Santri Difabel Asal Kembiritan Juara Baca Selawat

0
170
Bagus Abdilah saat melantunkan selawat nabi di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo.

BANGOREJO – Memiliki keterbatasan fisik tak halangi Bagus Abdillah, 14, asal Dusun Pandan, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, untuk berprestasi. Santri di Pondok Pesantren Salafiyyah Syafi’iyyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangorejo, itu memiliki suara emas.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dalam lomba salawat tingkat SMP se Kabupaten Banyuwangi di tahun 2017, siswa kelas VIII SMP yang tidak memiliki kedua kaki mulai lutut itu berhasil menjadi juara pertama. “Sebenarnya saya itu pemalu,” kata Bagus Abdillah.

Suara emas Bagus itu, sempat ditunjukkan dalam wisuda TPQ di pesantrennya, Selasa (15/5) lalu. Dalam acara itu, Bagus membacakan selawat yang seolah menghipnotis pengunjung yang ada. “Saya itu hanya ini yang bisa, saya belajar selawat sejak setahun lalu,” ujarnya.

Bagus menyampaikan, keluarga dan guru menjadi motivatornya untuk tetap terus belajar dan mengenyam pendidikan. “Orang tua dan para guru yang sering memotivasi saya untuk terus mengenyam pendidikan, keterbatasan fisik bukanlah kelemahan,” cetusnya.

Kepala SMP Salafiyyah Syafi’iyyah Desa Sukorejo, Muhammad Badrudin mengatakan, untuk memotivasi anak difabel seperti Bagus, sekolah memberi skala prioritas. Untuk memberi motivasi, butuh waktu selama dua tahun.

“Dulu Bagus itu sulit bergaul, minder dengan keadaan fisiknya. Tapi setelah menemukan bakat yang ada dalam dirinya, sifat mindernya itu lama-lama hilang,” ungkapnya.

Badrudin menyebut Bagus pernah mendapatkan prestasi dengan menyabet juara pertama dalam lomba selawat tingkat SMP se Kabupaten Banyuwangi di tahun 2017. “Bagus sering mengisi acara di sekolah dan tempat lain,” tandasnya.

Loading...