Tak Boleh Klaim Kebenaran

0
205

takUlama (NU) yang dikenal sebagai pengikut paham ahlussunnah wal jamaah diharapkan lebih memperdalam akidah yang dicetuskan Imam Abu Hasan Al Asy’ary. Sehingga, mereka bisa menjalankan ajaran tersebut secara benar. Hal itu terungkap dalam seminar bertema melestarikan tradisi Aswaja di Indonesia. Acara yang diselenggarakan Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Glenmore itu menghadirkan narasumber Pimpinan Pusat Rabitoh Maahidil Islamiah (RMI) Jakarta, KH. Hudri Arif, dan Pengasuh Pesantren Bahrul Hidayah, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, KH. Ali Maki Zaini.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Ra Hudri menuturkan, bicara tentang Aswaja sebenarnya bukan hanya persoalan fiqih  melainkan tauhid dan tasawuf. “Selain itu, lahirnya Aswaja sebagai sebuah paham atau aliran tidak berdiri sendiri, tapi ada latar belakang politik yang mendahuluinya,” katanya. Kiai asal Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, itu juga menjelaskan, belakangan ini banyak kelompok Islam tertentu yang mengklaim dirinya paling benar di antara kelompok yang lain. Hal itu sering kali membuat hubungan antar umat Islam kurang harmonis.

“Mestinya tidak perlu mengklaim paling benar, karena kebenaran mutlak hanya milik Tuhan,” tandas Ra Hudri dalam acara yang dimoderatori  Abdul Azis, kepala biro Radar Genteng Jawa Pos Radar Banyuwangi itu kemarin.  Sementara itu, Gus Maki—sapaan akrab Ali Maki Zaini—menambahkan  bahwa memahami Aswaja harus dilakukan secara menyeluruh, baik tauhid, fi qih maupun tasawuf-nya. Kalaupun banyak warga NU  yang lebih tertarik mempelajari fiqih Aswaja, terutama Imam Syafi ’i, hal itu karena pembawa ajaran Islam di Indonesia pada zamannya dulu banyak yang bermazhab Syafi ’i.  (radar)

Loading...