Rumah Terendam, Warga Lantunkan Azan

0
1453
Warga barfoto dengan latar luapan air banjir di Dusun Gurit, Desa Pengatigan, Kecamatan Rogojampi, Kami lalu (8/6).

JARUM jam masih menunjukkan pukul 07.00. Hujan masih terus mengguyur cukup deras di Desa/Kecamatan Rogojampi. Aktivitas warga tetap berlangsung seperti biasa, ada yang berangkat kerja menuju kantor dan mengantarkan putra-putrinya ke sekolah.

Semangat warga tak surut untuk tetap beraktivitas di bawah guyuran hujan deras. Kondisi jalan yang sudah diguyur hujan sejak pukul 01.30 sudah mulai tergenang air, dengan ketinggian hanya sekitar 20 centimeter.

Hanya beberapa ruas badan jalan saja yang tergenang dan letaknya memang di dataran rendah. Situasi berbeda justru dirasakan warga yang tinggal di Perkampungan RW 3, Gang Sawo, Dusun Maduran, Desa/Kecamatan Rogojampi, yang merupakan salah satu kawasan langganan banjir di Rogojampi.

Guyuran hujan yang tidak kunjung berhenti, semakin menyebabkan pikiran mereka kalut. Betapa tidak, bagi warga yang tinggal di dekat aliran sungai Dam Rejeng tersebut, jika hujan turun dengan intensitas deras dengan waktu lebih dari empat jam, bisa dipastikan musibah akan mengancam kampung mereka.

“Begitu hujan lebih dari empat jam, saya langsung memantau debit air sungai,” ujar Bayu Bachtiar, pemuda warga Gang Sawo. Prediksi warga itu pun tak meleset. Hanya berselang 30 menit, atau sekitar pukul 07.30. Air yang mengalir di saluran Dam Rejeng mulai naik, dan masuk ke gang-gang perkampungan.

Tak ada peringatan dan tanda komando apa pun, warga dengan mandiri mulai bergegas menghalau air yang datang agar tidak masuk ke dalam rumah. Suami istri dan anak-anak dalam satu keluarga bahu membahu.

Ada yang memasang balok kayu, ada pula yang memasang karung berisi pasir di depan pintu rumah. Tak kalah pentingnya, peralatan dan perabot rumah tangga juga mulai diselamatkan dengan diletakkan di tempat yang lebih tinggi.

Peralatan elektronik seperti televisi, kulkas, magic com, komputer, sebisanya diletakkan di atas meja. Ini dilakukan untuk menghindari luapan air banjir yang masuk ke dalam rumah. Ancaman banjir itu pun datang. Air yang meluap ke perkampungan warga semakin tinggi.

Semula hanya menggenangi gang sempit dengan ketinggian hanya 30 centimeter, mulai naik dengan ketinggian 50 centimeter. Seketika itu pula air membeludak, dan merangsek masuk ke sela-sela dalam rumah warga.

Tak banyak yang bisa dilakukan warga. Mereka tampak pasrah, dan hanya bisa melihat seisi ruangan dalam rumahnya digenangi air bercampur lumpur. Sejumlah pemuda kampung keluar rumah.

Mereka tampak siaga dengan berjalan kaki memantau kondisi luapan air yang masuk ke kampung. Sesekali mereka juga bergotong royong membersihkan sampah yang melintang dan menghambat jalannya air.

“Kalau ada kayu melintang dan sampah merryumbat saluran air, langsung kami buang, Kalau tidak dibuang, maka air yang naik ke perkampungan akan semakin tinggi,” ujar Rendi, pemuda Gang Sawo.

Luapan air yang masuk di gang perkampungan warga semakin kencang dan deras. Di bawah guyuran hujan, para pemuda kampung mulai gerilya menanyakan warga yang sudah tua. Lansia yang tak mampu berjalan, segera diselamatkan dan dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

Air banjir yang semula menggenangi perkampungan warga mulai tumpah ke jalan raya poros Rogojampi. Hilir mudik kendaraan pun terganggu. Tidak sedikit motor yang mogok terjebak macet. Motor macet itu pun harus segera didorong.

Situasi akhirnya benar-benar kacau. Semua akses jalan di perkampungan Gang Sawo dan Candian, Dusun Maduran, berubah menjadi aliran air mirip sungai. Banjir itu merupakan genangan air terparah sepanjang 20 tahun terakhir, sejak tahun 1997 silam.

“Banjir memang sangat besar, semoga ini yang terakhir dan tidak terulang kembali. Apalagi sudah mau lebaran,” harap Rendi.

Warga mulai panik seiring air banjir yang semakin tinggi dan guyuran hujan yang tak kunjung berhenti. Tak kuasa melihat situasi yang tak wajar itu, tak sedikit warga yang menyebut nama Allah, bahkan juga beberapa kali warga melantunkan azan, dengan harapan hujan segera reda, dan air banjir segera surut.

Di tengah situasi masyarakat yang kalut, tak kalah sibuknya, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan, Guntur Priambodo dan Camat Rogojampi, Nanik Machrufi terjun ke lokasi banjir. Aparat pemerintah itu mencari solusi agar air yang menggenangi perkampungan segara surut.

“Kami sudah atur dengan membagi air dengan membuang ke saluran sungai besar, tapi memang curah hujan tinggi dan debit air cukup tinggi,” ujar Guntur Priambodo yang sudah basah kuyub di lokasi banjir, meski berbusana batik dan masih bersepatu pantofel.

Camat Rogojampi, Nanik Machrufi benar-benar sibuk. Tujuh desa di wilayahnya di kepung banjir. Ketika terjun langsung melihat situasi banjir itu, perempuan langsung memerintahkan Satpol PP membuat saluran pembuangan pada trotoar yang terdapat gorong-garong. Saluran buang itu agar tak lagi tergenang, air segera terbuang ke sungai.

Aparat kepolisian, TNI AD, Petugas Taruna Siaga Bencana (Tagana) Dinas Sosial, Badan Bencana Daerah (BPBD) tak kalah sibuknya. Mereka saling bagi tugas. Ada yang mengatur arus lalu lintas yang macet akibat terjangan banjir. Ada juga yang terus memantau kondisi warga jika perlu dilakukan evakuasi.

“Tidak sampai ada yang dievakuasi, dan warga tetap bertahan di dalam rumah mereka masing-masing,” ujar Camat Nanik. Baru pada pukul 12.00 banjir mulai surut. Air yang semula menggenangi rumah-rumah warga, hanya meninggalkan material lumpur.

Seketika itu, warga juga mulai membersihkan lumpur bekas banjir menggunakan peralatan seadanya dan menyemprotkan air bersih. Peralatan dan perabot rumah tangga juga dikeluarkan dari dalam rumah ke halaman untuk di jemur dan ditata kembali.

Melihat peralatan dapur warga yang sudah hanyut terbawa derasnya air banjir, dan warga yang sibuk bersih-bersih rumah pasca banjir itu, Camat Nanik mencoba menghubungi dapur umum milik Tagana Dinas Sosial.

Camat juga menghubungi serta pemadam (PMK) dan Satpol PP untuk turut membantu warga membersihkan endapan lumpur sisa banjir.

“Warga sudah payah membersihkan rumah mereka, sementara waktu sudah sore dan tidak mungkin warga memasak untuk kebutuhan buka puasa. Maka butuh dapur umum untuk memberikan suplai makanan kepada warga yang mmahnya merendam Kami berupaya semaksimal mungkin memberikan pelayanan dan ketenangan warga,” tandas Nanik. (radar)

Loading...


Kata kunci yang digunakan :