Pelari Kenya Libas Kelas 27 K

0
117
Pelari asal Kenya, Samson Karega Kamau saat tiba digaris finish.

LlClN – Kompetisi para pelari di ajang sport tourism Banyuwangi Ijen Green Run kemarin (23/7) berlangsung sengit. Usai dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dengan ritual unik, yaitu meminum air kendi yang dilakukan salah satu perwakilan pelari, ratusan pelari dari tiga kategori lomba itu secara bergantian langsung meninggalkan garis start.

Bupati Anas mengatakan, even ini tak hanya sebuah kompetisi olahraga, namun juga even tourism yang sengaja dikreasi oleh Pemkab Banyuwangi agar para pelari dapat menikmati pemandangan alam Gunung Ijen dari sisi yang lain.

“Para wisatawan selama ini hanya mengenal ljen dengan Blue Fire-nya. Tapi dengan kompetisi ini mereka bisa melihat ljen dari wilayah sekitarnya dan kehidupan tradisional masyarakatnya,” ujar alumni UI itu.

Ratusan pelari yang mengikuti kompetisi itu pun selain diramaikan pelari dari berbagai kota di Indonesia juga ada beberapa yang berasal dari berbagai negara. Seperti Jerman, Perancis, Denmark, Jepang dan Kenya. Mereka terbagi dalam tiga kategori lomba, mulai 5 kilometer, 15 kilometer, dan 27 kilometer.

Untuk kategori 27 K sengaja dilepas lebih awal karena mereka harus melalui rute yang lebih jauh dan menantang. Menyusul kemudian di belakangnya kategori 15 K, dan 5 K. Yang menarik, dalam penyelenggaraan Green Run kali ini adalah banyaknya wisatawan yang sengaja ingin merasakan nuansa berwisata yang berbeda.

Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, para wisatawan baik lokal maupun mancanegara memilih kelas 5K karena dianggap paling pendek dan cukup bagi mereka untuk merasakan sisi lain dari Ijen.

“Saya tahu dari internet, kebetulan memang mau main ke Banyuwangi. Sekalian saja ikut Green Run. Saya bukan pelari, tapi mulai suka lari. Kali ini nuansanya juga berbeda. Biasanya even lari di perkotaan, ini di wilayah hutan pinus dan pedesaan,” ujar Sunan Ruzdy, salah satu peserta asal Surabaya.

JP RaBa pun mencoba mengikuti salah satu kelas 5K untuk ikut merasakan sensasi dari Banyuwangi Ijen Green Run. Kebetulan, selain Bupati Anas, di kelas ini juga ikut hadir Miss Southeast Asia Tourism Ambassador 2016/2017, Dikna Faradiba.

Di kelas itu juga tampak beberapa wisatawan mancanegara yang ikut membawa anaknya melewati jalanan di perkebunan dan perumahan warga. “Jalurnya sulit. Apalagi ditambah banyak tanah yang basah. Tapi banyak anak kecil yang semangat, masa kalah sama anak kecil,” ujar Dikna, sambil terus berjalan.

Meski dibilang jalur paling ringan, namun banyak peserta yang tampak kepayahan dan berhenti di pemukiman warga. Beruntung, warga sekitar Desa Tamansari sangat ramah kepada para peserta Banyuwangi Ijen Green Run.

Hal itu pun dimanfaatkan beberapa peserta kelelahan untuk sekedar berhenti dan menyapa warga. Sementara itu, di kelas 27 K yang banyak dihuni pelari profesional tahun ini menjadi milik Samson Karega Kamau.

Pelari asal Kenya itu mencatat waktu tercepat dengan catatan 1 Iam 57 menit. Samson berhasil mengungguli jawara Ijen Green Run tahun 2016 lalu, Sutikno asal Lumajang dengan selisih waktu hanya 1 (satu) detik.

“Saya sangat senang bisa menang. Buat saya lintasan yang dilewati tidak terlalu berat, tapi yang membuatnya agak sulit karena jalannya sedikit licin. Tapi pemandangannya bagus, dan pelaksanaannya sangat terorganisir. Saya puas,” kata Samson usai memenangi kelas 27K Banyuwangi Ijen Green Run.

Sementara Sutikno, runner up di kelas 27 K, mengaku dirinya nyaris menjadi juara jika tidak mengalami cedera pada dua kilometer sebelum finis. Akibat cedera itu, dia pun harus merelakan podium pertama kepada Samson.

“Tiga kilometer awal semua pelari masih imbang. Setelah itu, track semakin berat sampai kilometer 21. Saya sempat memimpin, tapi sebelum finis ada masalah di kaki saya. Jadi, kemudian Samson mengambil posisi,” kata pelari asal Lumajang itu.

Sedangkan untuk kategori 27 K putri diraih Ruth Theresia, pelari asal Bandung. Ruth berhasil mempertahankan gelarnya sebagai tercepat di kategori terpanjang di Ijen Green Run. Ruth mengaku bahwa track tahun ini lebih menantang dibanding tahun sebelumnya.

Namun, kata dia, secara keseluruhan rute trail run masih enak untuk dilalui. Untuk kelas 15 K, para peserta pun mengaku jika rute cukup menantang. Terlebih di salah satu tanjakan dimana peserta baru menggunakan tali untuk berlari.

Setelah itu pelari juga masih harus menahan agar tidak tergelincir karena rute menurun tajam. “Rutenya menantang, tapi sangat menyenangkan karena alamnya bagus bisa sekaligus refreshing. Saya sangat mendukung Banyuwangi konsisten menggelar even trail run ini. Kalau yang jalanan, sudah banyak,” kata jawara kategori master 15 K, Abdul Manan. (radar)

Loading...