Nilai Tertinggi Terancam tak Bisa Kuliah

0
137
Dita Silvi Octaviani

Dita Silvi Octaviani, 18, tercatat sebagai peraih nilai ujian nasional (NUN) tingkat SMA se-Banyuwangi tahun ini. Namun, siswi SMAN 1 Rogojampi tersebut terancam tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
-ALI NURFATONI, Srono-


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

HASIL ujian nasional (unas) tingkat SMA sudah diumumkan pekan lalu. Dalam pengumuman tersebut, nama Dita Silvi Octaviani muncul sebagai penyandang NUN jurusan ilmu pengetahuan alam (IPA) terbaik di Bumi Blambangan. Anak pasangan Siswanto, 42, dan Ernawati, 40, itu berhasil mengumpulkan nilai 57,75 untuk enam mata pelajaran yang diujikan. Tentu prestasi tersebut membuat kedua orang tuanya bangga.

Selain membuat kedua orang tua bangga, perempuan kelahiran 3 Oktober 1994 itu juga mengharumkan nama sekolah. Tetapi, predikat NUN terbaik seBanyuwangi itu tidak membuat nasibnya dalam menempuh pendidikan menjadi lebih baik. Sebab, hingga kemarin (4/6) gadis yang tinggal di Dusun Sumber Groto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, itu masih bingung tujuh keliling.

Kok bisa? Ya, karena sulung dari tiga bersaudara tersebut berasal dari keluarga yang ekonominya pas-pasan. Bahkan, bisa dibilang dia berasal dari keluarga tidak mampu. Oleh karena itu, harapan Dita duduk di bangku perkuliahan hingga kini masih sebatas angan-angan. Orang tua Dita hanya pekerja serabutan. Penghasilan mereka setiap hari tidak menentu. Ayah Dita, Siswanto, adalah buruh tani dan kadang menjadi makelar sepeda motor.

Sementara itu, ibunya, Ernawati, adalah ibu rumah tangga biasa. Sesekali Ernawati bekerja serabutan membuat keranjang ikan. Penghasilan mereka hanya cukup untuk mengisi perut sehari-hari. Sebenarnya, orang tua Dita sangat ingin anaknya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi agar masa depannya cerah. Namun, apa daya, persoalan ekonomi membuat keinginan itu hanya sebatas angan.

Loading...

“Saya bingung, bapak dan ibu saya tidak mampu,” ujar Dita kepada wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi yang berkunjung ke rumahnya kemarin. Dita mengaku,s ejak dulu memang sangat senang bersekolah. Pelajaran kesukaannya
adalah ilmu pasti, seperti matematika, fisika, dan biologi. “Mulai dulu suka pelajaran yang ada hitung-hitungannya,” jelasnya.

Nah, setelah lulus dari SMA dia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi negeri (PTN). Dia juga mengaku sudah mengikuti proses bidik misi nasional di perguruan negeri. Dia berharap diterima dalam program tersebut. Sebab, bila diterima, dia akan mendapat uang saku kuliah Rp 600 ribu per bulan. Namun, bila benar-benar diterima, dia juga bingung akan meneruskan ataukah tidak.

Sebab, persoalan biaya masih menjadi masalah. “Kalau diterima saya juga bingung. Niatnya sih ikut, entah hasilnya gimana terserah nanti,” katanya didampingi pamannya, Agus. Saudara kandung Elma Dayu Pratiwi, 10, dan Iqbal Tri Ramadani, 2, itu bercita-cita menjadi perawat profesional. Untuk memuluskan niat tersebut, tentu Dita harus melanjutkan kuliah ke jurusan keperawatan. ’’Saya ingin kuliah di sekolah perawat,” jelasnya.

Ernawati mengatakan, anak sulungnya tersebut sejak SD memang tergolong anak berprestasi. Oleh karena itu, sebagai orang tua, dirinya selalu mendukung apa yang dicita-citakan anaknya. ’’Saya dukung terus. Tapi biaya kuliah itu tidak sedikit, uang dari mana,” katanya dengan mata berkaca-kaca. Menurut Ernawati, Dita pernah ditinggal orang tuanya merantau ke luar Jawa. Meski bertahun-tahun ditinggal bekerja di Kalimantan, anaknya tersebut tetap berprestasi.

“Saya dan bapaknya empat tahun kerja di Kalimantan. Bila kiriman telat, saudaranya urunan,” katanya. Tentang keinginan anaknya melanjutkan sekolah, Ernawati hanya pasrah. ’’Saya tidak tahu mau menoleh ke mana, ya mudah-mudahan ada orang yang bantu saya. Saya ingin anak saya ini sukses dengan cita-citanya. Adik-adiknya masih kecil,” pungkasnya. (radar)

Loading...