Polisi Adem Ayem Sikapi Pemalakan

  • Bagikan

BANYUWANGI – Aksi pemalakan yang diduga dilakukan sopir Trooper terhadap wisatawan Gunung Ijen belum disikapi aparat kepolisian. Kendati kejadian itu sudah kerap dilakukan sopir Trooper, polisi adem ayem. Sampai sekarang belum ada tindakan konkret kepolisian dalam menindak para sopir Trooper yang meresahkan wisatawan tersebut. Pasca-pemalakan yang menimpa Cu’un, 32, warga Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi, kasus itu semakin ramai diperbincangkan di dunia maya.

Lewat jejaring Facebook, warga berharap ada tindakan tegas terhadap sopir Trooper. Lantaran merasa tidak aman lewat Dusun Jambu, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, warga menyarankan jika ingin mengunjungi Ijen sebaiknya lewat Bondowoso. Disana lebih aman karena tidak ada pemalakan. Dikonfirmasi masalah tersebut, Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi, M.Y. Bramuda mengatakan, pihaknya akan bertindak lebih tegas terkait maraknya aksi pemalakan yang menimpa wisatawan Ijen itu.

Baru dua minggu lalu pihaknya berkomunikasi dengan perwakilan para Trooper agar tidak melakukan pemaksaan terhadap para wisatawan yang akan menuju Kawah Ijen. Saat ini, lanjut Bramuda, perjanjian kerja sama (PKS) terkait pemberdayaan masyarakat sekitar tempat wisata Gunung Ijen sedang dirancang di DPRD. Rencananya, pembahasan aturan itu akan selesai pekan depan. “Kita sudah bicara dengan para Trooper. Kita juga sudah meminta pihak polsek melakukan patroli terkait kondisi tersebut.

Tapi, mungkin oknum tersebut memanfaatkan kelengahan petugas,” kata Bramuda. Sejak kasus pemalakan itu mulai terdengar beberapa bulan lalu, Muspika Licin sudah bergerak untuk menindak para oknum pemalak tersebut. Meski sudah dipantau, para sopir Trooper tetap bisa memanfaatkan situasi. ”Dalam PKS, regulasi memberdayakan masyarakat sekitar sudah diatur agar warga ikut merasakan manfaat atas berkembangnya wisata Ijen,” jelas Bramuda. 

Pihaknya sangat menyesalkan ulah oknum Trooper tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan oknum Trooper itu tidak bisa dibenarkan. Yang jelas, peraturannya terkait Trooper itu minggu depan sudah selesai. Terkait pelanggaran seperti itu, pihaknya minta muspika bertindak lebih tegas. ”Kita juga berencana membuka rest area khusus mobil bekerja sama dengan Perkebunan Lidjen. Hal itu demi mempermudah wisatawan,” tandasnya.

Diberitakan sebelunya, Gunung Ijen masih menjadi tempat yang nyaman bagi kalangan wisatawan. Sayang, kedatangan wisatawan itu dibarengi dengan tindakan tak nyaman yang diduga dilakukan oleh para sopir kendaraan jenis Trooper. Meski sudah pernah disorot media, ulah tidak terpuji sopir Trooper itu tetap terjadi. Mereka memalak wisatawan dengan biaya yang cukup tinggi. Para pelaku palak itu mengaku aksinya tersebut sudah sesuai peraturan desa (perdes).

Padahal, perdes yang dimaksud masih dalam tahap verifikasi. Informasi yang diterima Jawa Pos Radar Banyuwangi, kali ini korban aksi pemalakan dialami Cu’un, 32, warga Kelurahan Tukang Kayu, Banyuwangi. Ceritanya, Sabtu siang kemarin (25/4) Cu’un menuju wisata Gunung Ijen mengendarai mobil Innova bersama rekan-rekannya. Pukul 01.00, rombongan Cu’un sampai di pertigaan Jambu, Desa Kilensari, Kecamatan Licin.

Dia terpaksa menghentikan laju kendaraannya karena dihalau oknum Trooper yang biasa mangkal di lapangan dekat pertigaan Jambu tersebut. Setelah berhenti di pertigaan, Cu’un yang belum mengetahui apa alasan dihentikan tersebut membuka pintu jendela mobilnya. Tanpa disangka, ternyata oknum yang menghentikan laju kendaraannya tersebut meminta agar dia dan rombongan ganti naik Trooper. Tentu harus membayar sejumlah uang. Pada waktu kejadian, oknum Trooper tersebut meminta uang Rp 350 ribu. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: