Sentra Produsen Manisan di Pesucen

0
292

sentraLaris Jelang Lebaran, Dukanya Kerap Disengat Lebah


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

SIANG itu, sejumlah wanita lanjut usia sibuk mengaduk buah pala. Buah yang menjadi salah satu manisan wajib bagi masyarakat Banyuwangi ini ternyata tidak mudah membuatnya. Kesibukan membuat manisan terlihat di Desa Pesucen, Kecamatan Kalipuro. Proses pembuatan manisan pala cukup panjang. Apalagi jika kondisi hujan seperti sekarang ini, prosesnya semakin rumit. ”Sebelum membuat pala, harus berutang gula dulu kepada salah satu pemilik toko.

Harga untuk satu kilogram gula Rp 11.000,’’ ujar Asanah, 70, salah satu pembuat manisan pala dari Pesucen. Asanah mendapatkan buah pala dari Wangkal dan Papring, Kecamatan Kalipuro. Dia membeli buah pala seharga Rp 50 ribu untuk 850 butir. Selanjutnya buah pala dikupas kemudian diiris sesuai ukuran, selanjutnya direbus. Seusai direbus buah pala dikeringkan agar airnya berkurang. 

Tahapan berikutnya, buah pala diaduk dengan gula. Takaran untuk satu kwintal buah pala sama dengan satu kwintal gula. Sehingga perbandingannya 1:1. Buah pala yang telah diaduk dengan gula, selanjutnya dijemur sampai kering. Jika sudah benar-benar kering, baru buah pala siap dibungkus untuk dipasarkan. Dari setiap proses, bisa memakan waktu sampai tiga hari.

Sehingga dirinya dan beberapa pembuat manisan lain di kawasan sekitar Masjid Desa Pesucen itu harus pintar mencari waktu untuk membuat manisan pala. Untuk harga satu kilogram manisan pala, jika membeli langsung dari produsen, maka bisa memperoleh harga Rp 20 ribu per Kg. Namun, jika membeli pada pengepul paling murah Rp 23 ribu untuk satu Kg.”Manisan buah pala selain bisa dijual dalam kondisi utuh, bagian-bagian yang kecil atau rontokannya juga masih laku dijual,’’ ujar Asanah.  

Asiyah, 48, produsen manisan lain menuturkan, untuk rontokan dihargai Rp 17 ribu per Kg. Menurut dia, buah pala memiliki nilai jual yang bagus. Kulit dan bijinya pun biasanya oleh Aisyah dan Asanah dijual ke pasar usai semua manisannya laku. Bikin buh pala tentunya banyak suka dan dukanya. Sukanya, jelang Lebaran ini banyak pesanan. Bahkan, beberapa warga dari desa tetangga banyak yang membeli manisan dan jumlah besar.

Tak jarang para produsen kerap disengat lebah yang mengelilingi pala. Buah pala yang sudah direndam kadang mengundang tawon untuk hinggap. Namun, dia bersyukur karena dengan berjualan manisan pala bisa dapat uang untuk Lebaran. ”Hasilnya tidak besar, tapi tidak apa-apa yang penting bisa mengisi toples, membeli ayam untuk lauk, dan memberi uang kepada anak-anak kecil saat Lebaran,” aku Asanah.  

Selain membuat manisan pala, Asanah dan Aisyah juga membuat manisan buah cerme dan buah asam. Untuk buah cèrme harga pembuatannya cukup mahal. Harga untuk buah cèrme biasanya dibeli per ember. Untuk satu ember dihargai Rp 30 ribu rupiah. Berat buah cerme satu ember sekitar empat kilogram. Sebelum diolah, menurut Aisyah, buah cerme harus diburuhkan untuk digilas berulang-ulang. Hal inilah yang menurut Aisyah membuat proses pembuatan manisan cukup mahal.

Sebenarnya ada perkumpulan pembuat manisan di desanya. Namun, selama ini yang diundang ikut pertemuan di kecamatan adalah orang-orang yang dipilih. “Tidak tahu siapa saja yang diundang dalam kumpulan pembuat manisan di kecamatan. Kami tidak meminta diundang, yang penting manisan yang kita buat tetap laku dan lancar,” kata Aisyah. (radar)

Loading...