Pengunjung Pulau Merah Disapu Ombak

0
184

pengunjungDiselamatkan Tim Life Guard


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

PESANGGARAN – Lagi-lagi besarnya ombak di perairan Pulau Merah (PM), Kecamatan Pesanggaran hampir menelan korban jiwa. Kemarin (10/8), giliran pengunjung dari Surabaya yang menjadi korban kedahsyatan ombak Pulau Merah. Empat pengunjung nahas itu adalah Muhammad 13, Abdul Wahid 28, Irfan, 15, dan Noval 13. Keempatnya nyaris meregang nyawa ditelan ombak. Beruntung para life guard bisa melakukan pertolongan dan menyelamatkan mereka secepatnya.

Setelah berhasil dibawa ke pinggir dan mendapat pertolongan pertama gawat darurat, keempatnya akhirnya dirujuk ke Puskemas Pesanggaran. Menurut keterangan salah seorang life guard, Sulaiman, keempat pengunjung yang tinggal di Jalan Arimbi 6 Surabaya itu terseret arus saat kondisi air laut sedang pasang. “Kejadiannya saat pasang, berlangsung cepat,” ujarnya Seperti kejadian sebelumnya, para pengunjung yang terseret arus kurang mematuhi aturan dan peringatan petugas. 

“Mereka mengaku bisa berenang, dan sudah kita ingatkan,” kata Sulaiman. Sementara itu, Bejo, life guard yang melakukan pertolongan mengatakan, selain faktor kelalaian pengunjung, pihaknya berharap ada penambahan kelengkapan keselamatan untuk pengunjung pantai. “Kita berharap ada alat tambahan, minimal satu jetskilah,” harapnya. Sementara itu, humas life guard Fendi mengatakan, sampai saat ini timnya masih menggunakan board manual untuk menolong korban terseret arus.

Padahal, pertolongan kecelakaan di laut harus bertaruh dengan waktu. Belum lagi, keterbatasan board manual adalah saat ombak besar maka lajunya akan tertahan bahkan terhempas ombak. “Padahal kalau yang board itu bisa terhempas ombak,” keluhnya. Pihaknya berharap ada kebijakan dari pihak Perhutani sebagai pihak yang berwenang di lokasi ini untuk lebih memperhatikan kondisi mereka. Hal ini karena menyangkut keselamatan dan kenyamanan pengunjung yang akhirnya juga demi kemajuan pulau merah. 

“Perhutani agar lebih memperhatikan kita, khususnya peralatan life guard,” harapnya. Jika kondisi tetap demikian, pihaknya tidak segan-segan “menutup” Pulau Merah dengan cara menggratiskan tiket. Selama ini perolehan tiket yang masuk sebagian besar menjadi kas Perhutani. Secara umum, perolehan tiket separo masuk Perhutani dan separo masuk ke dalam kas pengelola.

”Sementara biaya perawatan, akomodasi life guard dan kebutuhan lainnya dibebankan kepada pengelola. Kalau tetap demikian kita akan gratiskan pengunjung,” ancamnya. Salah seorang pengunjung yang juga saksi mata, Trias Hanas, 25 mengaku melihat korban sudah terseret ke tengah. Kendati kunjungannya bersamaan dengan adanya kecelakaan laut, dirinya mengaku tetap merasa biasa saja berada di Pulau Merah. “Saya biasa saja, ya lebih berhatihati,” kata Trias. (radar)

Loading...