Nginang Sambil Beradu Pantun

0
4933

nginangGLAGAH – Apa jadinya jika puluhan perempuan yang seluruhnya telah berusia minimal 50 tahun, saling unjuk kebolehan nginang (mengunyah sirih, Red) dan nyisig (mengulum tembakau) di atas pentas? Fenomena unik, itu tersaji di Festival Kemiren yang digelar di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi kemarin (6/10). Menariknya lagi, ketika perform di atas pentas, setiap dua peserta yang maju berpasangan juga saling melontarkan wangsalan (pantun berbahasa Using).


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Bahkan, untuk mendukung penampilan, sebagian peserta lomba unik, itu juga menari dan bernyanyi di hadapan penonton. Tak ayal, penonton pun langsung ger-geran saat ketika nenek-nenek yang usianya telah mencapai setengah abad lebih, itu menari dan bernyanyi Lomba nginang dan nyisig kali ini digelar dengan tujuan melestarikan tradisi warga sekitar. Sebab, saat ini kalangan perempuan muda desa adat Banyuwangi, itu mulai meninggalkan tradisi nginang yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur.

Padahal, nginang diyakini memberikan dampak positif bagi kesehatan gigi dan mulut. Mulai ditinggalkannya tradisi nginang oleh generasi muda Desa Kemiren, khususnya kalangan perempuan, dibenarkan Mastuki. Pria yang juga panitia Festival Kemiren itu mengatakan, jika dahulu nginang merupakan kebanggaan para perempuan Desa Kemiren, generasi muda saat ini justru menganggap nginang adalah kebiasaan kuno dan ketinggalan zaman. “Tujuan lomba nginang ini digelar adalah untuk melestarikan tradisi.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Baca :
Baritan Takir Sewu, Tradisi Petani Banyuwangi Minta Hujan