Salat Tarawih Berjamaah dengan Warga NU

0
373
TOKOH: Jainudin menunjukkan kalender Aboge di Desa Sragi, Songgon.
TOKOH: Jainudin menunjukkan kalender Aboge di Desa Sragi, Songgon.

Populasi penganut Islam Kejawen Alif Rebo Wage (Aboge) di Desa Sragi, Kecamatan Songgon, hanya sekitar 20 orang. Itu pun usia mereka rata-rata sudah tua. Seperti apa kehidupan mereka?


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-ALI NURFATONI, Songgon-

“MARI silakan masuk”. Begitulah ucapan yang pertama kali terdengar dari mulut Jainudin, 55, saat menerima kedatangan wartawan koran ini Jumat malam lalu (10/8). Setelah mempersilakan duduk di ruang tamu, bapak satu anak tersebut mulai menanyakan maksud kedatangan wartawan koran ini. Setelah itu, kakek lima cucu itu menjelaskan panjang lebar mengenai ajaran Aboge.

Dengan masih mengenakan sarung dan kemeja batik plus songkok hitam, dia mulai menceritakan awal mula lahirnya paham Islam Kejawen. Jainudin menegaskan bahwa ajaran Aboge merupakan ajaran ahlusunnah wal jamaah. Sebab, tata cara dan pelaksanaan ibadah yang mereka lakukan , mulai salat wajib hingga puasa, nyaris sama. Tuhan juga satu, yaitu Allah Subhanahu Wata’ala.

Aboge juga meyakini bahwa nabi dan rasul terakhir adalah Muhammad Sallallohu Alaihi Wassalam. Pada bulan Puasa, kelompok Abo- ge juga melaksanakan salat tarawihberjamaah dengan orang Islam ma-yoritas dalam satu masjid. Menjadi Imam pada salat sunah itu juga diberlakukan aturan bergilir alias bergantian. Jadi, di lingkungan tersebut nyaris tidak bisa dibedakan mana kelompok Aboge dan warga Nahdlatul Ulama (NU).

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last