sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) kian mendekati fase krusial.
Pemerintah mulai mempercepat proses pembebasan lahan dan pembayaran uang ganti rugi (UGR) demi mengejar target pembangunan yang dijadwalkan mulai 2026 dan rampung pada 2029.
Saat ini, fokus percepatan pembebasan lahan diarahkan ke Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
Dua wilayah tersebut menjadi kunci karena masuk dalam trase pertama Tol Getaci Tahap 1 Segmen Gedebage–Tasikmalaya, yang akan menjadi pintu awal konstruksi megaproyek penghubung Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Getaci II, Muhammad Hidayat Satria Adi, menjelaskan bahwa penyelesaian pembebasan lahan di Bandung dan Garut menjadi prioritas utama.
Setelah itu, percepatan akan dilanjutkan ke wilayah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.
“Wilayah Bandung dan Garut harus segera tuntas karena menjadi segmen awal pembangunan. Setelah itu, fokus kami bergeser ke Tasikmalaya,” ujarnya.
Target Lelang 2026, Operasi 2029
Tol Getaci dijadwalkan masuk tahap lelang dan konstruksi pada 2026. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Willan Oktavian, menyebut proyek ini akan dibangun bertahap.
“Sementara ini fokusnya Gedebage–Tasikmalaya, baru kemudian dilanjutkan Tahap 2 Tasikmalaya–Cilacap,” kata Willan dalam acara ICI 2025 di Jakarta.
Secara keseluruhan, Tol Getaci memiliki panjang 206,65 kilometer.
Rinciannya, Tahap 1 Gedebage–Tasikmalaya sepanjang 95,52 km, dan Tahap 2 Tasikmalaya–Cilacap sepanjang 111,13 km.
Rute Tahap 1 akan melintasi Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, hingga berakhir di Kota Tasikmalaya.
Ribuan Bidang Lahan Sudah Dibebaskan
Hingga November 2025, progres pembebasan lahan di wilayah Garut menunjukkan perkembangan signifikan.
Tercatat sekitar 2.200 bidang lahan terdampak proyek Tol Getaci di Kabupaten Garut telah berhasil dibebaskan.
Page 2
Data hasil validasi juga menunjukkan terdapat 97 desa dan kelurahan di Bandung, Garut, Tasikmalaya, dan Kota Tasikmalaya yang akan terdampak langsung dan berhak menerima uang ganti rugi (UGR).
Bagi banyak warga, proyek ini tidak hanya membawa perubahan infrastruktur, tetapi juga membuka peluang “ganti untung”.
Nilai UGR ditetapkan berdasarkan appraisal independen yang mempertimbangkan harga pasar, bangunan, tanaman, hingga potensi ekonomi lahan.
Daftar Wilayah Penerima UGR Tol Getaci
Di Kabupaten Bandung, Tol Getaci melewati 28 desa di 6 kecamatan, mulai dari Bojongsoang, Rancaekek, Solokan Jeruk, Paseh, Cikancung, hingga Cicalengka.
Sementara di Kabupaten Garut, trase tol melintasi 7 kecamatan dan 37 desa, termasuk Kadungora, Leles, Leuwigoong, Banyuresmi, Karangpawitan, Garut Kota, dan Cilawu.
Masuk ke Kabupaten Tasikmalaya, tol akan melewati 8 kecamatan dan 17 desa, di antaranya Salawu, Cigalontang, Padakembang, Leuwisari, dan Singaparna.
Adapun sebagian wilayah Kecamatan Manonjaya akan terdampak pada Tahap 2 segmen Tasikmalaya–Cilacap.
Untuk Kota Tasikmalaya, trase Tol Getaci Tahap 1 melintasi 4 kecamatan dan 15 kelurahan, yakni Mangkubumi, Kawalu, Cibeureum, dan Tamansari.
Titik akhir Tol Getaci Tahap 1 berada di Kecamatan Kawalu. Karena itu, pembayaran UGR untuk wilayah Cibeureum dan Tamansari akan dilakukan pada Tahap 2.
Ganti Untung dan Dampak Ekonomi
Selain mempercepat konektivitas antarwilayah, proyek Tol Getaci juga digadang-gadang membawa multiplier effect ekonomi.
Warga pemilik lahan terdampak tidak hanya menerima kompensasi, tetapi juga berpeluang meningkatkan taraf hidup melalui nilai ganti rugi yang kompetitif.
Dengan proses pembebasan lahan yang terus dikebut, pemerintah berharap tidak ada hambatan berarti saat konstruksi dimulai.
Jika berjalan sesuai rencana, Tol Getaci akan menjadi salah satu proyek jalan tol terpanjang di Indonesia dan menjadi tulang punggung baru konektivitas selatan Pulau Jawa.
Bagi masyarakat di sepanjang trase, Tol Getaci bukan sekadar jalan tol, melainkan momentum perubahan—baik dari sisi akses, nilai lahan, hingga peluang ganti untung yang kini kian nyata. (*)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) kian mendekati fase krusial.
Pemerintah mulai mempercepat proses pembebasan lahan dan pembayaran uang ganti rugi (UGR) demi mengejar target pembangunan yang dijadwalkan mulai 2026 dan rampung pada 2029.
Saat ini, fokus percepatan pembebasan lahan diarahkan ke Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
Dua wilayah tersebut menjadi kunci karena masuk dalam trase pertama Tol Getaci Tahap 1 Segmen Gedebage–Tasikmalaya, yang akan menjadi pintu awal konstruksi megaproyek penghubung Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Getaci II, Muhammad Hidayat Satria Adi, menjelaskan bahwa penyelesaian pembebasan lahan di Bandung dan Garut menjadi prioritas utama.
Setelah itu, percepatan akan dilanjutkan ke wilayah Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.
“Wilayah Bandung dan Garut harus segera tuntas karena menjadi segmen awal pembangunan. Setelah itu, fokus kami bergeser ke Tasikmalaya,” ujarnya.
Target Lelang 2026, Operasi 2029
Tol Getaci dijadwalkan masuk tahap lelang dan konstruksi pada 2026. Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), Willan Oktavian, menyebut proyek ini akan dibangun bertahap.
“Sementara ini fokusnya Gedebage–Tasikmalaya, baru kemudian dilanjutkan Tahap 2 Tasikmalaya–Cilacap,” kata Willan dalam acara ICI 2025 di Jakarta.
Secara keseluruhan, Tol Getaci memiliki panjang 206,65 kilometer.
Rinciannya, Tahap 1 Gedebage–Tasikmalaya sepanjang 95,52 km, dan Tahap 2 Tasikmalaya–Cilacap sepanjang 111,13 km.
Rute Tahap 1 akan melintasi Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, Kabupaten Tasikmalaya, hingga berakhir di Kota Tasikmalaya.
Ribuan Bidang Lahan Sudah Dibebaskan
Hingga November 2025, progres pembebasan lahan di wilayah Garut menunjukkan perkembangan signifikan.
Tercatat sekitar 2.200 bidang lahan terdampak proyek Tol Getaci di Kabupaten Garut telah berhasil dibebaskan.








