Ribuan Warga Saksikan Banyuwangi Kite Festival

0
773

BANYUWANGI – Suasana kawasan pantai Boom Banyuwangi Sabtu siang kemarin (15/8) terlihat cukup meriah.  Ratusan orang berkerumun di hamparan  pasir dengan membawa benang dan  layang-layang.  Tak hanya layangan konvensional model wajik, beberapa layang-layang dengan motif penari gandrung, seblang, dan  kebo-keboan, tampak mengangkasa dengan indah.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Layang-layang cantik berukuran besar tersebut memeriahkan acara Banyuwangi Kite Festival yang digelar di Pantai Boom. Festival kali ini memang tergolong berbeda dengan yang lain. Meski baru kali pertama digelar, antusias warga yang mengikuti lomba tersebut sangat besar.

Ratusan peserta dari segala usia turut memeriahkan lomba layangan tersebut. Bahkan, pelantun lagu “Layangan”, yaitu  Catur Arum, turut menerbangkan layangan hias. “Saya senang sekali ada lomba seperti ini. Malah saya berharap setiap tahun lomba semacam ini diadakan.

Saya bersama sepuluh orang membuat layangan ini selama sepuluh hari,” kata Catur. Catur yang mewakili Kecamatan Banyuwangi menampilkan layang-layang berbentuk omprog (mahkota penari gandrung) dengan diameter dua meter.

Total hadiah lomba yang mencapai Rp 30 juta rupanya cukup menarik minat masyarakat, sehingga semua berlomba-lomba membuat layang-layang terbaik. Ragam corak layang-layang bermotif budaya khas Banyuwangi yang ditampilkan dalam lomba layangan hias ini bisa dibilang  bermacam-macam.

Ada barong banyuwangi, seblang, kelelawar,  buah naga, demit (setan) alas  purwo, dan ada pula gandrung. Bentuknya yang besar, sedikit membuat kerepotan peserta saat  akan menerbangkannya. “Butuh  lima orang untuk menerbangkan layangan seblang ini karena berat.

Untung angin di Pantai Boom kencang, jadi sangat membantu layangan terbang di udara. Sebelum membuat, kita ritualkan dulu layangan ini” kata Sumardi, peserta asal Kecamatan Glagah. Pada Kite Festival yang masuk  rangkaian agenda Banyuwangi  Festival 2015 itu ada tiga kategori  yang dilombakan.

Pertama, menerbangkan layangan ke udara. Kedua, bendhetan (adu layangan di udara). Ketiga, adu suwangan atau dengung suara layangan. Layangan suwangan adalah layangan hias yang berpendar di angkasa yang mengeluarkan bunyi atau suara akibat tiupan angin.

Bukan hanya peserta yang tampak gembira melakukan permainan tradisional khas Indonesia itu, Bupati Abdullah Azwar Anas dan Wabup Yusuf Widyatmoko juga turut menerbangkan layangan hias. “Sulit juga ya ternyata. Tidak semudah yang  kita lihat.

Apalagi, saya terakhir memainkannya saat masih SD dulu. Menyenangkan bisa memainkannya lagi,” kata Anas. Bupati Anas mengatakan, tujuan festival ini adalah pengingat  bagi masyarakat, terutama anak-anak, yang kini mulai melupakan permainan tradisional  dan beralih ke gadget.

Banyak filosofi yang terkandung dalam permainan ini, mulai semangat kebersamaan hingga mengasah kreativitas. “Ini sebagai ruang alternatif bagi anak-anak biar nggak main games terus. Bermain layangan ini otomatis juga meningkatkan adrenalin dalam tubuh kita, sehingga mampu memicu tumbuhnya spirit dan kreativitas,” kata Anas sesaat setelah menerbangkan layang-layang  bermotif capung merah  putih di Pantai Boom tersebut.

Ragam corak budaya dalam layang-layang, kata Anas, merupakan hasil kreasi warga yang kelak bisa dijadikan cenderamata  khas Pantai Boom, Banyuwangi. Melihat antusias warga yang terlibat acara tersebut, bupati berjanji menjadikan festival  itu sebagai agenda tahunan.

“Ini sudah menjadi tradisi masyarakat. Karena tradisi, maka  kegiatannya tidak mahal, tapi melibatkan banyak orang. Selain itu, sesuai potensi geografis Banyuwangi  yang garis pantainya sangat panjang, cocok untuk  festival semacam ini.

Tinggal dikreasikan, jadinya menarik kan?” imbuhnya. Setelah Bupati Anas mencoba menerbangkan layang-layang, para kepala satuan kerja perangkat daerah (SKPD) berkesempatan  menerbangkan layangan bendhetan. “Kalau saya terakhir  waktu jadi kepala sekolah di  Purwoharjo, jadi masih ingatingat sedikit,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Sulihtiyono.

Sebelum lomba layang-layang  berlangsung, beberapa siswa TK  dan SD ikut berpartisipasi dalam lomba menghias layang-layang. Saat lomba berlangsung, mereka ikut mengamati orang-orang dewasa yang tampak gembira seperti anak-anak sedang menerbangkan  layang-layang.

Hingga sore menjelang, antusiasme peserta dan penonton menikmati festival layang-layang masih tinggi. Meski terik matahari sangat menyengat, mereka tetap menengadahkan wajah ke langit melihat aneka ragam layangan  yang sedang mengangkasa.

Apalagi, di sekitar Pantai  Boom sedang dibuka pameran batu akik, sehingga suasana semakin ramai. Pada kesempatan itu Bupati Anas diberi sebuah batu akik jenis kelabang abang oleh salah seorang pedagang. “Pedhotelayangan seng dadi paran, tapi ojok sampek pedhot seduluran,” dendang lagu layangan yang dilantunkan Catur Arum itu  mengiringi festival tersebut hingga usai. (radar)

Loading...

[AWPCPRANDOMLISTINGS limit=1]

Kata kunci yang digunakan :