Suara Demy Menyusup ke Kokpit

0
1486

“SAYA request lagunya Demy tutupe Wirang. Kalau nggak ada kesekso kangen juga boleh”. Permintaan lagu di sebuah radio komunitas itu tiba-tiba masuk ke kokpit pesawat latih Cessna 125 yang dipiloti anak-anak Sekolah Pilot Banyuwangi.

Padahal saat itu sang pilot sedang  serius komunikasi dengan ATC Bandara Blimbingsari. Gangguan radio komunitas itu juga kerap dirasakan pilot yang  menerbangakan pesawat rute Bali-Banyuwangi maupun Banyuwangi-Surabaya.

Beberapa waktu lalu, seorang pilot pesawat Garuda jenis ATR 72-600, Daud, mengalun tidak ada kendala selama menerbangkan pesawat pabrikan Prancis tersebut.  Semua lancar-lancar saja. Dia juga mengaku senang karena penumpang rute surabaya-Denpasar-Banyuwangi cukup bagus. ‘Bagus. Semuanya bagus, Cuaca juga bagus,” ujar Daud yang kala itu memiloti pesawat bernomor penerbangan GA4301 rute Denpasar- Banyuwangi-Surabaya.

Meski mengaku lancar menerbangkan pesawat Garuda dengan kapasitas 75 seat itu lancar, Daud sempat terusik dengan frekuensi radio komunikasi. Frekuensi liar tersebut diketahui berasal dari beberapa frekuensi radio komonitas (rakom).

“Frekuensi liar itu perlu ditertipkan agar tidak menggangu komunikasi penerbangan,” keluhnya kala itu. Masuknya request lagu tersebut jelas menganggu jalur penabangan. Kondisi seperti ini sering dialami oleh semua pilot maupun para calon penerbang di SPB.

Untuk menghindari gangguan frekuensi, calon pilot SPB menerbangkan pesawat di atas ketinggian 3.50o meter. “Dibawah 3000 meter masih ada gangguan frekuensi radio komunitas. Ganguan ketika hendak landing maupun take oof,” ujar Ade Sugandi  Kepala Kurikulum SPB dihubungi kemarin.

Terkait munculnya gangguan frekuensi itu, jauh hari pihak SPB sudah nelaporkan ke pihak bandara. Namun, sampai sekarang belum ada sosialisasi kepada pemilik radio komunitas. Ade mengakui keberadaan radio komunitas disekitar bandara itu cukup mengganggu penerbangan.

“Harus ada pengawasan terhadap radio komunitas. Padajam-jam tertentu mereka dibolehkan on air. Pukul 08.00 sampai 15.30 dilarang on air karena sibuk-sibuknya penerbangan,” saran Ade. Selain gangguan frekuensi radio komunitas, maraknya jaringan tower seluler diskitar bandara juag menggaanggu.

Harus ada pengkajian ulang terhadap keberadaan tower seluler tersebut. “Saya sudah menelepon Pak Ali Ruchi (pejabat Dishubkominfo Banyuwangi) agar mengkaji ulang pendirian tower di sekitar bandara,” tandas Ade.

Kepala Bandara Kelas III Blimbingsari, Banyuwangi Sigit Widodo mengaku belum ada ganguan berarti akibat radio komunitas. Meski begitu, keberadaannya harus tetap diwaspadai. Yang membahayakan jika gelombang yang digunakan  adalah milik bandara,” imbuhnya. (radar)