Rajin Tahajud dan Puasa Senin-Kamis

0
686
NGAMEN: Paiman alias Beni (bergitar) dan kawan-kawan di atas bus kemarin.

Paiman alias Beni, 43, termasuk pengamen jalanan yang ulet. Dari hasil menjual
suara di dalam bus, dia mampu mengantarkan anaknya kuliah.
-ABDUL AZIZ, Genteng-


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

“ASSALAMUALAIKUM, selamat siang saudara sebangsa dan se-tanah air. Mohon maaf bila mengganggu ketenangan Anda dalam perjalanan, dan izinkan kami mencari sedikit rezeki di dalam bus ini.’’ Tak lama kemudian, alunan lagu dangdut Jawa berjudul Stasiun Balapan diiringi suara gitar dan kendang terdengar di dalam bus yang berhenti di jalan sisi utara Terminal Lama Genteng siang itu.

Begitu lagu tersebut hampir selesai dinyanyikan, salah satu dari ketiga pria yang mengamen tersebut berjalan dari kursi bagian depan menuju bagian belakang untuk sekadar menarik uang dengar kepada para penumpang. Sebagian penumpang ada merogoh koceknya lalu memberikan uang receh atau ribuan, tapi ada juga yang cuek dan tak menghiraukan.

Siang itu, sebagaimana hari-hari biasanya, Beni dan kedua rekannya, Sairi dan Anggi, mengamen di dalam bus yang berhenti di depan Terminal Lama Genteng. Setiap pagi, Beni bersama Sairi, warga Desa Sumbersari, Kecamatan Srono, dan Anggi, warga Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, memang selalu mangkal di depan terminal bus tersebut. Mereka sudah lama menjadi pengamen.

Beni sebagai vokal dan pemetik gitar, dan Anggi sebagai penabuh gendang. Sairi bertugas menarik atau meminta uang receh kepada para penumpang. Setiap hari, mereka mengamen mulai pagi sampai sore. Sepanjang hari itu, mereka rata-rata bisa mengais uang Rp 90 ribu. “Uang segitu kita bagi bertiga. Jadi rata-rata kita dapat 30 ribu per hari,” kata Beni.

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | ... | Next → | Last