Turis Kanada Takjub Kesenian BWI

  • Bagikan

turrisPentas Seni Ditonton 80 Dosen Unair

BANYUWANGI – Pentas kesenian tradisional yang digeber rutin setiap Sabtu malam di Taman Blambangan, Banyuwangi, semakin mendapat tempat di hati masyarakat. Seperti yang terlihat Sabtu malam kemarin (3/5). Meski di depan Gedung Seni dan Budaya (Gesibu) Blambangan digeber pentas musik populer, namun sekitar seribu warga memilih menyaksikan pentas seni yang kali ini menampilkan janger dan aneka tari tradisional yang dibawakan grup “Kharisma Dewata Banyuwangi” asal Kecamatan Muncar tersebut.

Tua, muda, laki-laki dan perempuan tumplek-blek di depan panggung pertunjukan Sabtu malam itu.Bahkan bukan hanya warga lokal, turis mancanegara yang tengah pelesir di kabupaten ujung timur Pulau Jawa, ini pun lebih memilih menyaksikan pentas seni tradisional tersebut. Eric, turis asal Ontario, Kanada, yang datang ke Banyuwangi mengaku benar-benar terkesima dengan pertunjukan janger berjudul Luthung Kamandaka tersebut. 

Eric menonton pertunjukan seni tradisional di Taman Blambangan bersama sang istri yang juga pengajar Program Studi (Prodi) Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Bandung (ITB), Teti A. Argo. Menurut Eric, pertunjukan janger dan tari-tarian tradisional yang dia saksikan malam itu sangat spesial. Dia mengaku sangat suka dan menikmati tontonan tersebut. “I like it. It’s very entertaining. (Saya suka pertunjukan ini. Ini sangat menghibur, Red),” ujarnya.

 Bagi Eric, gerakan para penari sangat indah. Dia juga mengaku terkesan dengan antusiasme penonton. “It’s amazing.
(Ini luar biasa),” cetusnya. Yang lebih membanggakan, pertunjukan seni tradisional malam itu juga ditonton oleh 80 dosen dan guru besar Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Sama halnya dengan Eric, para guru besar dan dosen Unair yang datang ke lokasi pertunjukan bersama Bupati Abdullah Azwar Anas, juga tampak sangat menikmati hiburan Sabtu malam tersebut. 

Sementara itu, saat didaulat memberikan sambutan, Bupati Anas mengaku bangga dengan kenyataan yang dia lihat di lapangan. “Di belakang (depan Gesibu Blambangan) ada pentas musik rock. Tetapi anak-anak kita masih senang melihat seni tradisional kita,” cetusnya. Menurut Bupati Anas, meskipun Pemkab Banyuwangi gencar melakukan pembangunan daerah, tetapi pihaknya tetap memberi tempat spesial untuk para seniman lokal untuk menampilkan kreasinya.

 “Bandara kita bangun. Jalan kita bangun, tetapi kesenian kita tidak boleh tergusur darikemajuan pembangunan tersebut,” tegasnya. Setelah menyampaikan sambutan, Bupati Anas menyematkan udeng khas Banyuwangi kepada salah satu penabuh alat musik tradisional grup Kharisma Dewata Banyuwangi. “Udeng yang kemarin-kemarin itu salah. Mulai malam ini (Sabtu), mari diganti dengan udeng khas Banyuwangi,” ajaknya. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: