMI ke depan akan mendampingi daerah-daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan seperti Banyuwangi dan Situbondo. Di dua kabupaten ini, jumlah populasi anak mudanya sekitar 30 persen. ”Ini bisa jadi momentum untuk mengakselerasi ekonomi daerah,” imbuh Mufti Anam.
Dia menambahkan, sejumlah program unggulan bakal digeber HIPMI Jatim. Di antaranya adalah program Pesantrenpreneur. HIPMI Jatim bakal memberikan pendampingan terintegrasi ke sejumlah pesantren agar bisa mengembangkan unit ekonominya, termasuk mendidik para santrinya menjadi wirausahawan.
”Kami targetkan tiap tahun ada 15 pesantren yang didampingi, termasuk nanti ada dari Banyuwangi dan Situbondo. Dari sana kami berharap ada 1.500 santri, berarti satu pesantren 100 santri. Dengan penguasaan kewirausahaan yang mumpuni, sehingga saat lepas dari pesantren dia bisa berdakwah sekaligus berwirausaha untuk kemandirian umat,” jelas Mufti Anam.
Program unggulan lainnya adalah penguatan semangat kewirausahaan sejak bangku SMA/SMK/MA. Selama ini, edukasi kewirausahaan masif di bangku Perguruan Tinggi (PT) melalui HIPMI PT. Mulai 2018, program akan diperluas ke level SMA/sederajat dengan membentuk HIPMI Pelajar. ”Tiap tahun kami targetkan terbentuk 25 HIPMI Pelajar di 25 SMA, dengan fokus sekolah-sekolah pinggiran,” paparnya.
HIPMI Jatim juga memprogramkan mobil kewirausahaan keliling yang diberi nama ”HIPMIPreneur Truck”. Mobil yang dimodifikasi khusus ini bakal berkeliling ke kampung-kampung untuk memberi pendampingan gratis ke toko-toko kecil milik rakyat, kelompok perempuan produktif, dan siapa saja yang berminat menjadi pengusaha.
”Mobil itu rutin keliling dengan program pembelajaran kewirausahaan yang jelas. Kita akan bantu juga re-design kemasan produk UMKM di kampung-kampung. Jadi, di mobil itu juga ada tenaga konsultan keuangan sampai desainer untuk mendampingi warga yang berwirausaha di kampung-kampung,” jelas Mufti Anam.
HIPMI Jatim pada 2018 juga menargetkan memfasilitasi lahirnya 25 start-up alias bisnis rintisan unggulan di Jatim dengan fokus pada bisnis yang sesuai potensi lokal, khususnya agribisnis. Untuk semua program penumbuhan wirausahawan muda ini, HIPMI Jatim menyiapkan program pendanaan bersama atau crowdfunding.
”Ini sebagai wujud kolaborasi zaman now. Jadi kita dorong anak-anak muda, dari santri sampai pelajar, untuk berwirausaha. Untuk modalnya, didanai bersama, termasuk kita pertemukan potensi start-up di Jatim dengan angel investor,” ujarnya.
Mufti Anam menghabiskan masa kecilnya di Dusun Karangdoro, sebuah dusun yang cukup jauh dari pusat kota Banyuwangi. Jiwa kewirausahaannya terasah sejak SD saat dia ikut menjajakan es lilin agar bisa punya uang saku dan membeli baju Lebaran.
Setiap jenjang pendidikan dia lakoni sambil berjualan. Puncaknya adalah kegagalan saat mencoba bisnis berdagang kaos saat SMA. Saat kuliah, dengan motor Honda keluaran 1990, Mufti berdagang sarung. Keberuntungan berpihak kepadanya karena kerap mendapat order besar hingga ekspor saat sering mengikuti pengajian di Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo asuhan KH. Agoes Ali Masyhuri. ”Ini berkah kiai,” ujarnya.
Sejak saat itu bisnisnya terus membesar dan merambah berbagai bidang, mulai properti sampai suplai kebutuhan pabrik-pabrik manufaktur. Sesuai bidang keahliannya, Mufti juga berbisnis klinik kecantikan. (radar)
Loading...