Banyuwangi, Jurnalnews.com – Kelangkaan pupuk subsidi di wilayah Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, kian membuat petani kelimpungan. Memasuki Januari, masa krusial pemupukan tanaman jagung, para petani justru dihadapkan pada minimnya pasokan pupuk, sementara tanaman mulai menunjukkan gejala menguning.
Suryadi, petani asal Dusun Krajan II, Desa Alasbuluh, yang tergabung dalam Kelompok Tani Makmur Jaya, mengaku hingga kini belum menerima jatah pupuk subsidi sama sekali. Padahal, pada musim tanam sebelumnya ia biasa memperoleh pupuk antara 1,2 hingga 1,4 kuintal.
“Biasanya dapat jatah, tapi sekarang sama sekali belum. Lahan saya sekitar dua hektare. Biasanya ambil di kios H. Asmuni, barat Pasar Wongsorejo, tapi sampai sekarang belum ada kabar. Akhirnya terpaksa beli pupuk non-subsidi,” keluh Suryadi kepada Jurnalnews
Keluhan serupa disampaikan Agus Purna Irawan, petani asal Dusun Krajan, Desa Wongsorejo, yang tergabung dalam Kelompok Tani Rawit Wongsorejo. Ia mengaku sudah mendatangi kios pupuk, namun mendapat jawaban bahwa stok pupuk subsidi telah habis.
“Saya bingung, ini sudah waktunya memupuk, tapi pas ke kios mau ambil pupuk, katanya sudah habis dan belum ada kiriman lagi,” ujar Agus.
Sementara itu, Buniman, petani jagung asal Desa Sidowangi, juga mengalami nasib serupa. Ia terpaksa membeli pupuk non-subsidi demi menyelamatkan tanamannya agar tidak semakin rusak.
“Saya tanya ke kios UD Subur Galekan, katanya pupuknya sudah habis. Datangnya sedikit, yang dapat juga sedikit. Terus bagaimana nasib petani kalau terus seperti ini?” keluh Buniman, Sabtu (17/1/2026).
Kelangkaan pupuk subsidi ini diharapkan segera mendapat perhatian dari pihak terkait. Petani berharap distribusi pupuk dapat segera diperbaiki agar masa pemupukan tidak terlewat, mengingat keterlambatan pemupukan dapat berdampak langsung pada hasil panen dan pendapatan mereka. (Venus Hadi).








