Tergiur Penggandaan Uang, Rp 45 Juta Melayang

0
425
TERDAMPAR DI MUNCAR: Dwi Astuti (kanan) mendengarkan pengarahan Sri Purnanik di Balai Desa Sumber Beras, Kecamatan Muncar, kemarin.
TERDAMPAR DI MUNCAR: Dwi Astuti (kanan)
mendengarkan pengarahan Sri Purnanik di Balai Desa Sumber Beras, Kecamatan Muncar, kemarin.

MUNCAR – Sungguh malang nasib Dwi Astuti, 48. Perempuan yang berdomisili di Desa Lubuk Banja, Kecamatan Lubuk Raja, Kabupaten Oku, Sumatrea Selatan, itu menjadi korban penipuan. Dia pun kehilangan uang puluhan juta rupiah. Tidak hanya itu, istri Maryoto, 37, itu juga terdampar di Banyuwangi. Kini, ibu tiga anak tersebut diamankan di rumah warga di Desa Sumber Beras, Kecamatan Muncar.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Kepada wartawan koran ini, perempuan berkerudung itu mengaku ditipu dua orang yang mengaku bernama Karim dan Halimah. Disaksikan Kepala Desa Sumber Beras, Sri Purnanik, dan Iphong Poniyahadi, Dwi pun menceritakan nasib yang menimpanya. Saat itu, dia menyerahkan uang tunai Rp 45 juta kepada dua orang tersebut. Konon, uang tersebut bisa berlipat menjadi 2 miliar. “Uang saya katanya bisa digandakan,” aku Dwi di Balai Desa Sumber Beras kemarin.

Loading...

Awalnya, dia mendapatkan uang tersebut dari orang tuanya. Rencananya uang tersebut untuk membeli tanah. “Uang itu dikasih bapak waktu di Brebes, Jawa Tengah. Uang ditransfer lewat kantor Pos atas nama saya sendiri. Baru saya ambil saat saya di Sumatera,” ungkap Dwi. Dia mengambil uang tersebut tanggal 4 November 2012. Sesaat setelah diambil, dia didatangi dua orang yang menawarkan penggandaan uang. “Anehnya, saya nurut begitu saja. Waktu memberikan uang, saya tidak sempat bertanya alamat mereka berdua,” sesalnya.

Beberapa pekan kemudian, dua orang tersebut mengajak ke Pulau Jawa untuk melakukan ritual. Lokasi pertama berada di kawasan pantai Karang Bolong, Kebumen, dan diajak ke makam Mbah Jugo, Malang. “Tapi ritual di dua tempat itu tidak berhasil,” ujarnya. Selanjutnya, dia diajak ke Banyuwangi, tepatnya ke makam Mbah Datuk. Dia baru menyadari tertipu setelah dua orang tersebut menghilang. ‘’Saya baru sadar waktu ada di Masjid hari Senin kemarin (10/12),” aku warga asli Brebes itu.

Merasa ditipu mentah-mentah, dia memutuskan mencari temannya waktu sama-sama berada di Malaysia. Namanya Istiqomah dan beralamat di Kecamatan Genteng. ‘’Dalam perjalanan naik bus, saya ketemu bapak ini (Iphong Poniyahadi, red). Lalu, saya diajak ke rumahnya,” terangnya. Iphong yang notabene ketua LSM Sorod mengaku prihatin atas musibah yang menimpa perempuan tersebut. Sebab, perempuan tersebut sudah kehabisan bekal. “Nggak punya uang, mau ke rumah temannya dan alamatnya nggak jelas. Makanya sementara saya ajak ke rumah, tidur dengan istri saya,” tutur Iphong. (radar)

Lanjutkan Membaca : 1 | 2