SINGOJURUH – Dianggap tak kunjung diperhatikan, sejumlah warga membangun rumah pengemis bernama Boimin, 60, yang tinggal di
Dusun Cantuk Lor, Desa Cantuk, Kecamatan Singojuruh. Warga membongkar bangunan yang hanya berbahan gedhek (anyaman bambu) itu mulai kemarin. Biaya pembangunan untuk kediaman pengemis tersebut ditanggung hanya satu warga. Hanya saja, pelaksanaan pembangunan adalah warga sekitar.
‘’Saya dibantu tetangga saya Robin. Sekarang orangnya jadi TNI AL di Jakarta,’’ kata Umaiyah, istri Boimin. Menurut dia, suaminya tengah mengais rezeki dengan cara mengemis di jalan-jalan. Sebab, tenaganya sudah kuat untuk bekerja. ‘’Suami saya ngemis di Rogojampi. Sudah sepuluh tahun ini ngemis gara-gara sakit stroke,’’ terang ibu dua anak itu. Dia mengaku, suaminya itu susah jalan lantaran kaki sebelah kanan sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.
Karena itu, berangkat dan pulang naik jasa ojek. ‘’Kadang nggak pulang semalam tidur di Terminal Rogojampi,’’ katanya. Boimin mengaku tidak pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah meski hidup serba kesulitan. Bahkan, dia pernah ditarik biaya materai agar rumah diplester pemerintah. ‘’Saya bayar Rp 14 ribu untuk materai. Tapi, nggak tahu sampai sekarang tidak dibangun-bangun,’’ sesalnya. Dia juga menyebut, pada tahun ini ikut Program Nasional Agraria (Prona) untuk pembuatan sertifi kat.
Meski biaya pengurusan tinggi, namun dia juga mengaku senang lantaran bisa bayar. ‘’Saya kena Rp 1.750 ribu, untung saya dibayar keponakan saya yang mengasuh anak kedua saya. Sekarang rumahnya di Pesanggaran,’’ sebutnya. Dia mengaku berterima kasih atas bantuan para tetangganya itu. Menurut dia, dirinya bersama suami tidak mungkin untuk memperbaiki rumah. ‘’Nggak mungkin bisa bangun rumah, untuk makan saja susah,’’ kata ibu dari Mardian, 12, dan Mila Rosa, 8 tersebut. (radar)




