Sastrawan ‘Candra Malik’ Meriahkan Festival Sastra Banyuwangi

0
153
Foto: banyuwangikab

BANYUWANGI – Banyuwangi kembali menghadirkan Festival Sastra. Selain dihadiri ratusan pegiat sastra se-Banyuwangi, festival yang digelar di pendopo Banyuwangi ini juga dihadiri sejumlah sastrawan, salah satunya Candra Malik. Ada pula sastrawan asal Banyuwangi Fatah Yasin Nor, Samsuddin Adlawi, Bambang Lukito, hingga Iqbal Baraas.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Dilansir dari banyuwangikab, saat tiba di festival, Candra langsung ditodong membacakan puisi.

Berduet dengan sastrawan Samsuddin Adlawi, Candra membawakan karyanya yang berjudul Akulah Perjumpaan. Dengan suaranya yang khas, Candra berhasil membuat peserta larut terdiam menyimak karyanya.

Candra mengapresiasi Banyuwangi yang telah konsisten menggelar festival sastra selama tiga tahun terakhir.

“Festival sastra ini akan menggiatkan budaya literasi di kalangan generasi muda, sekaligus proses regenerasi sastrawan di Banyuwangi,” ungkap Candra, Rabu (3/7/2019).

“Konsistensi mengajak generasi muda untuk mencintai sastra ini akan membawa festival sastra Banyuwangi semakin diperhitungkan banyak kalangan,” imbuhnya.

Ditunjang bahan-bahan sastrawi yang banyak terserak di Banyuwangi, mulai dari sejarah hingga keindahan alamnya dinilai akan menyuburkan tradisi sastra di Banyuwangi.

Candra melanjutkan, yang menarik dari festival sastra ini adalah digelar di tengah berkembangnya pariwisata Banyuwangi. Sastra secara tidak langsung diikhtiarkan sebagai tujuan wisata.

“Sehingga, orang yang ke Banyuwangi tidak hanya untuk mengunjungi obyek wisata, namun juga untuk tujuan mempelajari khazanah budaya dan kesusastraan asli Banyuwangi. Menarik ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, sejumlah sastrawan Banyuwangi juga berbagi ilmu menulis sastra yang benar di media massa dan media cetak. Di antaranya, Samsudin Adlawi, menyajikan materi Etika menulis di Media Sosial.

“Meski akun pribadi, tapi apa yang kita tulis hendaklah yang berfaedah. Contohnya menulis karya sastra, sehingga bisa menginspirasi orang lain,” ungkap Samsudin.

Dan yang penting kata Samsudin, untuk menghasilkan karya sastra yang baik, harus rajin membaca.

“Bisa ditargetkan berapa buku yang harus kita baca dalam satu bulan untuk memperluas wawasan,” kata Samsudin.

Selanjutnya ada Muhammad Iqbal Baras, yang membedah bukunya Mawar Gandrung. Terakhir ada Bambang Lukito yang menyampaikan materi Pengaruh Sastra dan Budaya terhadap pengembangan Pariwisata.

Even yang masuk agenda Banyuwangi Festival 2019 ini dibuka Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko. Festival ini diikuti 700 penggiat, pecinta sastra se Banyuwangi. Mulai pelajar, guru, mahasiswa hingga budayawan.

“Kegiatan ini merupakan salah satu media yang sangat positif bagi perkembangan kreativitas, di samping sebagai sarana penyaluran bakat siswa,” kata Wabup Yusuf.

Menurutnya, menulis dan membaca dinilainya sangat penting dan ini akan bisa menjadi inspiratif semua orang.

“Dengan membaca akan terbentuk kemampuan berfikir yang lebih berkualitas melalui suatu proses, seperti, menangkap gagasan, informasi serta dapat memahami, mengimajinasikan, mengekspresikan dan selanjutnya menjadi lebih kreatif,” papar Wabup Yusuf.

Festival sastra ini digelar dalam rangkaian acara. Satu minggu sebelumnya diisi dengan lomba menulis cerpen tingkat SLTP dan SLTA.

“Inilah waktunya, penggemar sastra, para pembaca bertemu dengan penulis dan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan. Sekaligus even ini juga wadah bagi pelajar untuk mengembangkan potensi dirinya dalam kesusasteraan,” ujar Wabup Yusuf.

Wabup Yusuf berpesan, inilah waktunya, penggemar sastra, para pembaca bertemu dengan penulis dan saling berbagi pengalaman dan pengetahuan.

“Sekaligus even ini juga sebagai wadah bagi pelajar untuk mengembangkan potensi dirinya dalam kesusasteraan,” pungkas Wabup Yusuf.

Loading...

There were no listings found.