Pengusaha Bahas Reschedule Garuda

  • Bagikan

bahasReschedule Garuda

BANYUWANGI – Lintas elemen berkumpul di Pendapa Sabha Swagata Blambangan kemarin (20/4). Para Owner perusahaan yang beroperasi di Banyuwangi, kalangan birokrat, travel agent, dan kalangan perbankan itu berkumpul membahas langkah-langkah optimalisasi penerbangan Garuda Indonesia, khususnya rute Denpasar-Banyuwangi. Pertemuan kali ini juga melibatkan unsur Dewan Kesenian Blambangan (DKB) sebagai salah satu stakeholder bidang budaya dan pariwisata di Bumi Blambangan. ]

Selain itu, General Manager (GM) Garuda Indonesia Cabang Banyuwangi, Ismugito Waluyo, juga hadir dalam pertemuan kali ini. Menurut Ismugito, Banyuwangi memiliki potensi yang sangat besar, baik di sektor pariwisata maupun industri. Kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini dia prediksi hanya butuh waktu dua sampai tiga tahun untuk melesat. “Untuk menjadi seperti saat ini, Lombok butuh waktu sekitar enam tahun. Tetapi, khusus Banyuwangi, saya yakin hanya butuh waktu dua atau tiga tahun sudah bisa take off,” ujarnya.

Ismugito menuturkan, sejak Garuda Indonesia terbang di Banyuwangi pada 1 Mei 2014, traffic penumpang menunjukkan progress yang sangat baik. Perkembangan menggembirakan itu khususnya terjadi di rute Surabaya-Banyuwangi pergi pulang (PP). “Namun, khusus rute Denpasar-Banyuwangi, perlu dikembangkan,” kata dia. Ketua DKB, Samsudin Adlawi mengatakan, DKB dan Pemkab Banyuwangi sudah mati-matian menggelar even untuk menarik wisatawan berkunjung ke kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini. Bahkan, tahun ini ada 38 even yang digelar dalam rangkaian Banyuwangi Festival 2015. “Kami menyusun kalender tujuannya cuma satu, yakni menarik banyak orang datang ke Banyuwangi,” kata dia.

Menurut Samsudin, ceruk pasar wisata Banyuwangi berada di Bali. Tahun lalu ada sekitar 6 juta wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Pulau Dewata itu. “Kalau sepuluh persen saja bisa kita tarik ke Banyuwangi, itu sudah bagus,” tutur pria yang juga direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi tersebut. Samsudin menambahkan, ada satu peluang terbuka yang selama ini belum tergarap optimal, yakni wisata religi. “Umat Hindu di Bali banyak yang datang ke Banyuwangi untuk beribadah di  pura Agung Blambangan.

Itu  bisa dikembangkan,” tandasnya. Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, load factor penerbangan Garuda Indonesia di Banyuwangi, khususnya rute Surabaya- Banyuwangi  PP, sudah bagus. Begitu juga dengan rute Banyuwangi-Denpasar. “Tetapi, penerbangan rute Denpasar-Banyuwangi ternyata masih kecil,” kata dia. Nah, oleh karena itu, Bupati Anas mengundang lintas elemen untuk mengetahui penyebab cenderung  kecilnya okupansi pesawat rute Denpasar-Banyuwangi.

 Dalam pertemuan tersebut terungkap, salah satu faktor yang  menyebabkan load factor Garuda Indonesia rute Denpasar-Banyuwangi cukup kecil adalah jadwal terbang yang terlalu pagi, yakni pukul 07.00 WITA atau 06.00 WIB. “Karena terlalu pagi, diusulkan agar jadwal terbang Garuda rute Denpasar- Banyuwangi dipindah ke waktu yang lebih siang. Setelah dipindah  lebih siang, harapan kami load factor-nya menjadi lebih tinggi. Kemungkinan Garuda akan memenuhi usul perubahan jadwal terbang ini,” cetus Anas. (sgt/c1/aif

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: