Pantai Timur Banyuwangi, Lokasi Penyu Bertelur yang Dilupakan

0
167

pantaiBertahan 200 Juta Tahun, Mulai Hilang 20 Tahun Terakhir


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SUDAH bukan rahasia bahwa letak geografis Banyuwangi sangat strategis. Terletak di ujung timur Pulau Jawa, kabupaten berjuluk Sunrise of Java, ini berbatasan langsung dengan Selat Bali dan Samudera Indonesia. Pertemuan antara Laut Jawa dan Samudera Indonesia, itu berdampak pada melimpahnya keanekaragaman biota laut Banyuwangi. Salah satunya penyu.

Tidak tanggung-tanggung, empat dari tujuh jenis kura-kura laut yang oleh kalangan ilmuwan diyakini telah hidup sejak zaman jura (145 juta sampai 208 juta tahun yang lalu) itu,  hidup di Banyuwangi. Empat jenis penyu yang hidup di Banyuwangi, itu antara lain yang terbanyak jenis Penyu hijau (Chelonia mydas). Jenis lainnya adalah Penyu sisik (Eretmo chelys imbricata), Penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan Penyu belimbing (Dermochelys coriacea). 

Sedangkan tiga jenis penyu yang tidak dijumpai di kabupaten ujung timur Jawa, ini antara lain Penyu Kemp’s Ridley (Lepidochelys kempi), Penyu pipih (Natator depressus), dan Penyu tempayan (Caretta caretta). Malah, mungkin tak banyak yang tahu, selain di Pantai Sukamade, Taman Nasional (TN) Meru Betiri dan Pantai Nagelan, TN Alas Purwo, pantai timur Banyuwangi ternyata juga merupakan tempat pendaratan penyu.

Bahkan, pantai yang berlokasi tak jauh dari pusat Kota Banyuwangi, tepatnya di Pantai Boom, juga menjadi tempat penyu mendarat untuk berkembang biak. Namun sayang, hanya dalam tempo 20 tahun terakhir, populasi penyu di Bumi Blambangan menurun drastis, atau bahkan bisa dikategorikan nyaris punah. Selain di akibatkan polusi laut, “perburuan” telur penyu juga menjadi salah satu penyebab semakin merosotnya populasi hewan tersebut. 

Padahal, penyu adalah salah satu jenis binatang yang dilindungi di tingkat dunia. Pemerintah Indonesia pun telah menyatakan penyu merupakan satwa liar dilindungi. Tepatnya melalui Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Beruntung, kini ada pihak yang serius bergerak melestarikan penyu di Bumi Blambangan, yakni Banyuwangi Sea Turtle Foun dation (BSTF) alias Yayasan Penyu Banyuwangi.

“Pantai Timur Banyuwangi merupakan habitat penyu berukuran kecil, misalnya penyu sisik dan penyu lekang. Tetapi ada juga penyu hijau yang mendarat (di pesisir timur Banyuwangi) untuk bertelur,” ujar penasihat BSTF, Ir Kuswaya, BSc.F. Menurut Kuswaya, berbeda dengan penyu yang mendarat di Sukamade dan Nagelan yang notabene merupakan wilayah konservasi, keselamatan telur penyu yang mendarat di pantai timur Banyuwangi lebih rawan gangguan karena tidak ada petugas khusus yang mengurus penyu seperti halnya di kawasan TN. 

“Untuk itu, Yayasan Penyu Banyuwangi ingin menyelamatkan telur penyu maupun induk penyu yang bertelur di luar kawasan konservasi,” ujar pensiunan pegawai negeri sipil (PNS) yang malang melintang bertugas di TN Baluran, TN Alas Purwo, TN Bali Barat, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bandung, dan terakhir menjabat di TN Batang Gadis, Sumatera Utara tersebut.

Pria kelahiran Ciamis, 27 Juli 1955 tersebut menambahkan, lantaran bentang garis pantai Banyuwangi, yang sangat panjang, yakni sekitar 175,8 Kilometer (Km), untuk sementara fokus pelestarian penyu yang di lakukan BSTF hanya mencakup pantai di sekitar Kota Kopi. Dari selatan, wilayah kerja pelestarian penyu yang dilakukan BSTF dimulai di pantai Lingkungan Pantai rejo,Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi. 

Sedangkan batas utara yang dipantau BSTF adalah Pantai Bulusan, Kecamatan Kalipuro. Cakupan kerja yayasan penyu ter sebut termasuk Pantai Boom, Pantai Ca calan, Pantai Sobo, dan beberapa pantai yang lain. Sementara itu, Pembina BSTF Wiyanto Ha ditanojo mengatakan, motivasi melestarikan penyu itu dilatarbelakangi keprihatinan populasi penyu semakin langka. Menurut Wiwit, -sapaan akrab Wiyanto Ha ditanojo, penyu sudah ada dan bisa ber tahan hidup sejak sekitar 200 juta tahun yang lalu.

Ironisnya, sejak 20 tahun terakhir, populasi penyu merosot drastis. “Buktinya, sekitar 20 tahun lalu, banyak tukik (anak penyu, Red) yang tersangkut jaring nelayan. Kini, kejadian seperti itu sangat jarang terjadi,” kata dia. Hobi memelihara kura-kura dan ditun jang sarana yang dimiliki, Wiwit yang me rupakan mantan pengusaha ikan hias itu mulai berupaya menangkarkan telur penyu. 

Setelah menetas, telur penyu tersebut di lepas kembali ke laut. “Kalau upaya melestarikan penyu tidak dilakukan, bisa-bisa anak cucu kita tidak akan bisa melihat penyu,” tutur pria yang beralamat di jalan KH Wahid Hasyim 42 Banyuwangi tersebut. Wiwit menambahkan, pihaknya membuka pintu lebar-lebar bagi semua pihak yang ingin ikut ambil bagian melestarikan penyu. “Ini (BSTF) bukan lembaga provit. Siapa pun yang ingin bergabung melestarikan penyu, monggo,” pungkasnya. (radar)

Loading...