Tidak Pasang Tarif, Bisa Berangkat Umrah Bersama Istri

0
133

RUMAHNYA yang berada di tikungan jalan raya Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon, Kecamatan Singojuruh, tidak terlalu mewah. Rumah itu hampir setiap hari ramai dikunjungi tamu dari  berbagai daerah di Banyuwangi. Dari tepi jalan raya, terlihat mobil dan  lima motor parkir di halaman rumah  yang berukuran sembilan meter kali 20 meter itu.

Para tamu yang memarkirkan kendaraannya itu, adalah mereka yang sedang mengantri untuk mendapatkan jasa layanan pijat. Sebagian besar diantara mereka, membawa anaknya yang masih balita.  Tamu yang datang dan pulang silih berganti. Dari kejauhan, terdengar suaraanak-anak menjerit kesakitan dan menangis.

Satu per satu, orang tuanya antre sembari menenangkan anaknya yang menangis. Suara tangis itu dari  dalam ruangan milik Sunandi, salah seorang tukang pijiat balita di Dusun Sukorejo, Desa Lemahbang Kulon Hampir setiap hari, Sunandi menerima tamu yang datang dari berbagai desa  atau kecamatan di Banyuwangi.

Bahkan,  juga ada yang datang dari luar Banyuwangi, seperti Lumajang, Situbondo, Jember, dan Bondowoso. Profesi sebagai tukang pijat balita, sudah dilakoni Sunandi sejak tahun  1970. Pada awalnya, orang yang minta dipijat cukup sedikit. “Kalau dulu tamu  yang datang hanya warga desa sini, dan masih belum banyak orang yang tahu,”  katanya.

Sejak masih muda, Sunandi mengaku  tidak pernah menyangka bakal menjadi tukang pijat balita. Awal dia menjadi tukang pijat itu secara alamiah. Saat  itu, dia masih bekerja sebagai buruh  tani,. Di sela-sela bekerja di sawah, ada salah seorang balita terjatuh dari pohon kopi saat bermain.

Karena anak itu terus menangis dan  menjerit kesakitan, dia pun berinisiatif  menolong dengan memijat bagian kaki, dan meminta agar orang tua balita itu  mengambil dua siung bawang puting.  “Saya pijat menggunakan dua siung bawang putih, alhamdulillah si anak  langsung mendingan,” katanya.

Berselang beberapa hari setelah kejadian itu, kedua orang tua balita yang dipijat tersebut datang mengunjungi rumahnya  sambil membawa sejumlah kebutuhan rumah tangga, seperti gula, beras dan ayam. Karena saat itu murni menolong dan ikhlas, hadiah yang dibawa orang tua balita itu pun dikembalikan.

“Saya terima, tapi pulangnya saya bawakan  lagi. Gimana mau nerima lha wong  sama-sama buruh tani,” kenangnya. Sejak itulah, dari mulut ke mulut namanya mulai dikenal masyarakat sebagai tukang pijat. Bahkan, dalam berbagai kesempatan juga menolong tetangga desa, mulai dari kecapekan, otot kaku, keseleo, salah urat, dan terkilir.

Dan kini namanya semakin moncer. Dalam setiap hari, Sunandi mengaku bisa menerima rata-rata hingga 30 balita yang datang untuk pijat. Meski terkenal  sebagai tukang pijat balita, dia juga kerap dimintai tolong untuk pijat orang dewasa  dengan keluhan kecapekkan, otot kaku,  keseleo, salah urat, dan terkilir.

Setiap balita yang datang memiliki keluhan beragam. Bahkan, dia juga pernah menangani anak yang sudah tak berdaya dan dan nyaris sekarat. Dalam melakukan pijatan kepada balita, Sunandi mengaku tidak memiliki mantra khusus, sebagai muslim yang taat, dia hanya  membaca basmalah dan selawat nabi.

Sejak awal menjadi tukang pijat balita, Sunandi tidak pernah memasang tarif.  Apa yang dilakukan adalah bentuk ibadah. Tak jarang, Sunandi juga kerap menolak  pemberian uang dari jasanya memijat, terlebih jika yang dipijat itu anak yatim  dan anak fakir miskin.

Dari keikhlasan, keuletan, dan  ketekunannya itu, dia bersama istrinya Midah berhasil berangkat umrah ke tanah suci Makah pada tahun 2015.  “Semua adalah pertolongan Allah, saya  hanya perantara saja,” terang bapak tiga anak itu. (radar)

Loading...