Residu Bisa Dimanfaatkan Menjadi Pupuk

0
162

risiduPENSIUNAN kreatif itu bernama Satiran Warto Waluyo. Usia pensiunan PT. Kertas Basuki Rahmat (PT KBR) Banyuwangi itu sudah 67 tahun. Kini mantan kepala regu elektrolisa pabrik kertas itu tinggal di Perumahan Kalipuro Asri, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Pria kelahiran Desa Siliragung itu memiliki sebuah ide membangun PLTSa. Rancangan lelaki itu dilandasi pengalaman di bidang teknik yang dikombinasi dengan ilmu kimia dan teknologi mesin industri.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Berdasar pengalamannya selama puluhan tahun, Satiran mengaku telah memiliki rancangan PLTSa itu. Saat duduk di ruang tamu rumahnya, Satiran me nunjukkan gambar rancangan sebuah in stalasi pabrik pengolah sampah. Secara detail, dia menyampaikan cara kerja instalasi itu mengolah sampah menjadi energi.Menurut Satiran, pembangkit listrik yang dia gambar itu setidaknya membutuhkan sekitar 100 ton sampah per hari. Dengan teknologi magnetik, sampah akan terpilah antara sampah logam dan sampah jenis lain.  

Selanjutnya, sampah itu dihancurkan hingga berbentuk serpihan. Nah, serpihan sampah itu dimasukkan ke dalam sebuah boiler setinggi 45 meter yang bersuhu 1.000 derajat Celcius. Guna melindungi logam-logam yang mengelilingi boiler  tidak melebur, Satiran akan melapisi logam itu dengan pelapis berbahan keramik. Setelah itu, hasil pembakaran sampah tersebut akan dipisah lagi, sehingga ada bagian yang dibakar lagi guna mendorong generator.

Sisanya akan menjadi residu. Dalam rancangannya, Satiran mengaku juga menerapkan teknologi water treatment untuk mengolah air limbah menjadi air bersih. Pria yang juga sempat menangani gas khlor saat bekerja di pabrik kertas itu menjamin rancangannya aman terhadap lingkungan. Dia juga menjamin sampah yang dikelola akan benar-benar bermanfaat. Bahkan, residu yang dihasilkan bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Satiran mengatakan, teknologi yang dia rancang jika terwujud bukan hanya dapat memenuhi kebutuhan listrik di Banyuwangi.  

Lebih dari itu, listrik yang dihasilkan juga bisa memenuhi kebutuhan wilayah sekitar. Karena itu, bahan baku sampah bisa diperoleh dari Banyuwangi dan daerah sekitarnya. Saat ditanya mengenai bukti rancangannya, Satiran mengatakan bahwa kemiskinan membuatnya tidak bisa membuktikan apa pun. “Tidak ada apa pun yang saya miliki selain ilmu yang melekat di kepala saya. Karena itu, saya ingin agar ilmu saya berguna untuk Banyuwangi,” ujarnya sambil menunjukkan  kartu Jamkesmas dan Kartu Miskin.

Jika dilihat secara seksama, gambar karya Satiran itu sebuah rancangan megaproyek pembangkit listrik. Satiran mengakui bahwa pembangkit listrik memang seharusnya berukuran besar. Jika ukurannya kecil, maka tenaga yang dihasilkan juga kecil dan biayanya tetap besar. Dalam pikiran Satiran, Banyuwangi ke depan akan menjadi sebuah kota yang besar. Karena itu, dia berharap idenya itu menjadi salah satu dari bagian kemajuan Banyuwangi. 

Satiran tidak menampik bahwa salah satu tujuannya terkait rancangan proyek itu adalah untuk memperoleh uang. Namun, uang tersebut ingin dia gunakan menyempurnakan rancangan tersebut agar dapat memberikan lebih banyak ide kepada pemerintah. Menurut Satiran, alangkah baiknya negara Indonesia yang selama ini menggunakan jasa dan teknologi asing mau mengembangkan ide anak bangsa. Dia berharap karyanya dilirik pemerintah daerah. “Saya berharap bupati mau memberi saya waktu tiga menit saja untuk menjelaskan ide saya ini,” tuturnya.

Selain itu, Satiran juga ingin bertemu Menteri BUMN Dahlan Iskan. Selain karena samasama orang yang memahami dunia kelistrikan, Satiran berharap Dahlan Iskan memahami idenya lebih luas. Ada ide juga terkait pembangkit listrik tenaga angin yang bisa dimanfaatkan permukiman terpencil, ada juga pembangkit listrik tenaga gravitasi, serta pengelolaan air hujan. Tetapi, Satiran menyadari bahwa sangat kecil kemungkinan mimpinya itu terlaksana. ‘’Sangat menyesal jika sampai ide-ide di kepala ini dibawa ke liang lahat tanpa manfaat sedikit pun bagi bangsa,” pungkasnya. (radar)

Loading...