Suhartono, Seniman Patung Asal Banyuwangi

0
181

suhartonoMaket Pertama Langsung Disetujui Presiden Soekarno
LULUS dari Sekolah Guru Atas (SGA) atau setingkat SPG, Suhartono berniat untuk melanjutkan pendidikannya di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Jogjakarta (sekarang ISI). Begitu lulus dari SPG, Suhartono sempat mempertimbangkan untuk menjadi guru. Di benak pria kelahiran 3 September 1943 itu, menjadi seorang guru mempunyai tanggung jawab yang besar. ‘Seorang guru harus bisa membawa muridnya dari salah menjadi benar, dari baik menjadi buruk, dari tidak bisa apa-apa menjadi bisa.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Saya merasa sangsi bisa menjadi guru seperti itu,” cerita Suhartono saat ditemui koran ini di pameran seni rupa di Gedung Wanita Paramita Kencana, kemarin (29/11). Selama belajar di SGA, Suhartono tetap menekuni hobinya melukis atau membuat patung. Salah satu gunanya yang dekat dengannya kemudian mengaxaldmn Stlhartono untuk melanjutkan ke ASRI Jogjakarta. Setelah mempertimbangkan, Suhartono memutuskan untuk melanjutkan di ASRI Jogjakarta. Keinginannya masuk ASRI bukan tanpa halangan.

Ayahnya saat itu sempat menghalangi niatnya untuk belajar di akademi kesenian tersebut. “Mungkin ayah saya, pesimistis dengan langkah yang saya ambil karena waktu itu di ASRI belum ada titel (gelar),” ujar pria empat anak ini. Di mata ayahnya, poret kehidupan seorang pelukis jauh dari kata sederhana. Hidupnya susah, cari makan pun sulit. ‘Apa kamu mau jadi seperti dia?”kenang Suhartono menirukan ucapan ayahnya saat itu. Meski keinginannya sebagai pelukis tidak di setujui orang tua, Suhartono tetap bersikeras mempertahankan niatnya tersebut.

Diapun memberikan berbagai alasan kepada ayahnya. Akhirnya sang ayah dengan setengah hati mengiyakan permintaan Suhartono. “Uang ditaruh di meja. Terus dia bilang iya sudah kamu berangkat sana (Jogjakarta, Red),” ujar Suhartono terkekeh menirukan ekspresi ayahnya kala itu. Tahun 1963, Suhartono resmi menjadi mahasiswa di ASRI Jogjakarta. Niatnya goyah ketika mengetahui kawan-kawannya memiliki kemahiran berseni. “Kawan-kawan saya itu lulusan ASRI, sedangkan saya lulusan SGA.

Mereka sudah ada basic, jauh beda dengan saya yang harus memulai segalanya dari nol, ungkapnya. SESRI adalah sekolah seni rupa tingkat SMA pada zaman itu. Suhartono beruntung mendapat kawan-kawan yang kooperatif. Kawannya menawarkan kepada Suhartono untuk tidak segara meminta mereka untuk belajar bersama. Tak pelak, baru dua tahun menjadi mahasiswa di jurusan seni patung, Suhartono diminta untuk membuat maket patung oleh dosennya, Edy Sunarso.

Ternyata, maket tersebut di ajukan ke Presiden Soekarno guna memenuhi keinginannya menambah koleksi senirupa di hotel-hotel ternama Indonesia. “Saat itu, saya di minta untuk membuat maketnya, setelah di serahkan ke Presiden oleh dosen saya, langsung disetujui,” ujarnya bangga. Patung pertama buatan Suhartono berbentuk ibu dan anak yang sekarang di pajang di Hotel Ambarukmo. Kemudian, dosennya memintanya untuk bergabung ke dalam tim pembuat seni rupa permintaan Presiden.

Ia bersama sembilan kawannya yang terdiri dari mahasiswa jurusan seni rupa lukis, seni rupa patung dan seni reklame sering mendapatkan mandat untuk membangun diorama monumen nasional. Pada tahun yang sama, ia bersama timnya, masih berdasarkan permintaan Presiden membuat patungdi dua hotel ternama Indonesia, yakni patung Pancoran di Bundaran Hotel Indonesia (HI) di Jakarta dan hotel Bali Beach di Bali.

Pada tahun yang sama, timnya juga turut melaksanakan pembuatan monumen kepahlawanan Aru di Jakarta. Pada saat itu (tahun 1964) statusnya Suhartono bersama sepuluh mahasiswa lainnya (gabungan dari mahasiswa jurusan seni lukis dan seni rupa patung) dibawah komando dosennya, Edy Surarso. Mereka mendapat perintah dari Presiden Soekarno untuk mengisi hotel negara dengan karya seni rupa mereka.

Di antaranya, Hotel Ambarukmo di Jogjakarta, Hotel Bali Beach di Bali dan Hotel Indonesia Pada tahun 1966, ia bersama timnya kembali mendapatkan tugas dari Presiden untuk membuat diorama di monumen nasional (monas). Bersama tim, Suhartono selesai membuat 36 maket patung untuk diorama di monas. Namun, pembangunan sempat terhenti karena aksi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI). “Saat itu kami berhasil membangun 6 sampai 9 patung saja,” ujarnya.

Mengisi kekosongan waktu tersebut, Suhartono bersama kawan-kawannya memiliki inisiatif untuk mambuat monumen lubang buaya. “Entah mengapa, kami hanya yakin, peristiwa lubang buaya ini akan menjadi salah satu sejarah besar bagi bangsa kita yang perlu di abadikan,” tambahnya. Ia membuat maket monumen lubang buaya untuk kemudian diserahkan ke Jendral Jono dari Angkatan Darat yang saat itu menjembatani mereka dengan Soeharto yang saat itu masih menjabat menjadi Jendral TNI AD.

Bersamaan dengan waktu kelulusannya, ia merampungkan proyek pembuatan monomen lubang buaya tahun 1968. Suhartono akhirnya lega bisa lulus kuliah walaupun beberapa kali sempat tersendat karena proyek yang ditanganinya. Tapi Suhartono mengakui, ia bisa menghidupi dirinya sendiri dari honor proyek yang didapatkan. “Ya bisa di bilang saya kuliah sambil kerja, makanya saya lulus tidak tepat waktu,” terangnya. Dua tahun setelah kelulusannya merupakan masa-masa sulit bagi seniman.

“Ya setelah peristiwa G 30SPKI itu, ekonomi negara kacau balau, susah mendapatkan penghasilan,” cerita kakek enam cucu Setelah itu ,pada tahun 1971, ia mulai bekerja di Direktorat Kesenian di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud sebagai Kepala Seksi (Kasi) Seni Patung. Meski menjabat menjadi pegawai negeri sipil (PNS), Suhartono tetap bisa membagi waktunya untuk menggarap proyeknya di luar pemerintah. “Jadi siang saya kerja di kantor malamnya saya mengerjakan proyek di luar tugas,” jelasnya.

Dari masa bekerja hingga masa pensiunnya saat ini, ia masih berkarya, ia pernah membuat patung beberapa tokoh nasional seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo dan Sayuti Melik di musium proklamasi Tahun 2010 lalu, ia mendapat proyek dari keluarga cendana untuk membuat patung Presiden Soeharto.”Yang tiga sudah selesai yakni saat patung dada Pak Harto setinggi 3,5 meter kemudian saat Pak Harto mengenakan pakaian kenegaraan bersama Bu Tin. Yang lainnya saat Pak Harto menunggang kuda, masih banyak lagi, sekarang masih dalam proses penyelesaian di studio rumah saya,” jelasnya.

Pengalaman berharga bagi Suhartono adalah saat membuat patung tokoh nosional. Ia meminta perwakilan keluarga tokoh nasional untuk datang dan mengkritik karyanya. “Ya, saat membuat patung Pak Karno, Pak Hatta dan Pak Sajuti Melik tahun 1990 itu, anak Pak Karno, Soekmaxvati, istri Pak Hatta, Bu Mutia Hatta dan istri Pak Sajut Melik datang untuk membetulkan detil patung almarhum yang aya buat,” jelasnya. Sekadar diketahui, Suhartono menetap di Jakarta Selatan sejak tahun 1971. November ini ia pulang ke Banyuwangi untuk mengikuti Pameran Serti Rupa yang digelar untuk merayakan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang ke-234 di Gedung Wanita Paramita Kencana.

Dalam kesempatan ini, ia membuat patung gadis bersimpuh membawa topeng gandrung dari bahan Patung tersebut ia beri judul “melestarikan”. Menurut Suhartono, maksud dari patung tersebut menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Banyuwangi mau belajar tari gandrung untuk melestarikan tari legendaris asal Bumi Blambangan. “Ya itu menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Banyuwangi terus melestarikan tarian gandrung. Posisi bersimpuh di situ bermaksud bahwa ,pemuda pemudi Banyuwangi dengan rendah hati menerima warisan budaya yang di simbolkan dengan topeng gandrung itu sendiri, tutupnya (radar)

Loading...